Tekan Penyebaran Virus, Ini Cara Turki Kendalikan Pandemi Covid-19

Agregasi BBC Indonesia, · Sabtu 06 Juni 2020 12:36 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 06 06 18 2225459 tekan-penyebaran-virus-ini-cara-turki-kendalikan-pandemi-covid-19-I94YLjNTFK.jpg (Foto: BBC Indonesia)

JAKARTA - Covid-19 datang belakangan ke Turki, yaitu tanggal 11 Maret tapi dengan cepat menyebar ke seluruh negeri. Dalam sebulan, keseluruhan 81 provinsi di Turki sudah terpapar, dikutip BBC Indonesia.

 

Ini merupakan penyebaran wabah paling pesat di dunia, lebih buruk ketimbang China, Italia dan Inggris.

Ada ketakutan, kematian di Turki akan melampaui Italia, yang ketika itu merupakan negara paling terdampak.

Tiga bulan berlalu, ketakutan tak terjadi. Bahkan tanpa adanya karantina menyeluruh.

Angka resmi kematian adalah 4.397. Beberapa dokter menyangsikannya, menyatakan angka sesungguhnya bisa dua kali lebih tinggi karena Turki hanya menghitung korban yang dites positif.

Meski begitu, dalam catatan di era pandemi Covid-19 ini, angka ini relatif rendah untuk jumlah penduduk 83 juta.

Para ahli mengingatkan sulit untuk menyimpulkan dan membandingkan statistik sementara banyak negara masih memakamkan korban meninggal. Namun Turki jelas “telah menghindar dari bencana yang lebih besar”, menurut Dr Jeremy Rossman, dosen Virologi di University of Kent.

“Turki cocok dengan kategori beberapa negara yang merespons cukup cepat dengan tes, pelacakan, isolasi dan pembatasan pergerakan,” katanya kepada BBC.

“Tidak banyak negara seperti itu yang berhasil secara efektif mengurangi penyebaran virus”.

Selagi virus menyebar, pihak berwenang mengambil langkah terkait kegiatan sehari-hari. Warga dilarang ke kedai kopi, tak belanja ke pasar yang ramai, tak salat berjamaah di masjid”.

Warga 65 tahun ke atas, dan 20 tahun ke bawah harus diam di rumah sepenuhnya. Akhir pekan warga tak boleh keluar rumah, dan kota-kota dikarantina.

Istanbul adalah pusat wabah. Kota ini kehilangan ritmenya, bagai jantung yang kehilangan detak.

Kini pembatasan dilonggarkan, tetapi dr. Melek Nur Aslan tetap waspada. Ia adalah direktur kesehatan publik di distrik Fatih, daerah sangat padat penduduk di pusat kota Istanbul.

Dr. Aslan yang pintar bicara dan energik, memimpin operasi pelacakan kontak. Di seluruh Turki ada 6.000 tim lacak kontak.

“Kami merasa sedang dalam perang,” katanya. “Orang tidak pulang. Sekalipun jam kerja delapan jam selesai, tim kami tak langsung pulang karena mereka tahu ini tugas yang harus selesai, sebelum menyebar ke semua orang”.

Dr. Aslan mengatakan mereka mulai melacak virus sejak hari pertama, 11 Maret. Ini berkat pengalaman mereka selama berpuluh tahun melacak cacar.

"Kami siap," katanya. "Kami tinggal ambil program itu dari lemari, dan menggunakannya untuk Covid-19."

Saya dan dr. Aslan lalu bergabung dengan dua orang dokter di jalan yang sempit di Fatih. Mereka dilengkapi dengan aplikasi dan alat pelindung diri.

Mereka menuju sebuah blok apartemen tempat ditemukan penghuni berusia 20-an sedang dikarantina. Teman mereka positif Covid-19.

Kedua penghuni – mengenakan masker – dites di lokasi dan mendapat hasilnya dalam 24 jam. Itu adalah sehari sesudah keduanya memperlihatkan gejala ringan.

Salah seorang dari mereka, Nazli Demiralp, 29 tahun, gembira dengan tanggapan yang sigap.

“Kami ikuti berita dari luar negeri,” katanya, “dan ketika kami dengar tentang virus ini pertama kali, kami sangat takut. Namun Turki bertindak lebih cepat daripada yang kami duga. Lebih sigap daripada Eropa dan Amerika Serikat”.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini