Hidup di Tenda dengan 16 Anak, Ahmad dan Keluarganya Terancam Kelaparan

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 18 Juni 2020 10:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 18 18 2232065 hidup-di-tenda-dengan-16-anak-ahmad-dan-keluarganya-terancam-kelaparan-K4dBYMZdyh.jpg Foto: Reuters.

IDLIB – Menafkahi keluarga dengan 16 anak, termasuk empat pasang anak kembar menjadi semakin sulit bagi Ahmad Yassin al-Ali dan istrinya Fawza Umri, pengungsi Suriah yang terpaksa meninggalkan rumah mereka hampir satu dekade lalu. Keluarga Ahmad kini tinggal berjejalan di sebuah tenda di perbatasan Turki.

Ali (35), yang istrinya hamil delapan bulan dengan anak kembar lain mengatakan sedikit uang yang dapat dia dapatkan dengan mengumpulkan dan menjual barang bekas semakin menipis karena kenaikan harga yang disebabkan jatuhnya nilai mata uang Suriah.

“Dua anak saya membantu saya. Hari-hari lalu saya bisa menjual, saya membeli roti, kentang, dan tomat,” kata Ali sebagaimana dilansir Reuters. "Karena jatuhnya mata uang Suriah, harga telah meningkat ke titik di mana kita tidak punya uang untuk membeli makanan dan roti."

Daerah tempat Ali dan keluarganya tinggal, di Idlib kini dikuasai oleh pasukan Presiden Bashar al-Assad yang merebutnya dari pihak oposisi, tetapi mata uang pound masih digunakan di sana.

Badan PBB OCHA mengatakan menurunnya nilai mata uang itu sejak awal Mei telah mendorong harga kebutuhan pokok mencapai rekor tertinggi dan semakin jauh dari daya beli 4 juta orang di wilayah tersebut.

Umri, (35), mengatakan liburan Idul Fitri baru-baru ini, menandai akhir bulan puasa Ramadhan, adalah waktu untuk putus asa daripada perayaan. "Aku benci hidupku," katanya.

Salah satu putri mereka menderita kesulitan pendengaran dan tidak dapat berbicara, dan yang lain lumpuh di satu sisi, tetapi mereka tidak mampu mendapatkan perawatan medis.

“Makanan adalah masalah besar bagi kami. Kami tidak bisa membeli sayuran dan hampir setiap hari mereka makan roti dan tidak ada yang lain,” katanya.

Perang telah menewaskan ratusan ribu orang, mencabut lebih dari 6,6 juta di Suriah dan memaksa 5,5 juta untuk melarikan diri ke negara-negara tetangga.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini