FH UGM Kecam Teror Dialami Mahasiswa karena Diskusi Pemberhentian Presiden

Tim Okezone, Okezone · Sabtu 30 Mei 2020 15:25 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 30 65 2222045 fh-ugm-kecam-teror-dialami-mahasiswa-karena-diskusi-pemberhentian-presiden-W1Fztm0Ybg.jpg UGM (Istimewa)

JAKARTA – Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengecam aksi intimidasi dan ancaman pembunuhan terhadap mahasiswanya karena menggelar diskusi Constitutional Law Society (CLS) bertajuk ‘Meluruskan Persoalan Pemberhentian Presiden Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan’.

Dekan FH UGM Prof. Sigit Riyanto mengatakan pihaknya mengapresiasi diskusi digelar kelompok diskusi ilmiah mahasiswa CLS pada 29 Mei 2020, sebagai wujud kebebasan akademik dan berpendapat.

“Mengecam sikap dan tindakan intimidatif terhadap rencana kegiatan diskusi yang berujung pada pembatalan kegiatan diskusi ilmiah tersebut. Hal ini merupakan ancaman nyata bagi mimbar kebebasan akademik, apalagi dengan menjustifikasi sepihak secara brutal bahkan sebelum diskusi tersebut dilaksanakan,” kata Sigit dalam keterangan tertulis diterima Okezone, Sabtu (30/5/2020).

“Fakultas Hukum UGM mendorong segenap lapisan masyarakat untuk menerima dan menghormati kebebasan berpendapat dalam koridor akademik, serta berkontribusi positif dalam menjernihkan segala polemik yang terjadi di dalam masyarakat.”

Sigit menjelaskan bahwa diskusi ilmiah itu murni kegiatan mahasiswa sesuai dengan minat dan konsentrasi keilmuannya di bidang hukum tata negara.

 ilustrasi

Universitas Gadjah Mada (Okezone)

Mahasiswa sempat membuat poster diskusi yang tersebar dan beredar viral pada 28 Mei 2020 dengan judul ‘Persoalan Pemecatan Presiden di tengah Pandemi Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan. Viralnya poster itu diduga salah satunya dipicu oleh tulisan seseorang di sebuah media online yang menuding diskusi tersebut sebagai kegiatan makar.

Pihak CLS) sudah memberikan klarifikasi dan memohon maaf. Pada saat itu, pendaftar acara diskusi ini telah mencapai lebih dari 250 orang.

Namun, pada 28 Mei 2020 malam, teror dan ancaman mulai berdatangan kepada nama-nama yang tercantum di dalam poster kegiatan mulai dari pembicara, moderator, serta narahubung.

Terornya mulai dari pengiriman pemesanan ojek online ke kediaman, dikirim ancaman pembunuhan, telepon, hingga adanya beberapa orang yang mendatangi kediaman mereka. Teror dan ancaman ini berlanjut hingga tanggal 29 Mei 2020, dan bukan lagi hanya menyasar nama-nama tersebut, tetapi juga anggota keluarga yang bersangkutan, termasuk kiriman teks berikut kepada orangtua dua mahasiswa pelaksana kegiatan.

Ancaman pembunuhan dikirim ke nomor pribadi mereka. Pelaku mengatasnamakan sebuah ormas Islam menuding diskusi itu sebagai tindakan makar.

Demi alasan keamanan, diskusi pada 29 Mei siang akhirnya dibatalkan oleh penyelenggara.

Sigit mengecam berita provokatif dan tidak berdasar terkait dengan kegiatan akademis tersebut yang kemudian tersebar di berbagai media dan memperkeruh situasi.

“Hal ini mengarah pada perbuatan pidana penyebaran berita bohong, serta pencemaran nama baik. Fakultas Hukum UGM perlu menyampaikan pentingnya kesadaran hukum kepada seluruh masayarakat untuk tidak melakukan tindakan kejahatan dan pelanggaran hukum, utamanya yang menyebabkan kerugian bagi pihak lain dan masyarakat umum,” ujarnya.

FH UGM turut berempati kepada keluarga mahasiswa yang mendapatkan tekanan psikologis akibat ancaman teror terlebih di situasi pandemi Covid-19.

“Fakultas Hukum UGM perlu untuk melindungi segenap civitas akademika, termasuk semua yang terlibat di dalam kegiatan tersebut, terlebih dengan terjadinya intimidasi, teror, dan ancaman yang ditujukan kepada pihak-pihak di dalam kegiatan tersebut, termasuk keluarga mereka,” ujarnya.

FH UGM, kata dia, telah mendokumentasikan segala bukti ancaman yang diterima oleh para pihak terkait, serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka melindungi segenap civitas akademikanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini