Kisah Perjuangan Bidan Cantik Tangani Covid-19 Meski Dicaci, Diasingkan dan Diteror

Eddie Prayitno, iNews · Kamis 30 Juli 2020 09:46 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 30 512 2254312 kisah-perjuangan-bidan-cantik-tangani-covid-19-meski-dicaci-diasingkan-dan-diteror-FfRkPwBaD3.jpg Dian Eka, bidan desa di Kendal yang berjuang melawan Covid-19 (foto: iNews)

KENDAL - Berbagai pengalaman dialami para tenaga medis maupun paramedis saat bertugas dalam menangani pandemi Covid-19. Banyak hal menarik hingga mengundang rasa empati dari berbagai pihak terjadi pada masa sulit ini.

Tak sedikit dari mereka yang harus berjuang lebih dari biasanya, sebagai bentuk tanggungjawab atas profesi yang dijalankan. Bahkan cacian, hinaan dan teror kerap diterimanya, namun dedikasi sebagai petugas menjadikan makin tegar dan semangat.

Seperti apa perjuangan tenaga medis di Kendal, Jawa Tengah yang berjuang, menangani covid 19 berikut kisahnya.

Adalah Dian Eka, perempuan 32 tahun yang berprofesi sebagai bidan desa ini harus berjuang lebih dalam mengawal warganya dari Covid-19. Dian sendiri sudah menjadi tenaga paramedis sejak 2011 dan ia kini bertindak sebagai bidan di salah satu desa di Kecamatan Brangsong.

Bidan cantik1

Maret tahun 2020 ini, Dian menjadi bagian dari tenaga paramedis dalam penanganan Covid-19. Sepanjang lima bulan tersebut, ia mendapatkan banyak pelajaran dari pekerjaannya.

Beberapa kali ia menerima perlakuan yang kurang baik dari masyarakat saat bertugas, mulai dari cacian, hinaan, hadangan hingga aksi teror pun ia alami. Bahkan, dirinya sempat kehilangan dukungan dari suaminya lantaran sang suami tak tega melihat apa yang dialami sang istri.

Namun dian memilih bertahan agar tetap bisa memberikan pelayanan kesehatan kepada warganya. Dian berpikir bahwa ada banyak konsekwensi atas setiap profesi yang bakal dijalani setiap orang termasuk menjadi paramedis.

“Saya putuskan tetap maju, meskipun ada kendala terutama dari suami saya yang melarang. Tapi mau gimana lagi, ini tugas negara, dan apalagi saya memang tinggal di lingkungan situ, keluarga juga tinggal disitu. Jadi saya maunya semua warga di situ sehat,”

Ia pun mengaku sedih, bahkan terkadang ia menangis berbalut lelah tak bisa ia tutupi. Apalagi, bidan Dian masih punya anak kecil, jadi rentan sekali. Namun, Dian tetap memegang teguh prinsipnya untuk menjalankan tugas dan tanggungjawab profesinya dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada warga.

Bidan cantik2

“Tentunya ini menjadi tugas saya paramedis untuk memberikan edukasi tentang bahaya maupun cara pencegahan virus corona, yang selama ini memang kurang dipahami masyarakat. Karena itulah saya memutuskan tetap bertahan dan hadir disini,” tuturnya.

 Dian bersama tenaga paramedis maupun tenaga medis lain masih harus berjibaku menangani covid-19, dengan segudang pengalaman itu, Dian mencoba membalutnya menjadi sebuah motivasi untuk dirinya. Ditambah beberapa motivasi dari keluarga, sahabat hingga rekan kerja membuat dian semangat hingga saat ini.

Kini dukungan dari orang-orang terdekat sudah kembali dan bertambah besar, ia berharap apapun yang diusahakan meskipun pelan akan menuai kebaikan untuk semua orang.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini