Pemimpin Oposisi Desak Uni Eropa Tolak Hasil Pilpres Belarusia

Agregasi VOA, · Rabu 19 Agustus 2020 17:41 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 19 18 2264604 pemimpin-oposisi-desak-uni-eropa-tolak-hasil-pilpres-belarusia-InBYTyo88i.jpg Svetlana Tikhanovskaya. (Foto: TASS)

VILNIUS - Pemimpin oposisi Belarusia Sviatlana Tsikhanouskaya, pada Rabu (19/8/2020), mendesak para pemimpin Uni Eropa agar menolak hasil pemilihan presiden kontroversial yang memberikan kemenangan dan masa jabatan keenam bagi Presiden Aleksander Lukashenko. Banyak pihak menilai hasil pemilu itu dicurangi dan telah memicu protes besar-besaran di Belarusia.

“Saya meminta Anda untuk tidak mengakui pemilu yang curang ini,” kata Tsikhanouskaya dalam pidato melalui video kepada Dewan Eropa sebagaimana dilansir VOA. Dia menambahkan bahwa Lukashenko telah kehilangan semua legitimasi di mata negaranya dan dunia.

BACA JUGA: Nyawanya Terancam, Capres Oposisi Belarusia Diklaim "Aman" di Lithuania

Lukashenko, pemimpin otoriter yang telah mengendalikan Belarusia selama 26 tahun, mengklaim kemenangan dalam pemilu 9 Agustus lalu yang memicu protes besar-besaran serta penindakan brutal oleh polisi yang dikecam oleh negara-negara Barat.

Permintaan Tsikhanouskaya itu dilontarkan sebelum telekonferensi darurat para pemimpin Uni Eropa pada Rabu untuk membahas dampak pemilu di Belarusia.

Para pemimpin Uni Eropa, di antaranya Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel, pada pekan ini mendesak Rusia, sekutu kuat Belarusia, agar melobi dialog di Minsk.

BACA JUGA: Demonstrasi Berlanjut, Presiden Belarusia: Tak Akan Ada Pilpres Baru "Sampai Anda Membunuhku"

Tsikhanouskaya mengatakan, pemilu 9 Agustus lalu tidak jujur, tidak transparan dan hasilnya dipalsukan. Tsikhanouskaya, yang berusia 37 tahun, mengatakan ia akan menyelenggarakan pemilu baru jika Lukashenko mundur. Sekutu-sekutunya telah membentuk suatu dewan koordinasi untuk memastikan peralihan kekuasaan. Dewan ini dijadwalkan bersidang hari Rabu.

Lukashenko telah mengesampingkan permintaan agar ia mengundurkan diri atau menyelenggarakan pemilu dan mengklaim bahwa oposisi berupaya “merebut kekuasaan.”

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini