Rawan Klaster Covid-19, Polda Jateng Tak Izinkan Demo UU Cipta Kerja

Taufik Budi, Okezone · Minggu 11 Oktober 2020 20:22 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 11 512 2291958 rawan-klaster-covid-19-polda-jateng-tak-izinkan-demo-uu-cipta-kerja-uP1vDzKSIc.jpg Demo tolak UU Cipta Kerja di kawasan Harmoni, Jakarta, pada Kamis (8/10/2020).

SEMARANG – Unjuk rasa tolak pengesahan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja di Kota Semarang dan berbagai daerah di Jawa Tengah menimbulkan kekhawatiran potensi ledakan kasus Covid-19. Sebab, selama demonstrasi mereka tak menerapkan protokol kesehatan.

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Iskandar Fitriana Sutisna, mengatakan aksi unjuk rasa menciptakan kerumunan dan keramaian sehingga rawan terjadi penularan virus corona. Untuk itu, masyarakat perlu mengutamakan kesehatan dan keselamatan.

"Utamakan kesehatan dan keselamatan rakyat. Pandemi Covid-19 masih menghantui kita dan keluarga. Pakai masker, jaga jarak, dan hindari kerumunan," ucap Iskandar, Minggu (11/10/2020).

Sebelumnya Polda Jawa Tengah juga tidak akan mengeluarkan izin terhadap aksi unjuk rasa atau keramaian selama masa pandemi ini. Termasuk di antaranya tidak memberikan izin terhadap aksi unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja guna mencegah mata rantai penularan Covid-19.

"Apalagi aksi unjuk rasa yang sulit untuk menghindar dari jarak atau kerumunan massa, lebih baik kita berdoa dari rumah karena aspirasi masyarakat sudah didengar oleh anggota DPR dan Pemerintah," katanya.

Sementara itu, Keepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono mengatakan sebanyak 150 pendemo yang diamankan telah reaktif Covid-19 setelah dilakukan rapid test. Dari jumlah itu, sebanyak 45 orang telah dibawa ke Wisma Atlet untuk menjalani isolasi.

"Dari hasil rapid test ditemukan ada 145 reaktif Covid-19. Semua (pendemo) yang kita amankan dilakukan protokol kesehatan, itu kita menemukan 145 reaktif," ujar Argo.

Baca Juga : BIN Kantongi Nama Dalang di Balik Kerusuhan Demo Omnibus Law

"Dan di Polda Metro Jaya, ada 27 orang yang sudah kita kirim ke Wisma Atlet. Kita kirim malam itu juga setelah kita lakukan rapid test. Biar dari gugus tugas Covid-19 yang merawat," katanya.

Sebagaimana diketahui, sejumlah massa dari buruh, mahasiswa, dan masyarakat sipil menggelar aksi demonstrasi tolak Omnibus Law Cipta Kerja di sejumlah daerah berujung rusuh atau chaos. Polisi pun melakukan penangkapan massa yang diduga melakukan rusuh dan membakar fasilitas umum.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini