Tingkat Kematian Anak-Anak Akibat Covid-19, Indonesia Tertinggi di ASEAN

Agregasi VOA, · Minggu 31 Mei 2020 07:04 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 31 18 2222250 tingkat-kematian-anak-anak-akibat-covid-19-indonesia-tertinggi-di-asean-Hg762hCez0.jpg (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 seringkali menyebut kelompok usia di atas 50 tahun paling banyak meninggal akibat virus corona. Dikutip Voaindonesia, risiko kematian pada anak-anak pun sama besarnya.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Pulungan kepada VOA mengatakan, tingkat kematian anak akibat virus ini di Tanah Air, merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya.

“Kalau dibanding negara lain, kita paling tinggi (tingkat kematian), dibandingkan Singapura, Malaysia, Vietnam,” ujarnya.

Berdasarkan data yang diperolehnya hingga 18 Mei lalu, jumlah anak yang positif Covid-19 di Indonesia mencapai 584 kasus. Sementara untuk jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) anak tercatat kurang lebih 3.400. Jumlah kasus konfirmasi positif anak yang meninggal sejauh ini mencapai 14 anak. Adapun PDP anak yang meninggal sebanyak 129.

Lalu, mengapa tingkat kematian anak akibat Covid-19 di Indonesia tertinggi di ASEAN? Menurut Aman, hal ini dikarenakan tingkat pemeriksaan atau deteksi dini pada anak yang masih relatif rendah. Sampai detik ini, ia tidak pernah melihat pemerintah melakukan pemeriksaan khusus untuk anak. Anak, hanya akan diperiksa kalau orangtuanya terbukti positif virus corona.

“Karena memang jumlah anak yang diperiksa paling sedikit kan, dan banyak yang di screening di mall, kantor, asrama, pasar, bandara, anak-anak kan tidak masuk yang di screening. Jadi anak-anak yang kita periksa itu adalah anak-anak yang memang sudah ada gejala. Atau kalau misalnya orang tuanya ada gejala baru (diperiksa). Jadi tidak ada, karena kalau misalnya anak batuk pilek kan tidak semuanya langsung diperiksa kan,” jelasnya.

Lebih jauh, sampai saat ini ia juga kerap melihat anak-anak masih bermain dan berkeliaran di luar rumah. “Anak kita masih banyak berkeliaran di luar sekarang, kecuali anak-anak yang memang mengikuti petunjuk orang tuanya. Tapi saya melihat di kompleks perumahan atau di daerah pinggiran Jakarta itu anak-anak masih di luar,” imbuhnya.

Dihubungi secara terpisah, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra mengatakan tidak dapat dipungkiri bahwa kebosanan akan melanda anak setelah berada di rumah selama dua bulan ini. Oleh karena itu peran orang tua sangat penting untuk mengawasi sang anak ketika mereka, misalnya bermain di luar rumah, dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Tapi tentu saran kita, di samping soal sosialisasi terus menerus dikasih pemahaman secara baik kepada anak-anak. Tentu dipastikan pengawasan orang tua terkait protokol kesehatan ini kan bisa jalan, mislanya ketika anak berada di rumah tetap pakai masker, ketika anak berada di depan rumah bagaimana memastikan ketika dia memegang sesuatu setelah itu dia cuci tangan,” jelasnya kepada VOA.

Ditambahkannya, protokol kesehatan sedianya juga mudah dipahami anak-anak.

Senada dengan IDI, Jasra Putra setuju untuk melakukan tes masif bagi anak sehingga dapat membantu pemerintah menentukan saat yang tepat untuk memulai kembali tahun ajaran baru.

Meskipun demikian ia menilai rencana pemerintah membuka kembali sekolah pada era “new normal” atau era kelaziman baru ini belum tepat. Selain kurva kasus positif virus corona belum menurun, berkaca kepada negara lain yang sudah membuka kembali sekolah kemudian ditemukan kembali kasus positif yang menjangkit anak-anak.

Jasra mengatakan, “Jumlah penduduk kita itu 260 juta. Usia anak 0-18 tahun itu kan jumlahnya hampir 80 juta sepertiga jumlah penduduk di Indonesia. Maka pertimbangan untuk mengambil testing untuk anak kenapa tidak. Untuk antisipasi. Supaya jangan sampai anggapan bahwa selama ini imun anak kuat, lebih kecil datanya yang masuk dalam pengawasan termasuk dalam berobat ya ini kan harus dibuktikan dengan tes. Apa iya anak-anak kita, jangan-jangan mereka termasuk OTG (orang tanpa gejala, red.). Ini kan hal-hal yang dalam UU perlindungan anak ini, kesehatan yang maksimal ini kan harus diberikan kepada anak, dan itu bisa melalui pencegahan, sosialisasi."

Ia menambahkan, "Kalau memang testing adalah bagian dari pencegahan kenapa tidak dilakukan kepada anak-anak kita sehingga data ini akan semakin kongkrit untuk melihat peta sebaran termasuk kalau misalnya membuka sekolah tentu sudah diketahui di daerah mana saja yang tentu anak-anak dengan situasinya statusnya itu bisa kita kendalikan dari awal".

(wdi)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini