Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Heboh Batu Beranak Muncul di Danau Sentani, Ini Penjelasan Arkeolog

Edy Siswanto , Jurnalis-Kamis, 08 Oktober 2020 |11:10 WIB
Heboh Batu Beranak Muncul di Danau Sentani, Ini Penjelasan Arkeolog
Batu Beranak di Danau Sentani. Foto: Edy Siswanto
A
A
A

SENTANI - Warga Sentani, Kabupaten Jayapura yang berada di sekitar Danau Sentani dihebohkan oleh munculnya gugusan batu tak biasa di danau itu.

Belum pasti siapa yang awalnya menemukan gugusan batu tersebut, namun informasi awal yang diperoleh, batu yang kemudian diduga memiliki nilai sejarah masa lampau ini muncul saat air danau surut.

Batu berbentuk lempeng dan beberapa mengerucut ini kemudian oleh warga setempat diberinama 'Batu Beranak' lantaran nampak tiga batu berjejer dengan bentuk dan ukuran berbeda.

Salah satu batu lebarnya sekira 1 meter dan tinggi mencapai sekitar 2 meter dari permukaan air danau. Batu ini disebut batu perempuan atau mama.

Sedangkan batu laki-laki berada mengapit batu anak dengan tinggi dari permukaan air sekitar 1 meter dan bentuknya mengerucut. Sementara batu anak yang berada di tengah berbentuk lempeng dan rata dengan permukaan air danau, sehingga tidak nampak dari kejauhan.

Ukuran batu ini diyakini cukup tinggi. Untuk batu perempuan/mama diperkirakan mencapai 5 meter atau bahkan lebih jika dilihat batu tersebut tertancap kokoh di dasar danau.

Sementara pihak Balai Arkeologi Papua menyebut batu tersebut adalah batu Menhir peninggalan zaman Megalitik atau sekitar 1500 SM silam.

Keberadaan Batu Beranak di Danau Sentani juga tidak ujuk-ujuk ada, peneliti senior Balai Arkeologi Papua Hari Suroto menegaskan bahwa batu tersebut pada zamannya itu sengaja dibawa dari sekitar kaki Gunung Cyclop untuk tujuan tertentu.

Hal ini ditunjukkan bahwa jenis Batu Beranak tidak sama dengan jenis bebatuan di sekitar Danau Sentani.

Baca Juga: Diduga Bangunan Bersejarah Ditemukan di Proyek Stasiun DDT Bekasi

"Jika melihat jenis batunya, batu beranak ini jenis batuan beku Peridotit dan banyak didapatkan di Pegunungan Cyclops. Posisi batu ini berdiri, jadi memang ada unsur kesengajaan. Maksudnya memang orang yang membawanya ke danau kemudian diberdirikan," kata Hari.

Lanjut dia, melihat ukuran batu yang besar dan berat, secara narasi ilmiah, proses pemindahan benda berat dari satu tempat ke tempat lain akan memerlukan banyak tenaga. Dengan kata lain, ada kegiatan gotong royong di zaman itu.

Baca Juga: Arkeolog Temukan Kerangka Panglima Perang Anglo-Saxon Berusia 1.400 Tahun

"Dengan melihat hal ini, maka bisa dipastikan ukuran batu yang besar dan berat, tentu saja dibutuhkan tenaga banyak orang untuk mengangkatnya. Pelajaran yang bisa diambil adalah nilai gotong royong. Nilai gotong royong ini perlu diajarkan ke generasi milenial,"kata Hari.

Kepala Balai Arkeologi Papua Gusti Made Sudarmika kepada media mengatakan sudah melihat langsung Batu Beranak itu pada Rabu (7/10/2020) siang.

"Jadi warga ini percaya bahwa batu ini memiliki nilai sejarah dan religi yang sangat tinggi. Warga tidak bisa sembarangan masuk ke lokasi batu ini, sehingga dengan cara berfikir seperti itu maka faktor-faktor Megalitik masuk di sini," kata Gusti Made.

Dijelaskannya, faktor-faktor sejarah zaman Megalitik bisa dilihat dari beberapa hal, di antaranya adalah adanya Batu Besar atau Menhir yang dipercaya sebagai perwujudan atau pemujaan roh nenek moyang.

Adanya bebatuan yang digunakan sebagai aktivitas masyarakat atau adanya Menhir yang digunakan sebagai batas wilayah dan bisa juga digunakan sebagai tanda wilayah kelompok masyarakat tertentu seperti di beberapa situs prasejarah dunia lain. Termasuk beberapa situs yang telah ditemukan sebelumnya. Kuat dugaan semua adalah peninggalan zaman Megalitik.

"Jadi Ini harus dilestarikan. Wilayah Sentani ini peradabannya sudah sangat maju. Ini terbukti dari beberapa situs sejarah yang telah ditemukan, seperti di situs Tutari kemudian adanya gerabah-gerabah yang sudah bermotif alam sekitar seperti ikan dan lainnya. Itu membuktikan dari segi seni dan kekerabatan sosialnya cukup tinggi," jelas Gusti Made.

Dikatakannya, untuk melakukan penelitian lanjut terhadap situs Batu Beranak ini, pihaknya akan menggandeng Lanud Silas Papare.

"Kata Pak Hari ini sudah dibicarakan bersama Danlanud Silas Papare bapak Marsma TNI Budi Achmadi dan akan dilakukan penyelaman, rencananya tahun depan karena anggota beliau ada yang memiliki sertifikat selam,"katanya.

Untuk diketahui, selain Batu Beranak di Danau Sentani, Kampung Kwadeware, situs peninggalan Megalitik juga ditemukan di beberapa lokasi. Yaitu situs Megalitik Tutari di Doyo Lama, Papan Batu di Situs Warakho, Doyo Lama, Papan Batu dan menhir di Situs Yomokho, Kampung Dondai, Distrik Waibu.

Selanjutnya Menhir berukir di Pulau Asei, Distrik Sentani Timur, dan Batu rexeki di Pulau Mantai, Kabupaten Jayapura.

(Abu Sahma Pane)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement