Sungai Lisai, Desa Pedalaman yang "Dikepung" Hewan Buas

Demon Fajri, Okezone · Jum'at 25 September 2020 05:41 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 25 340 2283382 sungai-lisai-desa-pedalaman-yang-dikepung-hewan-buas-yGmZUYmRyx.jpeg Beginilah akses jalan menuju Desa Lisai (Foto: Okezone/Demon)

BENGKULU - Tidak kurang dari 57 tahun, masyarakat di daerah ini hidup berdampingan dengan hewan buas di dalam hutan belantara. Di tengah-tengah Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), persisnya.

Desa yang dikelilingi perbukitan itu salah satu desa terpencil di Provinsi Bengkulu. Desa Sungai Lisai, Kecamatan Pinang Belapis, namanya. Desa dipedalaman provinsi Bumi Rafflesia itu berada di 40 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Lebong.

Bertemu dengan hewan buas seperti Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) bisa dikatakan sudah menjadi ''makanan'' sehari-hari kampung yang dihuni 87 Kepala Keluarga (KK).

Desa tersebut merupakan satu dari 8 desa di Kecamatan Pinang Belapis. Untuk menuju ke pusat perkampungan ini pun tak mudah. Dari pusat pemerintahan memakan jarak tempuh tidak kurang dari 4 jam perjalanan darat.

Untuk menempuh desa yang dihuni 87 Kepala Keluarga (KK) itu masyarakat musti berjalan kaki tidak kurang dari 4 jam hingga 5 jam perjalanan, dengan mengikuti aliran sungai Sebelat di daerah itu.

Penelusuran aliran sungai itu sebelum adanya pembukaan jalan setapak oleh prajurit TNI, Kodim 0409/Rejang Lebong, Bengkulu yang merupakan salah satu ''pengabdian untuk negeri''. Sejak tahun 1963 hingga Juni 2019 atau setara dengan 56 tahun.

Saat ini desa yang memiliki jumlah penduduk 326 jiwa itu sudah melintasi jalan setapak. Mereka pun sudah bisa melintas jalan setapak dengan sepeda motor roda ban tahu.

Namun, ketika dilanda hujan jalan dipenuhi lumpur yang dalam. Sehingga akses jalan sulit untuk ditempuh. Sejak dibukanya akses jalan itu masyarakat pun sudah bisa membawa hasil perkebunan dan pertanian ke luar desa dengan sepeda motor.

''Desa kami berada di tengah-tengah TNKS, melihat hewan buas sudah menjadi 'makanan'sehari-hari masyarakat. Desa ini sudah ada sejak 1963, dan definitif pada tahun 1974,'' kata Kepala Desa Sungai Lisai, Kecamatan Pinang Belapis, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, Hajron Hadi, saat ditemui okezone, Selasa 22 September 2020.

Berjalan Kaki 4 Hingga 5 Jam

Desa dipedalaman provinsi berjuluk Bumi Rafflesia ini merupakan satu dari 93 desa di Kabupaten Lebong. Di mana untuk menuju desa itu musti menuju ke Desa Sebelat Ulu, Kecamatan Pinang Belapis, terlebih dahulu.

Desa yang dihuni 380 jiwa itu merupakan daerah terakhir, sebelum tiba di desa yang dipimpin Kepala Desa, Hajron Hadi. Sungai Lisai. Dari desa ini hanya bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua yang sudah dimodifikasi dengan ban tahu.

Siang itu, Selasa 23 Sepetember 2020. Tidak kurang dari 150 prajurit TNI atau setara dengan 1 Satuan Setingkat Kompi (SSK) Satuan Tugas (Satgas) Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD) Reguler ke-109 bersama 100 masyarakat setempat kembali melakukan perbaikan jalan.

Jalan menuju ke Desa Sungai Lisai, tepatnya. Panjang tidak kurang dari 10,4 kilometer (KM). Cuaca cerah dengan sinar mentari yang menyengat tidak membuat ratusan prajurit TNI menghentikan kegiatan perbaikan jalan menuju desa pedalaman Bengkulu itu.

Mereka saling bahu membahu mengerjakan perbaikan jalan yang sebelumnya hanya selebar ban motor atau setapak tersebut menjadi selebar dua meter. Perbaikan akses itu tidak terlepas dari untuk mempermudah sarana transfortasi masyarakat setempat menuju pusat pemerintahan.

TNI Perbaiki Jalanan di Bengkulu (Demon)

Perbaikan jalan itu merupakan jalan penghubung antar Desa Sebelat Ulu, Kecamatan Pinang Belapis menuju Desa Sungai Lisai, Kecamatan Pinang Belapis, Kabupaten Lebong, panjang 10, 4 km.

''Sebelum ada pembukaan jalan pada tahun 1963 hingga pertengahan 2019, masyarakat jalan kaki 4 hingga 5 jam untuk ke luar dari desa menuju Desa Sebelat Ulu,'' kata Kades Sungai Lisai, Kecamatan Pinang Belapis, Hajron Hadi.

"Dikepung" Hewan Buas


Perkampungan yang berada dipedalaman Bengkulu itu merupakan 1 dari 8 desa di Kecamatan Pinang Belapis, Kabupaten Lebong yang masih membutuhkan perhatian banyak pihak. Baik dari pemerintah kabupaten, provinsi maupun pemerintah pusat.

Sebab, desa yang dihuni 87 KK dengan jumlah penduduk 326 jiwa itu masih terisolir. Kondisi itu ditandai dengan belum adanya sarana kesehatan, pendidikan, sarana infstruktur yang memadai. Begitu juga dengan telekomunikasi.

Berangkat dari kondisi tersebut, Kodim 0409/Rejang Lebong, memfokuskan kegiatan TMMD Reguler ke 109 di daerah pedalaman yang masih ''Dikepung'' hewan buas di tengah-tengah Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS).

Hal tersebut tidak lain, salah satu bentuk perhatian prajurit TNI dalam ''Pengabdian untuk Negeri'' di Bumi Rafflesia. Kegiatan itu sendiri tidak hanya sebatas perbaikan jalan akses menuju pusat desa.

''Sebelumnya, jalan sudah dibuka pada pertengahan tahun 2019. Pembukaan jalan itu selebar ban motor. Pada tahun ini perbaikan jalan menuju Desa Sungai Lisai kembali dilanjutkan melalui kegiatan TMMD Reguler ke-109,'' kata Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke 109, Kodim 0409/Rejang Lebong, Bengkulu, Letkol Inf. Sigit Purwoko melalui Pasiter Satgas TMMD ke 109, Kapten Cba Arif Parwoko, saat ditemui okezone, Senin 21 September 2020, malam.

Ratusan prajurit TNI juga melakukan pembangunan 2 rabat beton sepanjang 600 meter, 3 unit plat duiker, jembatan bentang berukuran 6 x 2 meter, merehab 2 unit didua desa di daerah tersebut.

Yakni, Masjid Al-Hilal di Desa Sebelat Ulu dan dan Masjid Al-Mujahirin di Desa Sungai Lisai, Kecamatan Pinang Belapis serta pembuatan 2 unit pos kamling didua desa tersebut.

Meskipun ''Dikepung'' dengan keberadaan hewan buas, prajurit TNI bersama masyarakat tetap bersemangat mengerjakan berbagai item yang masuk dalam program TMMD Reguler ke 109, yang dimulai sejak Senin 22 september hingga Rabu 21 Oktober 2020.

''TMMD Reguler ke-109 ini difokuskan untuk membuka akses desa paling ujung dan terisolir di Kabupaten Lebong,'' terang Dansatgas TMMD Reguler ke 109, Kodim 0409/Rejang Lebong, Bengkulu, Letkol Inf. Sigit Purwoko melalui Pasiter Satgas TMMD ke 109, Kapten Cba Arif Parwoko.

Warga yang Sakit Ditandu Meninggal Dunia di Jalan


Tidak hanya akses menuju jalan yang sulit ditempuh. Sejak desa itu sudah didiami penduduk sekira tahun 1963 belum tersentuh akses telekomunikasi atau blank spot. Tak jarang masyarakat di daerah tersebut tertinggal informasi dunia luar.

Namun, perjuangan membuka akses desa yang ''dikepung'' hewan buas di Bumi Rafflesia tersebut, setidaknya mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Di mana masyarakat sudah bisa mengakses jalan dengan sepeda motor guna membawa hasil perkebunan dan pertanian ke luar dari desa.

Sebab, sebelum adanya akses jalan masyarakat setempat membawa hasil perkebunan dan pertanian menggunakan jasa capung atau disebut kuli angkut. Bahkan, masyarakat membawa barang bawaan dengan jasa rakit dengan mengikuti aliran sungai Sebelat.

''Sebelum ada akses masyarakat juga sempat menggunakan jasa rakit menuju desa. Saatini masyarakat sudah bisa melalui jalan darat dengan menggunakan sepeda motor,'' kata Kades Sungai Lisai, Kecamatan Pinang Belapis, Kabupaten Lebong, Hajron Hadi, saat ditemui okezone, Selasa 22 September 2020.

Selain mempermudah akses disektor perekonomian, adanya akses jalan tanah kuning itu juga mempermudah masyarakat untuk keluar dari desa guna mendapatkan pelayanan kesehatan di desa tetangga terdekat.

Di mana sejak 1963 hingga pertengahan 2019, ketika masyarakat mengalami sakit atau ingin melahirkan musti digotong dengan cara ditandu secara bersama, dengan berjalan kaki tidak kurang dari 4 jam hingga 5 jam perjalanan.

Lebih menyedihkan lagi, ada beberapa masyarakat yang meninggal dunia di jalan ketika digotong keluar dari desa. Baik itu ibu hamil maupun bayi. Sementara di desa pedalaman itu hanya memiliki satu bangunan Polindes pondok bersalin desa dengan didukung 1 tenaga perawat.

''Ketika ada yang sakit atau ibu yang ingin melahirkan musti dibawa keluar desa. Sempat ada masyarakat yang meninggal dunia dijalan ketika digotong,'' cerita Hajron.

Mempermudah Akses Menuju Desa di Pedalaman


Desa yang berbatasan langsung dengan Desa Muara Madras, Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin, Jambi itu sudah mulai mengalami perubahan. Khsusunya, akses jalan menuju pusat pemerintahan desa.

Kondisi tersebut ditandai dengan masuknya prajurit TNI dari KOdim 0409/Rejang Lebong, Bengkulu, dalam kegiatan TMMD Reguler ke 109. Di TMMD itu tidak hanya perbaikan jalan menuju desa sepanjang 10,4 Km.

Namun, prajurit TNI juga melakukan pembuatan 2 rabat beton sepanjang 600 meter, 3 unit plat duiker, jembatan Bentang berukuran 6 x 2 meter, rehab 2 unit masjid, pembuatan 2 unit Pos Kamling.

Tidak hanya secara fisik, TMMD yang mengangkat tema Pengabdian untuk Negeri ini prajurit TNI juga melakukan kegiatan non fisik. Seperti, penyuluhan kesehatan, bela negara, hukum, narkoba, pertanian, wawasan kebangsaan, pemberdayaan masyarakat dan Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Dansatgas TMMD Reguler ke 109, Kodim 0409/Rejang Lebong, Bengkulu, Letkol Inf. Sigit Purwoko mengatakan, Desa Sungai Lisai merupakan perkampungan yang terisolir. Berangkat dari kondisi itu prajurit TNI melalui Reguler ke 109 membantu pemerintah daerah guna membuka akses desa terisolir tersebut.

Kondisi sebelumnya, Desa Sungai Lisai ditempuh dengan perjalanan 4 jam hingga 5 jam perjalanan. Namun, sejak dibuka akses jalan perjalanan dari Desa Sebelat Ulu, Kecamatan Pinang Belapis dapat ditempuh dengan 2 jam perjalanan.

''Sungai Lisai salah satu desa yang terisolir, sehingga TMMD Reguler ke 109 difokuskan ke daerah tersebut. Kegiatan ini juga dalam rangka membantu pemerintah daerah di sini (Kabupaten Lebong) guna pemerataan pembangunan di wilayah Lebong,'' kata Dandim 0409/ Rejang Lebong/Bengkulu, Letkol Inf. Sigit Purwoko.

Ditambahkan Camat Pinang Belapis, Bak Yuri, mengakui jika akses jalan menuju desa dengan memiliki sekira luas 6.442 Ha itu masih memprihatinkan. Di mana ketika belum akses jalan masyarakat yang sakit digotong. Bahkan, ada masyarakat yang meninggal dijalan.

''Desa ini (Sungai Lisai), satu dari delapan desa di Kecamatan Pinang Belapis. Dulunya desa tersebut ketika ada orang sakit musti digotong. Sempat ada ibu hamil yang meninggal dunia di jalan. Sejak akses jalan dibuka tentu ini sangat membantu masyarakat,'' jelas Bak Yuri, ketika ditemui di Desa Sebelat Ulu, Kecamatan Pinang Belapis, Selasa 22 September 2020.

Bak Yuri berharap, kegiatan TMMD di Desa Sungai Lisai dapat kembali dilanjutkan pada tahun selanjutnya. Sebab, TMMD dari prajurit TNI sangat membantu guna menunjang sarana pendidikan, kesehatan dan perekonomian masyarakat setempat.

''TMMD sangat membantu masyatakat di Desa Sungai Lisai, dalam menunjang pendidikan, keshetan begitu juga dengan perekonomian masyarakat dalam mengeluarkan hasil perkebunan dan pertanian,'' imbuh Bak Yuri.

Dilanjutkan Sekretaris Daerah (Sekda), Pemerintah Kabupaten Lebong, Mustarani Abidin, dari pemerintah daera memiliki komitmen untuk pembangunan desa terjauh atau terisolir. Khususnya, di Desa Sungai Lisai.

Namun, Mustarani mengakui, dari pemerintah daerah melalui Dinas Pekerjaan Umum tidak terjangkau dalam pembangunan akses jalan di daerah tersebut. Lantaran berada di kawasan TNKS.

Sehingga, jelas Mustarani, pemerintah daerah membutuhkan kerjasama dengan TNI dalam pembukaan akses jalan melalui TMMD Reguler ke-109. Sebab di daerah itu membutuhkan infrastruktur memadai.

''TMMD ini tentunya dapat membuka dan mempermudah akses masyarakat Desa Sungai Lisai menuju ke desa tetangga dan pusat pemerintahan,'' pungkas Mustarani.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini