Wajah Baru Hutan Mangrove Indramayu

Fathnur Rohman, Okezone · Kamis 01 Oktober 2020 20:28 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 01 525 2287022 wajah-baru-hutan-mangrove-indramayu-AkOPrQUaP9.jpg Hutan Mangrove Indramayu. Foto: Fathnur Rohman

INDRAMAYU - Minggu 27 September 2020 sekira pukul 16.40 WIB, seekor burung berbulu putih sedang sibuk mencari mangsa. Paruh runcingnya sesekali diarahkan ke dalam air, berharap ada ikan kecil yang bisa disantapnya.

Burung ini berjenis burung Kuntul Besar atau nama latinnya adalah Egretta alba. Ia senang hidup bergerombol. Habitat favoritnya yakni di lahan basah seperti di kawasan hutan mangrove di Desa Karangsong, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Siapa sangka kawasan hutan mangrove di Karangsong yang dahulu rusak, kini memiliki wajah baru. Ya, sekarang hutan itu menjadi tempat tinggal beberapa jenis burung pantai. Burung-burung ini secara alami menetap membangun sarang dan berkembang biak di atas rindangnya pohon mangrove.

Dulu, salah satu faktor penyebab terjadinya kerusakan di hutan mangrove Karangsong adalah karena ulah manusia. Kala itu masyarakat sekitar membuka lahan baru untuk tambak udang, yaitu dengan cara menebang pohon mangrove secara berlebihan.

Padahal keberadaan pohon mangrove di Karangsong sangatlah penting. Fungsi utamanya tentu untuk mencegah intrusi air laut, serta mencegah abrasi dan erosi pantai. Akan tetapi tidak kalah penting dari itu, kawasan hutan mangrove bisa menjadi tempat hidup dan sumber makanan bagi beberapa jenis satwa.

Hutang Mangrove Indramayu. Foto: Fathunur Rohman

"Fungsi mangrove kalau di perikanan, itu menjadi tempat mengasuhnya ikan. Ikan bertelur di situ, anak kan di situ. Termasuk jenis kepiting, udang, dan beberapa satwa lain berkumpul di situ. Kalau sudah besar dia akan lari ke laut lepas," kata petugas Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan Muda Bidang Pengelolaan Aliran Sungai Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Iyon Sugiono kepada Okezone belum lama ini.

Kawasan hutan mangrove di Karangsong berperan mengurangi infiltrasi air laut ke daratan. Selain itu hutan mangrove juga dapat menyaring kandungan garam pada air laut.

"Kalau dari konservasi, satu mangrove berfungsi untuk menahan ombak. Kedua, dapat mengurangi infiltrasi air laut ke daratan. Jadi air asin disaring dulu oleh mangrove sebelum dilepaskan. Menurut penelitian, saya lupa tahun berapa, infiltrasi di Indramayu sudah 17 kilometer," ujar Iyon.

Secara bertahap, proses rehabilitasi pohon mangrove di Karangsong sudah mulai dilakukan pada 2003 dan 2004. Namun presentase keberhasilan tumbuhnya pohon mangrove di kawasan ini pada waktu itu sangat rendah, yakni 60 persen. Banyak pohon mangrove yang ditanam rusak karena hantaman ombak.

Kondisi kawasan hutan mangrove di Karangsong saat ini sudah membaik. Hal ini berkat adanya penanaman pohon mangrove yang dilakukan secara berkala. Apalagi sejak tahun 2008, sebuah kelompok masyarakat bernama Kelompok Pantai Lestari dan Pertamina RU VI Balongan, menginisiasi untuk membuat hutan mangrove di Karangsong menjadi tempat wisata edukasi.

"Dari data kami kalau Karangsong itu exsitingnya 29 hektare. Tahun 2008 luasnya 15 hektare. Sekarang bertambah jadi 29 hektare," papar Iyon.

Hutang Mangrove Indramayu. Foto: Fathunur Rohman

Mengutip dari laman jabar.bps.go.id, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat mencatat pada 2016, luas lahan mangrove di Kabupaten Indramayu yang masuk dalam kategori rusak mencapai sekitar 9.191,78 hektare. Sementara sisanya, sekitar 1.783,77 hektare masuk dalam kategori sedang, sekitar 133,00 hektare masuk kategori rehabilitasi, dan sekitar 1.730,64 hektare masuk kategori baik.

Terawatnya kelestarian hutan mangrove di Karangsong telah membentuk ekosistem yang baik. Kawasan ini menjadi rumah bagi berbagai spesies satwa dan biota lainnya.

Berdasarkan data Tim Konservasi Keanekaragaman Hayati, Monitoring dan Evaluasi Keanekaragaman Hayati Konservasi Mangrove Karangsong, ada beberapa jenis burung yang dapat dijumpai di kawasan ini seperti burung jenis Kuntul Besar (Egretta alba), Kowak Malam Kelabu ( Nycticorax nycticorax), Blekok Sawah (Ardeola speciosa), Kuntul Karang (Egretta sacra), Cangak Merah (Ardera purpurea), Dara Laut Sayap Hitam (Sterna fuscata) dan lainnya. Bahkan jenis burung yang dilindungi sekalipun yaitu Rajaudang Kalung Biru (Alcedo euryzona), pernah menampakan diri di hutan mangrove Karangsong.

Burung yang bisa dijumpai di hutan mangrove Karangsong terbagi menjadi dua kategori. Yaitu burung pengembara dan burung penetap. Sebanyak 41 persen diketahui merupakan burung pengembara (migran) dan 59 persen lainnya adalah burung penetap.

Selain burung, ada juga biota air yang hidup di kawasan hutan mangrove Karangsong. Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat, sedikitnya ditemukan 21 spesies ikan dari 21 marga (genus) dan 19 famili di perairan mangrove dan pesisir sekitarnya. Ikan-ikan ini terdiri dari 48 persen jenis pemangsa atau (karnivora), 38 persen pemakan segala (omnivora) dan 18 persen pemakan tumbuhan (herbivora) dan detrivora.

Semakin baiknya ekosistem kawasan hutan mangrove di Karangsong, membuat keberlangsungan hidup satwa dan biota air yang tinggal di daerah ini semakin aman.

Merawat Kelestarian Hutan Mangrove Bukan Pekerjaan Mudah

Ahmad Latief (50), warga Desa Pabean Udik, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, sejak tahun 2003 sudah melakukan penanaman mangrove. Tujuannya, agar pohon mangorve di sekitar tempat tinggalnya bisa kembali lestari.

Bagi Latief, menanam mangrove sama saja dengan menebus dosa. Ia memiliki pengalaman menebang banyak pohon di Kalimantan, ketika ikut bekerja menambang emas sekitar tahun 1990-an.

Hutang Mangrove Indramayu. Foto: Fathunur Rohman

"Saya dulu pernah jadi nelayan di Kalimantan. Tiba-tiba berhenti di sana dan ikut kerja emas. Saat menebang emas saya banyak menebang pohon, karena akarnya itu berada di sela-sela akar pohon," ujar Latief saat ditemui Okezone belum lama ini.

Menurut Latief, saat dirinya kembali ke Indramayu, kawasan hutan mangrove di sekitar tempat tinggalnya sudah mengalami kerusakan. Penyebabnya karena masyarakat sekitar melakukan penebangan pohon mangrove secara besar-besaran. Tujuannya untuk membuka lahan tambak udang windu.

Latief kala itu sadar, bila pohon mangrove memiliki peranan penting untuk ekosistem alam. Atas dasar itu, ia mulai melakukan penanaman mangrove di sekitar tempat tinggalnya, dengan harapan supaya jumlah pohon mangrove kembali bertambah.

Usaha Latief untuk melakukan reboisasi pohon mangrove tidak berjalan mudah. Banyak rintangan yang harus ia hadapi. Seperti adanya penolakan yang datang dari petambak udang dan penebang pohon.

Tidak jarang Latief harus beradu argumen dengan mereka. Bahkan, ia sering terlibat perkelahian dengan orang-orang tersebut.

"Kadang kita kasih tahu mereka melawan. Kita sering tukaran atau adu argumen. Paling parah ada yang harus kita laporkan kepolisi, ada juga yang harus kita berantem di lapangan. Kalau mereka bawa parang saya juga bawa parang gitu," jelas Latief.

Seiring berjalannya waktu, sambungnya, masyarakat yang tadinya sempat menolak kini berubah pikiran. Mereka sadar akan dampak negatif yang ditimbulkan bila pohon mangrove dirusak.

Saat ini, kegiatan penanaman mangrove tidak hanya dilakukan di Desa Pabean Udik. Hampir seluruh daerah pesisir di Indramayu melakukan hal serupa.

Latief sendiri merasa senang, sebab kesadaran untuk menjaga kelestarian hutan mamgrove kini mulai menular kebanyak orang.

"Sekarang orang mulai sadar. Kawan-kawan semakin banyak dan semakin peduli. Allhamdulillah lingkungan kita jadi baik," imbuhnya.

Olahan Mangrove Tingkatkan Pendapatan Ekonomi

Latief saat ini menggantungkan hidupnya pada pohon mangrove. Ia mengelola lahan mangrove yang memiliki luas sekitar 15 hektare.

Bersama kelompoknya bernama Rumah Berdikari ia sering melakukan inovasi, agar semua bagian dari pohon mangrove bisa menjadi olahan bernilai ekonomi tinggi.

"Saat zaman penjajahan dulu pasti terjadi krisis pangan. Saya pernah dapat cerita, orang-orang yang tinggal di pegunungan itu mencari bahan pangan alternatif dari tanaman di gunung. Saya berpikir ketika itu orang tua kita bahan pangan alternatifnya apa?. Ternyata itu adalah pohon mangrove," ungkap Latief.

Latief bercerita, salah satu produk pertama yang dihasilkan dari olahan mangrove adalah sirup. Setelah itu, ia bersama dengan teman-temannya kemudian rajin membuat olahan baru berbahan dasar mangrove seperti kecap, pakan ikan, sampai kopi mangrove. "Sekarang kita sedang kosentrasi membuat batik mangrove," tambahnya.

Dari mengolah mangrove ini, Latief merasa pendapatannya mengalami peningkatan. Sampai-sampai ia bisa menguliahkan anak pertamamya.

"Dalam melakukan kegiatan ini, rezeki saya terbesar dalam satu bulan pernah mendapat uang diatas Rp20 juta. Mangrove ini luar biasa," ujarnya.

Rumah Berdikari yang ia dirikan, merupakan mitra binaan dari Pertamina RU VI Balongan. Saat ini kelompoknya sedang mengembangkan wisata edukasi mangrove di Desa Pabean Udik.

Pertamina RU VI Balongan mensuport untuk pembuatan saung edukasi dan papan informasi yang saat ini masih dibuat.

Selain itu, Pertamina RU VI Balongan dan kelompok Rumah Berdikarinya sedang melakukan pemasangan ban untuk mencegah abrasi di kawasan Desa Pabean Udik. Selanjutnya bakal dilaksanakan juga kegiatan penanaman mangrove.

Latief memiliki prinsip bahwa keberadaan pohon mangrove yang jumlahnya semakin banyak, harus bisa mendatangkan manfaat untuk masyarakat.

"Harapan kedepan supaya orang melihat mangrove itu bukan hanya wisata. Tapi harus ada edukasi soal mangrove yang harus ditularkan ke generasi berikutnya," ucap Latief.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini