Masyarakat Bali Kembali Hidup Bertani Imbas Covid-19

Khafid Mardiyansyah, Okezone · Jum'at 09 Oktober 2020 01:17 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 09 244 2290740 masyarakat-bali-kembali-hidup-bertani-imbas-covid-19-ciFomBbk4Y.jpg Ilustrasi (Dok. okezone)

JAKARTA - Pandemi Covid-19 bukan cuma masalah kesehatan. Berbagai sektor, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial, kebudayaan hingga faktor psikologis masyarakat pun terdampak.

Secara ekonomi, Indonesia ada di minus 5,3% di kuartal kedua dan diprediksi berkontraksi ke minus 2,9% di kuartal ketiga.

Salah satu yang paling terdampak adalah masalah pariwisata. Masyarakat di Klungkung, Bali kembali mengandalkan pertaian usai pariwisata di sana menurun drastis.

Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta menjelaskan, sebelum pandemi, masyarakat Klungkung nyaris meninggalkan sektor pertanian lantaran potensi pariwisata Klungkung yang menjanjikan. Hal itu kemudian menyebabkan mereka merasakan dampak cukup parah ketika pandemi Covid-19.

Oleh karena itu, saat ini ia kembali menggerakkan berbagai program yang tidak terpaku pada satu sektor. Beberapa strategi pemulihan yang mulai berjalan, seperti pertanian, perkebunan, dan perikanan.

"Kami kembali menggalakan berbagai sektor yang selama ini nyaris ditinggalkan seperti singkong, jagung, kelapa. Ini akan dikerjasamakan dengan pemerintah Kanada untuk membuat inovasi produk berupa Rumah Keong, rumput laut, kelapa, dan mangga," ujarnya dalam diskusi bertajuk “Daerah Berdaya Saing, Kunci Pemulihan Ekonomi dari Pandemi”, Kamis (8/10/2020).

Sementara itu, Peneliti Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Sarah Hasibuan menilai pemerintah belum cukup maksimal untuk menggenjot pemulihan ekonomi.

Sarah mengatakan PEN belum mencerminkan empat pilar daya saing daerah berkelanjutan. Empat pilar yang dimaksud adalah lingkungan lestari, ekonomi unggul, sosial inklusif, dan tata kelola daerah yang baik.

Studi yang dilakukan KPPOD atas 356 kabupaten menunjukkan ada beberapa tipologi daya saing daerah, yaitu daerah dengan ekonomi yang unggul, memiliki persoalan kelestarian lingkungan, Daerah dengan ekonomi dan sosialnya rata-rata, lingkungannya cukup lestari, dan aspek sosial tidak menjadi pilar yang dominan bagi daerah yang berdaya saing berkelanjutan.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nur Hidayati memaparkan tiga cara membalikkan krisis, yaitu pemulihan ekologis, mengurangi kerentanan, dan perubahan sistem.

Menurut Yaya, sapaan akrabnya, ekspansi industri kreatif dan monokultur harus dihentikan. Ekosistem-ekosistem esensial yang berfungsi sebagai sumber pangan dan air komunitas harus dipulihkan dan diselamatkan. Efisiensi sumber daya alam dan mempertahankan umur produk selama mungkin juga harus dikedepankan.

“Indikator kemajuan alternatif tidak berbasis growth, melainkan kualitas well-being mengacu pada laporan terbaru dari UNI Special Rapporteur on Extreme Poverty,” ujar Yaya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini