Ingin Damai dengan Korut, Presiden Korsel Serukan Diakhirinya Perang Korea

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 23 September 2020 14:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 23 18 2282460 ingin-damai-dengan-korut-presiden-korsel-serukan-diakhirinya-perang-korea-7Wku9hnkUd.jpg Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. (Foto: Kantor Kepresidenan Korea Selatan))

PRESIDEN Korea Selatan Moon Jae-In menyerukan diakhirinya perang antara negaranya dengan Korea Utara untuk menghidupkan kembali pembicaraan dengan Pyongyang, dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB. Moon mengatakan, berakhirnya Perang Korea dapat membuka jalan bagi denuklirisasi dan perdamaian di Semenanjung Korea.

Seruan untuk perdamaian itu disampaikan ketika kedua negara tersebut menandai peringatan 70 tahun pecahnya perang brutal itu tahun ini. Perang Korea berakhir dengan gencatan senjata antara Komando PBB pimpinan Amerika Serikat (AS) dengan China dan Korea Utara pada 1953.

BACA JUGA: Presiden Korsel Janji Kejar Upaya Reunifikasi Korea pada 2045

Meski begitu, kedua belah pihak tidak pernah secara resmi menandatangani perjanjian damai.

"Waktunya telah tiba untuk menghapus tragedi yang masih ada di Semenanjung Korea. Perang harus berakhir, sepenuhnya dan untuk selamanya," kata Moon dalam pidato yang direkam sebelumnya kepada Majelis Umum PBB.

Upaya denuklirisasi antara kedua negara telah menemui jalan buntu meskipun ada serangkaian pertemuan puncak antara Presiden Moon dan diktator Kim Jong-Un pada 2018. Pertemuan tingkat tinggi yang diadakan di Hanoi antara Presiden Donald Trump dan pemimpin Korea Utara pada Februari 2019 juga gagal menghasilkan kesepakatan damai.

Serangkaian hambatan itu membuat Presiden Moon mengakui bahwa "harapan" rekonsiliasi antara kedua tetangga telah "terhenti". Namun dia menambahkan bahwa deklarasi akhir perang dapat bertindak sebagai katalisator untuk proses perdamaian yang matang.

BACA JUGA: Indonesia Siap Fasilitasi Dialog Damai Konflik Korsel-Korut

"Perdamaian di Semenanjung Korea masih dalam proses pembuatan dan perubahan yang dulunya penuh dengan harapan telah terhenti,” katanya.

"Saya percaya ini dimulai dengan mendeklarasikan berakhirnya perang, tindakan yang dapat menegaskan komitmen bersama untuk perdamaian. Deklarasi akhir perang akan, memang, membuka pintu untuk menyelesaikan denuklirisasi dan rezim perdamaian permanen di Semenanjung Korea."

Itu terjadi ketika ketegangan antara kedua negara mencapai puncaknya awal tahun ini setelah Korea Utara meledakkan kantor penghubung yang dibangun di perbatasan oleh Selatan.

Perselisihan sengit juga terjadi antara kedua negara setelah Korea Utara menuduh tetangganya menyebarkan ratusan ribu selebaran propaganda melintasi perbatasan.

Ini mendorong Korea Utara untuk memasang pengeras suara untuk menyebarkan propaganda di seluruh zona demiliterisasi - dengan Kim bahkan mengancam akan mengerahkan kembali unit-unit tempur ke daerah-daerah tempat mereka ditarik.

Korea Utara telah memberi tahu kami bahwa mereka tidak peduli tentang (deklarasi akhir perang), melihatnya sebagai sesuatu yang diinginkan Moon

Perang Korea dimulai pada Juni 1950 ketika kakek Kim Jong Un, Kim Il Sung, melancarkan serangan mendadak terhadap Selatan - yang didukung oleh pasukan Amerika. Menurut National Geographic, konflik brutal itu mengakibatkan kematian sekitar 250.000 tentara Korea Utara dan 46.000 tentara Korea Selatan - serta jutaan lainnya mengungsi.

Hampir 40.000 orang Amerika tewas dalam perang itu - dan lebih dari 100.000 terluka.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini