Michelle Obama soal "Tragedi" George Floyd: Sangat Menyakitkan

Khafid Mardiyansyah, Okezone · Senin 01 Juni 2020 00:56 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 01 18 2222571 michelle-obama-soal-tragedi-george-floyd-sangat-menyakitkan-RHTIlVbR6b.jpg

JAKARTA - Mantan Ibu Negara Amerika Serikat, Michelle Obama mengaku sangat menderita mendengar tragedi meninggalnya George Floyd. Menurutnya kejahatan rasial terus terjadi dan itu membuatnya muak.

"Sama seperti yang kalian rasakan, sangat menyakitkan melihat tragedi ini (kematian George Floyd). Saya muak karena sepertinya ini tak pernah berakhir," jelas Michelle dalam akun Twitter pribadinya.

Ia pun mengingatkan publik bahwa bukan hanya George Floyd yang meninggal karena dugaan kekerasan rasial. Ada banyak nama yang tak diungkap publik.

"Sekarang George, Breonna dan Ahmaud. Sebelum itu ada Eric, Sandra dan Michael, itu seperti terus terjadi lagi, lagi dan lagi," tulis Michelle.

Sekadar informasi, selain George, dalam catatan juga terdapat kematian yang diduga dilandasi sentimen rasial oleh pihek kepolisian.

Breonna Taylor, 26 tahun, adalah seorang petugas medis darurat. Ia ditembak enam kali ketika petugas memasuki apartemennya di Louisville, Kentucky, tanggal 13 Maret.

Ia ditembak karena dituduh melakukan penembakan setelah polisi memasuki apartemennya ketika akan menangkap sindikat narkoba. Ironisnya, Breonna tak terlibat sedikitpun dengan sindikat itu, ia dituduh membalas tembakan dari polisi, yang langsung membalas tembakannya itu.

Lalu ada, Eric Garner yang meninggal karena tak bisa bernapas di New York sesudah ia ditahan atas dugaan menjual rokok ketengan secara ilegal.

Dalam video yang beredar, terlihat Garner berkali-kali berteriak, “Saya tak bisa bernapas” sementara polisi kulit putih Daniel Pantaleo, tampak memiting leher Garner ketika mereka bergumul di tanah.

Lalu ada remaja kulit hitam berusia 18 tahun bernama Michael Brown ditembak mati sesudah pertengkaran dengan polisi kulit putih Darren Wilson.

Peristiwanya terjadi di Ferguson, Missouri, dan memicu protes dengan kekerasan yang berakhir dengan kematian satu orang, beberapa terluka dan ratusan penangkapan.

Kasus lain yang menarik atensi publik adalah Sandra, 28 tahun yang dihentikan oleh polisi negara bagian Texas Brian Encinia karena pelanggaran lalu lintas kecil.

Saat dihampiri, ia menyalakan rokok dan tak mau mematikannya. Sandra Bland lalu ditahan dengan tuduhan menyerang petugas polisi sesudah protes terhadap penangkapannya. Tiga hari kemudian, ia bunuh diri di dalam selnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini