PPDB Jateng Ditutup, 1.007 Pendaftar Terindikasi Gunakan Dokumen Palsu

Taufik Budi, Okezone · Jum'at 26 Juni 2020 00:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 06 25 65 2236552 ppdb-jateng-ditutup-1-007-pendaftar-terindikasi-gunakan-dokumen-palsu-BdAq3Btii3.jpg Posko PPDB. (Foto : Okezone.com/Bramantyo)

SEMARANG – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA/SMK Jawa Tengah resmi ditutup pada Kamis (25/6/202) pukul 16.00 WIB. Tercatat 1.007 calon siswa yang mencabut berkasnya karena terindikasi aspal (asli tapi palsu).

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sidak ke Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng. Dia mengecek banyaknya penggunaan Surat Keterangan Domisili (SKD) pada proses PPDB Jateng 2020. Tercatat, ada 13.834 calon siswa yang menggunakan SKD.

"Hari ini PPDB ditutup. Setiap hari memang saya pantau terus karena ada beberapa problem. Di antaranya SKD ini, hari ini kami temukan ada 13.834 calon siswa yang mendaftar pakai SKD. 1.007 di antaranya dia beralih, itu ada indikasi kemungkinan palsu," kata Ganjar, Kamis (25/6/2020).

Banyaknya SKD membuat Ganjar terkejut. Dia meminta seluruh petugas untuk ketat dalam proses verifikasi dan validasi data.

"Soalnya saya kemarin sudah menemukan, saya telefon langsung orangnya dan mengakui bahwa itu salah. Maka saya minta, seluruh SKD itu dicek kebenarannya di lapangan," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng, Jumeri, mengatakan, setelah penutupan maka pihaknya akan menggelar koordinasi dengan cabang dinas dan kepala sekolah. Tahapan selanjutnya adalah verifikasi fisik pada 1 hingga 8 Juli.

"Karena saat verifikasi ini siswa atau orang tua siswa harus hadir membawa bukti fisik, maka kami akan atur agar tetap menggunakan protokol kesehatan. Jaga jarak, pembagian jadwal dan berbagai kebutuhan lainnya akan kami siapkan," kata dia.

Jumeri menegaskan, apabila pada saat verifikasi data itu ditemukan ketidakbenaran, maka calon siswa akan dicoret. Dia meminta masyarakat untuk ikut mengawasi dan melaporkan apabila terjadi kecurangan.

Baca Juga : Aturan Masuk Sekolah Zona Hijau Perlu Dikaji Ulang

"Kami minta masyarakat membantu melaporkan apabila ada indikasi kecurangan. Pasti kami cek, dan kalau terbukti benar curang, langsung kami coret," tuturnya. 

Baca Juga : Sekolah di Masa Pandemi, Antara Guru Minim Pemahaman Teknologi & Keluhan Orangtua Murid

(erh)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini