Kisah Pilu! Setahun Ayah Menunggu Kabar Anak yang Hilang

Bramantyo, Okezone · Senin 31 Agustus 2020 17:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 31 512 2270322 kisah-pilu-setahun-ayah-menunggu-kabar-anak-yang-hilang-KN0zxW6RFs.jpg Supriyanto memegang foto anaknya yang sudah setahun hilang. Foto: Bramantyo

KARANGANYAR - Raut kesedihan terlihat jelas di wajah Supriyanto, warga Serut RT 6 RW 12 Ngringo, Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah.

Sambil mendekap foto saat putra semata wayang bernama Febri Haryanto, Supriyanto mengatakan anaknya itu telah hilang kontak sejak 20 Agustus 2019 silam.

Dengan terbata-bata, Supriyanto menceritakan putranya itu salah satu awak kapal Pengangkut Nikel MV. Nur Allya milik PT Gurita Lintas Samudra yang dinyatakan hilang kontak sejak 20 Agustus 2019.

Febri merupakan salah satu siswa sekolah pelayaran di Semarang. Setahun sudah Febri menjalani praktek kerja lapangan (PKL) di perusahaan kapal pengangkut Nikel di Perairan Maluku dan ia masih hilang.

Pada awalnya, setelah menjalani PKL Febri akan kembali untuk menjalani wisuda. Namun naas, bagai disambar petir di siang bolong, Supriyanto mendapatkan kabar kapal tempat anaknya itu menjalani PKL mengalami musibah tenggelam di perairan Maluku.

"Bukan kabar kepulangan anak saya, tapi justru saya menerima kabar bila kapal di mana anak saya PKL dikabarkan terkena musibah di perairan Maluku. Dan sudah setahun tidak ada kabar kejelasan sama sekali," paparnya Supriyanto pada Okezone, Sabtu (29/8/2020).

Menurut Supriyanto, hingga saat ini pihak keluarga masih berupaya sekuat tenaga mencari kabar keberadaan anaknya.

Bahkan bangkai kapal itupun belum ditemukan. Dengan kata lain, hingga saat ini dirinya hilang kontak dengan sang putra.

"Sampai saat ini tidak ada kejelasan. Bahkan pihak sekolah tak ada tanggungjawabnya sama sekali. Mereka justru selalu membisu setiap kami menanyakan keberadaan anak saya,"ujarnya.

Malah sebaliknya, pihak sekolah malah meminta dirinya untuk menandatangani dana talangan asuransi senilai Rp150 juta. Jelas saja pihak keluarga, ungkap Supriyanto, dengan tegas menolak itu. Karena belum ada kejelasan yang pasti tentang anaknya hidup atau mati.

"Aku menolak. Kalau belum ada bukti-bukti kok diterima. Aku memang orang gak punya, utang banyak, tetapi buat apa uang itu. Hilang anak tanpa kepastian," tegasnya.

Baca Juga: Pencarian Kapal MV Nur Allya Dilakukan Lewat Udara

Perwakilan keluarga sempat dipanggil perusahaan kapal ke Maluku. Dirinya didampingi kepala Desa Serut.

Di sana disampaikan ada dugaan kapal tenggelam di Halmahera. Dalam pertemuan itu pihak berwenang yang sedang melakukan penyelidikan menyebut ada dugaan kapal tenggelam.

Namun sampai saat ini belum ada kepastian kapal itu tenggelam atau tidak. Sudah setahun lamanya keluarga Supriyanto menunggu keputusan resmi terkait nasib anaknya.

Apalagi selain Febri masih ada lima siswa lainnya yang juga hilang saat menjalani PKL. Lima orang satu sekolah dengan Febri, dan satu lagi beda sekolah. Mereka berasal dari Malang, Banyuwangi, Purwodadi dan Pontianak. "Sampai saat ini mereka juga belum pulang dan tidak ada kejelasan nasibnya," imbuhnya.

Baca Juga: Pencarian Kapal MV Nur Allya Berpenumpang 25 Orang Masih Nihil

Sambil berurai air mata Supriyanto meminta kepada pemerintah untuk mencari tahu kepastian nasib anak semata wayangnya yang sampai saat ini tidak jelas.

Supriyanto berharap melalui wakil rakyat yang duduk di DPR RI agar membantu warganya yang sedang menanggung. Dirinya siap menerima apapapun hasilnya nanti, yang pasti harus ada kejelasan dan kepastian. "Jika memang tenggelam, saya minta statement," harapnya.

Sementara itu Paryono, anggota DPR RI dari fraksi PDIP yang kebetulan asal Karanganyar menyebut akan berupaya membantu warganya.

Saat ini yang diharapkan dari keluarga korban adalah adanya kepastian dari pihak-pihak terkait. "Baik itu dari sekolah, maupun dari perusaan tempat mereka menjalani PKL. Bagaimana pertanggungjawabannya," ucap Paryono.

Untuk itu, lanjut Paryono, pihak yang bertanggungjawab harus konsisten. Seperti pihak sekolah yang mengirimkan siswanya untuk PKL juga mesti bertanggungjawab. Termasuk dari perusahaan juga ikut bertanggungjawab.

"Pemerintah sendiri juga tidak boleh diam. Negara harus hadir di tengah kepentingan masyarakat yang butuh perlindungan," pungkas Paryono.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini