Pantai Selatan Kulonprogo Diterjang Gelombang Tinggi

Kuntadi, Koran SI · Rabu 27 Mei 2020 14:42 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 27 510 2220359 pantai-selatan-kulonprogo-diterjang-gelombang-tinggi-TP2t24YJTj.jpg Foto Istimewa

KULONPROGO - Gelombang tinggi yang melanda Laut Selatan Jawa, telah menyebabkan kerusakan di sepanjang pantai di Kabupaten Kulonprogo, DIY. Kerusakan terparah terjadi di Pantai Trisik yang memorak-porandakan jembatan wisata yang terbuat dari bambu.

“Dua hari ini ombaknya cukup besar. Biasanya hanya dua meteran ini sudah mencapai enam meter,” kata Koordinator Pantai Trisik Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah V Kulonprogo, Jaka Samudra, Rabu (28/5/2020).

Di Pantai Trisik, ombak besar telah menghancurkan jembatan bambu wisata yang ada di selatan laguna. Jembatan ini hancur dihantam gelombang. Selain itu juga merusak lapak pedagang dan kolam renang. Kerugian ditaksir mencapai Rp200 juta.

“Yang paling parah jembatan wisata, beberapa lapak pedagang juga rusak,” ujar Jaka yang merupakan warga Dukuh Trisik.

 ombak

Gelombang pasang ini, sampai naik ke pantai dengan jarak luncuran mencapai 30 meter lebih. Sejumlah pedagang juga sudah menutup lapak dagangannya. Sedangkan perahu nelayan dibuat menjauh dari pantai.

“Kalau untuk wisata memang sudah ditutup sejak Covid-19,” ujar Jaka.

Meski ombak cukup besar, tidak membuat warga takut. Mereka yakin gelombang besar merupakan fenomena alam. Kondisi seperti ini terjadi setiap tahun, dan akan segera mereda.

“Kalau khawatir tidak, tetapi kita tetap waspada mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Mulyono warga Trisik.

Sementara itu di Pantai Bugel, Panjatan, ketinggian ombak mencapai 6 meter. Air pasang sempat naik ke pantai meski hanya sekitar 15 meter saja. Namun kondisi ini menyebabkan bibir pantai menjadi curam. Warga melihat sebagai kejadian biasa, dan ada kalanya Pantai Bugel kembali landai.

“Tahun lalu malah lebih besar, ini besar tetapi belum sampai mengenai warung,” ujar Yuli pedagang di Pantai Bugel.

Sementara itu bagi nelayan, mereka memilih untuk beristirahat. Perahunya sudah ditambatkan menjauh dari bibir pantai. Mereka memilih mengurus lahan pertanian yang sudah memasuki masa panen cabai.

“Kalau melaut itu bahaya, kita harus tunggu mereda,”ujar Rusijan, salah seorang nelayan.

(wal)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini