Pandemi Sebabkan 9,7 Juta Anak Berisiko Putus Sekolah Permanen

Agregasi BBC Indonesia, · Senin 13 Juli 2020 14:11 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 13 65 2245551 pandemi-sebabkan-9-7-juta-anak-berisiko-putus-sekolah-permanen-4eBabEO1Vb.jpg Ilustrasi siswa sekolah menengah (foto: Okezone)

JAKARTA – Pandemi Covid-19 di dunia telah menyebabkan terjadiya “darurat pendidikan”. Terdapat 9,7 juta anak yang terkena dampak dari penutupan sekolah berisiko putus sekolah secara permanen.

Hal itu diungkapkan lembaga amal Save the Children pada Senin (13/7/2020). Laporan Save the Children mencantumkan 12 negara tempat anak-anak paling berisiko tertinggal: Niger, Mali, Chad, Liberia, Afghanistan, Guinea, Mauritania, Yaman, Nigeria, Pakistan, Senegal, dan Pantai Gading.

Sebelum krisis, diperkirakan 258 juta anak-anak dan remaja sudah putus sekolah, kata lembaga amal itu.

Mengutip data UNESCO yang menunjukkan bahwa pada bulan April, 1,6 miliar pelajar diliburkan dari sekolah dan universitas karena langkah-langkah untuk menekan penyebaran Covid-19. Angka tersebut merupakan sekitar 90% dari seluruh populasi siswa di dunia.

"Untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, satu generasi anak-anak di seluruh dunia terganggu pendidikannya," kata lembaga itu dalam sebuah laporan baru bertajuk Save our Education, seperti dikutip kantor berita AFP.

Mereka menjelaskan bahwa bencana ekonomi dari krisis ini bisa mendorong 90 hingga 117 juta anak ke dalam kemiskinan, yang berdampak langsung pada penerimaan murid di sekolah.

Dengan banyaknya anak yang dituntut untuk bekerja atau anak perempuan yang dipaksa menikah dini demi menghidupi keluarga mereka, antara 7 juta hingga 9,7 juta anak terancam putus sekolah secara permanen.

Pada saat yang sama, lembaga amal itu memperingatkan krisis akibat virus corona bisa menyebabkan kekurangan anggaran pendidikan hingga sebesar USD 77 miliar (Rp1.112 triliun) di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah pada akhir 2021.

"Sekitar 10 juta anak mungkin tidak pernah kembali ke sekolah — ini adalah darurat pendidikan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan pemerintah harus segera berinvestasi dalam pendidikan," kata kepala eksekutif Save the Children, Inger Ashing.

"Alih-alih, kita berisiko menghadapi pemotongan anggaran dalam jumlah besar yang akan menyebabkan ketimpangan semakin lebar antara si kaya dan si miskin, dan antara anak laki-laki dan perempuan."

Dampaknya Bertahan Lama

Save the Children mendesak pemerintah dan donor untuk menginvestasikan lebih banyak dana di balik rencana pendidikan global baru untuk membantu anak-anak kembali ke sekolah ketika situasi aman dan mendukung pembelajaran jarak jauh sampai itu terjadi.

"Kami tahu anak-anak yang paling miskin dan paling terpinggirkan, yang sejak awal sudah jauh tertinggal, adalah yang paling merugi, tanpa akses ke pembelajaran jarak jauh - atau pendidikan apa pun - selama setengah tahun akademik," kata Ashing.

Save the Children juga mendesak kreditor komersial untuk menunda pembayaran utang untuk negara-negara berpenghasilan rendah — langkah yang menurut mereka bisa membebaskan USD 14 miliar untuk program pendidikan.

"Jika kita membiarkan krisis pendidikan ini berlangsung, dampaknya pada masa depan anak-anak akan bertahan lama," kata Ashing.

"Janji negara-negara untuk memastikan semua anak mendapat akses ke pendidikan berkualitas pada tahun 2030, akan mundur beberapa tahun," katanya, mengutip target PBB.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini