Cerita Pasutri Anaknya Stres 3 Kali Gagal Jadi Polisi

Taufik Budi, Okezone · Selasa 06 Oktober 2020 21:14 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 06 512 2289502 cerita-pasutri-anaknya-stres-3-kali-gagal-jadi-polisi-XhdENXcQsn.jpg Sumarno dan istrinya menemui Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (Foto: Taufik Budi)

SEMARANG - Sumarno dan istrinya tampak gelisah di kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah. Mereka kebingungan karena belum mendapatkan solusi akibat anaknya stres karena gagal menjadi polisi.

Mereka harus berangkat pagi-pagi dari rumahnya di Boyolali dan ingin bertemu Gubernur Jawa Tengah Ganjar, untuk meminta solusi. Ganjar, yang baru keluar dari ruang kerja dan hendak menuju lokasi acara selanjutnya pun kaget saat dihentikan oleh keduanya. Guratan kebingungan tersirat dari mata Sumarno dan istrinya.

“Pak Gub, kami ingin cerita Pak,” tutur Sumarno yang langsung dipersilakan duduk oleh Ganjar di depan ruang kerjanya, Selasa (6/10/2020).

Baca Juga:  Api Abadi Mrapen Padam Total

“Pripun Pak, Bu, wonten masalah nopo? (Bagaimana Pak, Bu? Ada masalah apa?)” tanya Ganjar pada pasangan suami istri tersebut.

Sumarno pun langsung bercerita pada Ganjar, bahwa anaknya saat ini tengah stres karena gagal menjadi polisi setelah tiga kali mencoba. Sumarno mengatakan, anaknya sudah berusia 20 dan sudah putus asa untuk daftar polisi tahun depan.

Sumarno mengatakan, anaknya merupakan lulusan SMK dengan jurusan otomotif. Selama tiga tahun berturut, kata Sumarno, anaknya mencoba mengejar cita-citanya menjadi polisi.

“Tiga kali hampir semuanya gagal di tahap akhir, sekarang saya bingung, anak saya stres Pak. Saya ingin anak saya supaya bisa tetap sekolah Pak,” kata Sumarno dengan suara bergetar.

Baca Juga:  4 Daerah Ini Sangat Rendah Lakukan Tes Covid-19

Pada Ganjar, Sumarno mengaku tak mampu membiayai kuliah anaknya dan meminta bantuan Ganjar agar anaknya bisa kuliah. Sumarno mengaku tidak menemukan solusi tepat sehingga mengadu pada Ganjar.

“Kami nuwun sewu enggak mampu nyekolahke Pak, tapi pengin supaya anak bisa sekolah lagi (Kami tidak mampu membiayai kuliah, tapi saya ingin anak kami bisa sekolah lagi). Kuliah Pak,” katanya.

Ganjar yang mendengarkan itu, meminta agar Sumarno dan istrinya tidak ikut stres dan menyemangati anaknya. Dia mengatakan, gagal jadi polisi adalah wajar.
Namun, Ganjar meminta agar Sumarno dan istrinya mendidik anaknya agar tidak patah semangat dalam belajar. Ganjar sendiri mengaku memiliki pengalaman serupa. Dia juga bercerita bahwa salah satu kakaknya yang gagal masuk sampai 7 kali.
“Panjenengan kalau memang benar enggak mampu, bikin surat keterangan tidak mampu. Terus daftar yang masih bisa,” ucap Ganjar.
Ganjar pun menjelaskan program beasiswa bidik misi yang bisa dimanfaatkan putranya untuk bisa kuliah tanpa terbebani biaya. Hanya, Ganjar juga bingung karena waktu pendaftaran kuliah saat ini sudah tutup.
Ganjar kemudian bertanya pada beberapa stafnya, apakah ada program yang memungkinkan agar anak dari Sumarno bisa ikut. Kemudian, Ganjar teringat program magang kerja di Jepang yang diinisiasi oleh Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Jateng.
“Anaknya kan lulusan otomotif, bisa mbengkel. Atau ikut saja program magang kerja di Jepang. Lho, malah kerjo neng manca iso entuk duit (kerja di luar negeri bisa dapat uang), iku wae disiapke (itu saja disiapkan),” tandas Ganjar sembari pamit untuk menuju acara selanjutnya.
Mendengar solusi tersebut, air muka Sumarno dan istrinya berubah. Kesedihan mereka mulai menemui titik terang. Mereka pun berjanji akan menyampaikan solusi tersebut pada anaknya.
“Iya Pak, nanti saya bilang ke anak saya. Insya Allah mau. Matur nuwun nggih pak,” kata Sumarno.


Ganjar yang mendengarkan itu, meminta agar Sumarno dan istrinya tidak ikut stres dan menyemangati anaknya. Dia mengatakan, gagal jadi polisi adalah wajar.


Namun, Ganjar meminta agar Sumarno dan istrinya mendidik anaknya agar tidak patah semangat dalam belajar. Ganjar sendiri mengaku memiliki pengalaman serupa. Dia juga bercerita bahwa salah satu kakaknya yang gagal masuk sampai 7 kali.

“Panjenengan kalau memang benar enggak mampu, bikin surat keterangan tidak mampu. Terus daftar yang masih bisa,” ucap Ganjar.

Ganjar pun menjelaskan program beasiswa bidik misi yang bisa dimanfaatkan putranya untuk bisa kuliah tanpa terbebani biaya. Hanya, Ganjar juga bingung karena waktu pendaftaran kuliah saat ini sudah tutup.

Ganjar kemudian bertanya pada beberapa stafnya, apakah ada program yang memungkinkan agar anak dariSumarno bisa ikut. Kemudian, Ganjar teringat program magang kerja di Jepang yang diinisiasi oleh Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Jateng.

“Anaknya kan lulusan otomotif, bisa mbengkel. Atau ikut saja program magang kerja di Jepang. Lho, malah kerjo neng manca iso entuk duit (kerja di luar negeri bisa dapat uang), iku wae disiapke (itu saja disiapkan),” tandas Ganjar sembari pamit untuk menuju acara selanjutnya.

Mendengar solusi tersebut, air muka Sumarno dan istrinya berubah. Kesedihan mereka mulai menemui titik terang. Mereka pun berjanji akan menyampaikan solusi tersebut pada anaknya.

“Iya Pak, nanti saya bilang ke anak saya. Insya Allah mau. Matur nuwun nggih pak,” kata Sumarno.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini