Begini Skema Penerapan Lockdown di Klaster Trusmi Cirebon

Fathnur Rohman, Okezone · Senin 27 Juli 2020 18:25 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 27 525 2252912 begini-skema-penerapan-lockdown-di-klaster-trusmi-cirebon-5d7K21czJy.jpg Camat Plered, Hardomo menerapkan lockdown di kawasan Trusmi. Foto: Fathnur Rohman-Okezone

CIREBON - Daerah Trusmi, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menjadi klaster baru penyebaran virus corona (Covid-19). Sebab, sempat dalam satu hari sebanyak 16 warga di daerah itu dinyatakan positif terpapar Covid-19 setelah sampel swabnya diperiksa.

Guna mencegah meluasnya penyebaran Covid-19 di daerah tersebut, Pemerintah Kabupaten Cirebon bakal menerapkan lockdown berkonsep Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM). PSBM sendiri akan diberlakukan di tiga desa, yakni Desa Trusmi Kulon, Desa Trusmi Wetan, dan Desa Wotgali.

Camat Plered Hardomo menerangkan skema PSBM yang diterapkan di tiga desa itu ialah dengan cara melakukan penyekatan pada akses masuk desa. Nantinya, pihaknya hanya akan membuka satu jalan utama.

Selain itu, kata dia, beberapa petugas akan disiagakan untuk memeriksa siapa saja orang-orang yang hendak masuk atau keluar dari tiga desa tersebut.

"PSBM dilaksanakan selama tiga hari. Ada jalan yang ditutup atau dilakukan penyekatan, ada juga jalan yang dibuka tapi istilahnya tetap bisa dilalui setelah ada pemeriksaan dari petugas," kata Hardomo saat ditemui Okezone, di Kantor Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (27/7/2020).

Baca Juga:  5 Aparat Desa Positif Corona, Kantor Pemdes Trusmi Kulon Cirebon Ditutup Sementara

Hardomo menyampaikan, tujuan diberlakukannya PSBM ini adalah untuk membatasi kegiatan warga di tiga desa itu, khususnya di Desa Trusmi Kulon. Pasalnya, 16 orang yang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 beberapa waktu lalu itu, berasal dari desa tersebut.

"Kita memutus mata rantai penyebaran Covid-19 kita melaksanakan pembatasan kegiatan warga di tiga desa itu. Terutama di Trusmi Kulon. Kemarin keluarga terdekat dari yang positif itu jangan sampai keluar rumah atau beraktivitas dulu untuk sementara," ujar Hardomo.

Sementara itu, terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Cirebon, Eni Suhaeni menyampaikan, penularan Covid-19 di klaster Trusmi bermula ketika ada seorang warga yang dinyatakan positif setelah pulang dari Kota Semarang. Warga ini, kata Eni, terpaksa pulang dari Kota Semarang karena jatuh sakit.

Baca Juga:  Jadi Klaster Baru Covid-19, Wilayah Trusmi Cirebon Akan Berlakukan PSBM 

Warga ini, sambungnya, sempat melakukan kontak erat dengan 22 orang. Dari 22 orang ini, 16 di antaranya dinyatakan positif Covid-19. Mereka terdiri dari sembilan orang anggota keluarga warga tersebut, satu orang pembantu, satu orang tukang becak, dan lima orang aparat desa setempat.

"Dia seorang laki-laki bekerja di Semarang. Karena di sana dia sendiri akhirnya dijemput keluarganya. Dia di bawa ke rumah sakit. Setelah lima hari, dia pulang. Tapi dua hari kemudian kesadarannya menurun dan dirawat kembali. Hasil swabnya positif. Di awal dia di rapid test hasilnya non-reaktif," jelas Eni.

Eni mengimbau, dengan adanya lonjakan kasus pasien Covid-19 ini masyarakat diminta untuk tetap menerapkan protokol kesehatan yang ada. Sehingga penularan virus corona bisa dihindari.

"Kalau dari luar kota mau ke Cirebon sebaiknya rapid test atau swab test dulu dan lapor ke aparat desa setempat supaya teman-teman dari puskesmas cepat menanganinya. Analisnya di puskesmas sudah bisa swab, 60 analis sudah dilatih untuk swab," tutur Eni.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini