Warga AS Rayakan Hari Kakek-Nenek Nasional

Agregasi VOA, · Senin 14 September 2020 13:26 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 14 18 2277397 warga-as-rayakan-hari-kakek-nenek-nasional-csraShDi3U.jpg Dr. Carl Dutto bersama anak (tengah) dan dua cucunya. (Foto: Courtesy)

WARGA Amerika Serikat (AS) pada Minggu (13/9/2020) merayakan Hari Kakek-Nenek Nasional (National Grandparents Day), sebuah hari khusus untuk menghormati para kakek-nenek. Hari ini biasanya dilewatkan bersama dengan berbagai kegiatan antara para cucu dan kakek-nenek mereka. 

Hari Kakek-Nenek Nasional merupakan kesempatan bagi para cucu untuk menunjukkan rasa hormat, cinta kasih, perhatian, dan kepedulian, serta berbagi cerita, makanan, dan melakukan kegiatan yang menggembirakan bersama. Pada hari ini para kakek-nenek dan cucu-cucu bersama-sama menghabiskan waktu yang bermakna dan berkualitas.

Para pakar berpendapat bahwa kakek-nenek dan cucu-cucu memiliki hubungan khusus yang terbukti membuat kakek dan nenek hidup lebih lama, dan juga membuat para cucu lebih tangguh secara emosional. Grandparents Day adalah kesempatan untuk menunjukkan hubungan itu, dan kebanyakan warga Amerika menganggap penting untuk merayakannya.

BACA JUGA: Viral Kakek Nenek Meninggal di Hari Pernikahan Cucu

Dr. Carl Dutto adalah seorang pensiunan pejabat pemerintah yang pernah bertugas lama di Indonesia. Kakek dua cucu itu mengatakan cucu-cucu merupakan hadiah dan setiap kesempatan berinteraksi dengan mereka akan menambah kebahagiaan. Dia percaya bahwa Grandparents Day penting dirayakan.

“Menurut saya, Hari Kakek-Nenek diperlukan sekali. Artinya, hubungan cucu-cucu dan kakek-nenek yang terhormat,” ujarnya sebagaimana dilansir VOA.

Dia mengakui bahwa selama pandemi kesempatan para kakek-nenek untuk berkumpul dan berkegiatan bersama cucu-cucu sulit dilakukan, terutama karena orang usia lanjut termasuk dalam kelompok usia yang rentan terhadap virus corona. Namun, dia mengatakan setidaknya para cucu bisa menunjukkan cinta mereka dengan berbagai cara.

BACA JUGA: Cerita Cinta Kakek-Nenek Menikah di Usia Senja

“Untuk merayakan hari ini dalam masa pandemi sulit sekali, tetapi yang diperlukan cinta cucu-cucu. Kalau mungkin kirim bunga dan makan bersama selalu dihargai,” tambahnya.

Sri Santoso adalah diaspora Indonesia dengan enam cucu. Pensiunan kepala cabang sebuah bank di Maryland ini telah bermukim di Amerika selama hampir empat puluh tahun. Baginya, setiap cucu unik dan semuanya memberikan kegembiraan. “Cucu pertama sangat exciting, dan ternyata, tambah dan tambah lagi juga ada rasa kegembiraan yang lain. Tiap-tiap cucu membawa kegembiraan tersendiri.”

Sri menganggap kedekatan cucu-nenek penting dan setiap ada kesempatan berkumpul juga digunakannya untuk memperkenalkan budaya Indonesia, termasuk makanannya.

“Kalau summer (musim panas) mereka diantarkan ke sini seperti seminggu atau dua minggu. Jadinya, mereka itu ada hubungan erat hati ke hati dengan nenek-kakeknya. Mereka saya ajari dan perkenalkan dengan makanan Indonesia dan saya ceritakan tentang keadaan di Indonesia. Jadi mereka juga suka makanan Indonesia seperti nasi goreng, bakmi goreng, pencake yang ala Indonesia, sate, dan lain sebagainya,” tambah Sri.

Selama pandemi, Sri mengatakan bahwa hubungan dengan ke-enam cucunya terus dijalin dari jarak jauh. “Mereka itu dekat dengan kakek-nenek, tapi berhubung dengan pandemi ini, kami Facetime dengan cucu-cucu, empat cucu di Virginia Beach, dan dua di Irvine, California. Jadi, dengan begitu hubungan kami dekat.”

Hj. Sri Santoso bersama anak dan empat cucunya. (Courtesy)

Brenda Tsai adalah diaspora Indonesia dengan dua anak. Dia sangat mendukung diadakannya Grandparents Day. Setiap pertemuan antara kakek-nenek dengan para cucu, katanya, juga bisa digunakan untuk mengajarkan warisan budaya dan nilai-nilai luhur dari leluhur.

“Bagi kami, kakek nenek adalah orang yang sangat berarti dalam kehidupan. Mereka sangat berjasa dalam melahirkan, menbesarkan, membimbing, mendidik, dan berusaha keras membuat anak-anak mereka berhasil dan akhirnya berumah tangga yang pada gilirannya melahirkan cucu-cucu mereka dan meneruskan semua warisan nilai-nilai yang baik,” kata Brenda.

Sebagai seorang ibu yang juga wanita karir dalam bidang multi-media di sebuah jaringan rumah sakit terbesar di Washington, D.C., dia mengakui tidak mudah menyisihkan waktu untuk mempertemukan anak-anaknya dengan kakek-nenek mereka, tetapi bagaimanapun harus diusahakan.

“Orang tua harus memfasilitasi dan mengusahakan ada kesempatan berinteraksi antara cucu-cucu dan kakek nenek mereka karena itu bisa menambah kebahagiaan dan menyehatkan secara mental dan sosial bagi masing-masing pihak. Harus diusahakan untuk membuat kakek nenek gembira dan terhibur terutama dengan keterbatasan fisik seiring dengan usia.”

Brenda mengatakan pandemi merupakan tantangan karena pertemuan langsung bisa membahayakan kesehatan kakek-nenek. “Selama pandemi, kita memang harus hati-hati karena orang usia lanjut lebih rentan terhadap covid. Jadi untuk sementara, pertemuan bisa virtual, lewat Zoom, Facetime, atau Google Meet.”

Pada 1977, Senat Amerika memperkenalkan resolusi yang isinya meminta presiden untuk mengeluarkan proklamasi setiap tahun yang menetapkan hari Minggu pertama September setelah Hari Buruh sebagai “Hari Kakek-Nenek Nasional”. Kongres Amerika kemudian mengesahkan rancangan undang-undang itu, dan pada 3 Agustus 1978, Presiden Jimmy Carter menandatangani proklamasi tersebut, dan hari itu kemudian dirayakan pada tahun berikutnya dan setiap tahun hingga sekarang.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini