32 Orang Tewas dalam Bentrokan Antarsuku di Sudan

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 13 Agustus 2020 14:50 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 13 18 2261627 32-orang-tewas-dalam-bentrokan-antarsuku-di-sudan-asRGl5njHf.jpg Ilustrasi.

KHARTOUM – Setidaknya 32 orang tewas dalam bentrokan antarsuku yang terjadi di kota pelabuhan di timur Sudan, membuat pemerintah memperketat keamanan di daerah itu.

Dalam sebuah pernyataan pada Rabu (12/8/2020) Komite Dokter Pusat Sudan mengatakan bahwa sekira 90 lainnya terluka dalam bentrokan antara kelompok etnis Bani Amer dan Nuba di Port Sudan pada Minggu (9/8/2020). Kedua suku diketahui memiliki sejarah panjang kekerasan yang timbal balik.

"Ini bukan pertama kalinya bentrokan pecah antara suku Bani Aarem dan Nuba," kata Hiba Morgan dari Al Jazeera, melaporkan dari Khartoum.

BACA JUGA: Sudan Temukan Kuburan Mayat 28 Perwira yang Dieksekusi Bashir

“Ini telah berlangsung selama bertahun-tahun dan telah meningkat selama 12 bulan terakhir,” tambahnya.

Pasukan keamanan juga dilaporkan menangkap 85 orang terkait kekerasan tersebut.

Pihak berwenang telah meningkatkan keamanan dan memberlakukan jam malam di pelabuhan perdagangan utama Sudan di Laut Merah itu menyusul bentrokan tersebut untuk memulihkan keamanan.

Sudan berada pada tahun pertama dari tiga tahun masa transisi pasca penggulingan mantan Presiden Omar Al Bashir. Negara itu masih menghadapi tantangan termasuk masalah keamanan di beberapa kawasan dan krisis ekonomi yang parah.

BACA JUGA: Setelah 30 Tahun, Sudan Hapuskan Penggunaan Hukum Islam

Kementerian Dalam Negeri Sudan menyatakan bahwa pemerintah telah mengerahkan lebih banyak pasukan keamanan ke daerah itu untuk menegakkan "prestise negara dan supremasi hukum, dan untuk memperkuat keamanan dan stabilitas".

Perdana Menteri Abdalla Hamdok mengatakan dalam pernyataan sebelumnya bahwa dia telah mengadakan beberapa pertemuan selama sepekan terakhir dengan para pemimpin komunitas dan politik dari Sudan timur untuk membahas "situasi politik, keamanan dan kekerasan" di wilayah tersebut.

Hamdok memimpin pemerintahan sipil transisi di bawah kesepakatan pembagian kekuasaan tiga tahun dengan militer.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini