Temui Ayahnya yang Sekarat, Keluarga Ini Harus Lunasi Biaya Karantina Rp172 Juta

Agregasi BBC Indonesia, · Selasa 15 September 2020 15:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 15 18 2278127 temui-ayahnya-yang-sekarat-keluarga-ini-harus-lunasi-biaya-karantina-rp172-juta-BUgQ9ObLUx.jpg Mark Keans dan keempat anaknya. (Foto: GoFundMe)

BRISBANE - Empat bocah yang sempat putus asa tidak dapat melihat ayahnya yang sekarat, kini dihadapkan pada kenyataan pahit lainnya karena harus membayar sekira Rp172 juta untuk membayar biaya hotel selama karantina.

Sang ayah, Mark Keans, 39 tahun, menderita kanker stadium akhir dan berada di rumahnya di Brisbane, Negara Bagian Queensland, Australia. Sementara keempat anaknya berada di Sydney, New South Wales.

Pemerintah Queensland berulang kali menolak permohonan untuk memberikan pengecualian kepada keluarga Keans, karena pemberlakuan kebijakan pembatasan perjalanan yang ketat terkait Covid-19.

BACA JUGA: Pertama Kali Dalam 100 Tahun, Australia Tutup Perbatasan Negara Bagian karena Covid-19

Namun masyarakat Australia yang marah atas persoalan yang menimpa keluarga Mark Keans, kemudian mengumpulkan uang lebih dari Rp2 milyar untuk meringankan beban anak-anak tersebut.

Pemerintah Australia telah menerapkan pembatasan perjalanan yang sangat ketat untuk mengendalikan penyebaran Covid-19, termasuk yang diterapkan pada pergerakan antar negara bagian di wilayah negara tersebut.

Keans awalnya diberitahu bahwa dia harus memilih salah-seorang anak yang akan diizinkan untuk menjenguknya.

Pemerintah Queesland akhirnya mengalah dan mengizinkan semua anaknya melakukan perjalanan untuk melihat sang ayah.

BACA JUGA: Negara Bagian Australia Kerahkan Militer dan Denda untuk Terapkan Lockdown

Tapi izin itu diberikan dengan syarat mereka harus menghabiskan dua pekan di hotel karantina dengan biaya sendiri. Mereka juga hanya dapat mengunjungi ayahnya dengan alat pelindung diri (APD) lengkap.

"Istri saya berbalik dan berkata, jadi yang Anda harapkan kami mengeluarkan uang lebih banyak untuk mengunjunginya. Lantas berapa biaya untuk menguburkannya," kata Bruce Langborne, kakek keempat bocah itu kepada penyiar 7NEWS sebagaimana dilansir BBC.

Situs online GoFundMe kemudian menggalang dana dengan tujuan mengumpulkan uang sekira Rp350 juta. Namun dalam waktu relaltif tidak lama, mereka telah melampaui target dan mencapai Rp2 milyar.

Bahkan Perdana Menteri Australia, Scott Morrison menyumbang sekitar Rp10 juta.

Sejumlah komentar di situs GoFundMe berisi tawaran dukungan kepada keluarga tersebut. Banyak komentar yang berisi kritikan pedas kepada pemerintah Negara Bagian Queensland.

"Saya menyumbang karena kami, tidak seperti Perdana Menteri Queensland, karena kami adalah warga yang memiliki welas asih. Kami tidak ingin melihat anak-anak Mark menderita, karena tidak dapat mengunjungi ayahnya yang sedang sekarat," tulis seseorang.

Dia kemudian menyebut tindakan pemerintah negara bagian itu memalukan.

Namun otoritas kesehatan Queensland membela keputusan mereka.

"Kami berada di tengah pandemi global dan kami perlu melindungi komunitas kami, terutama anggotanya yang paling rentan," kata mereka dalam sebuah pernyataan. 

"Kami memahami bahwa aturan kesehatan yang diberlakukan sangatlah ketat, tetapi hal ini dirancang untuk melindungi warga Queensland."

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini