Kesiapsiagaan Kementerian PUPR dalam Menghadapi Potensi Bencana Banjir Musim Penghujan 2020-2021

Karina Asta Widara , Okezone · Sabtu 17 Oktober 2020 13:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 17 1 2295150 kesiapsiagaan-kementerian-pupr-dalam-menghadapi-potensi-bencana-banjir-musim-penghujan-2020-2021-RE5kTer7RK.jpeg Foto : Dok.Kementerian PUPR

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) telah melakukan antisipasi terhadap potensi bencana banjir pada musim hujan 2020-2021. Hal tersebut disampaikan secara langsung oleh bapak Direktur Jendral Sumber Daya Air Ir. Jarot Widyoko dalam acara meeting zoom pada Jumat (16/10/2020). Ia menyampaikan bahwa acara hari ini sebagai tidak lanjut dari rapat kabinet terbatas beberapa hari yang lalu, dimana presiden Jokowi secara langsung memimpin rakor berdasarkan laporan BMKG tentang adanya fenomena La Nina yang menambah risiko terjadinya banjir, puting beliung dan longsor.

"Ada prakiraan dari BMKG ada tiga poin. Yang pertama adalah hidrometeorologi, yang kedua gempa dan yang ketiga tsunami. dari kementrian PUPR semaksimal mungkin akan mempersiapkan apa yang bisa kita siapkan karena untuk kejadian banjir rasanya hampir setiap tahun kita menghadapi ini," terang Direktur Jendral Sumber Daya Air Ir. Jarot Widyoko

lebih lanjut Jarot mengatakan kedepan ini dengan adanya prediksi La Nina, intensitas hujan akan terus bertambah sekitar 30-40%. Dengan demikian di dalam menghadapi fenomena ini, Kementrian PUPR tidak bisa mengerjakan ini sendirian melainkan dibutuhkan kesiapseiagaan dari kementrian-kementrian yang lain kemudian maskyarakat sendiri harus diberikan sosialisasi untuk mengetahui apa yang bisa dilakukan sebelum terjadi bencana.

"Di Kalimantan misalnya secara umum puncak musim hujan akan terjadi pada Desember sampai dengan Januari 2021. Sedangkan di pulau sulawesi ini puncaknya Januari hingga April, lalu untuk pulau Sumatera puncak musim hujan akan terjadi di bulan November dan Pulau Jawa akan terjadi puncak musim hujan dimulai pada bulan Februari 2021," paparnya.

Berdasarkan hasil catataan kabinet terbatas dari 2300 jumlah peristiwa bencana yang terjadi di sepanjang 2020, hampir 35% berkaitan dengan banjir kemudian 25% dengan puting beliung. Dan di tahun 2020 ini memang diperkirakan akan muncul bencana terhitung sejak September akhir, Oktober hingga akhir Desember dan puncaknya akan muncul di bulan Januari hingga Februari tahun 2021.

“Kami juga menginformasikan kepada seluruh balai, ada 34 balai di wilayah sungai yang ada di Indonesia mempersiapkan masing-masing kondisi yang semaksimal kita lakukan,” katanya.

Kondisi prasarana SDA saat ini dusampaikan oleh Jarot, yaitu kondisi waduk yang berjumlah 242 bendungan memiliki total tampungan sebesar 7,2 milyar m3 dan saat ini tampungan tersebut telah terisi 2,8 milyar m3, maka sisa volume tampungan ada sebesar 4,4 milyar m3. Dari 61 bendungan yang akan dibangun, ada sebanyak 43 bendungan dimanfaatkan untuk mereduksi banjir sebesar 13.458,33 m3/dt. Rincian 43 bendungan tersebut yaitu 9 bendungan Sumatera, 24 bendungan Jawa, 4 bendungan Kalimantan, 9 bendungan Sulawesi, 3 bendungan Bali, 11 bendungan Nusa Tenggara, dan 1 bendungan Maluku.

“Ada satu moto yang akan kita gaungkan. Yakni 'Kembalikan Air ke Bumi' siapapun mulai dari berapapun yang bisa kita lakukan. Kalo ditungkat rumah dengan cara membuat sumur resapan, membuat kolam-kolam. Intinya adalah, tahanlah air hujan yang turun kembalikan ke Bumi sehingga jika semua masyarakat ikut berpartisipasi, Insya Allah ini signifikan,” tutur Jarot.

Jarot juga menegaskan kepada masyarakat harus ikut berperan untuk mencegah terjadinya bencana ini. Sebagai contoh yang memiliki lahan perkebunan, yang mempunyai komplek perumahan atau pengembang diharapkan turut berpartisipasi untuk mengembalikan air ke dalam bumi.

“Kami juga sudah menginformasikan kepada semua kepala balai yang ada bendungannya agar segera berkordinasi dengan aparat terkait. Kalo perlu lakukan simulasi seandainya hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi. Sehigga paling tidak kita tahu apa yang harus kita lakukan saat bencana terjadi,” paparnya lagi.

Program penanggulangan banjir tahun 2020 dengan dana anggaran sebesar Rp4,5 triliun telah dialokasikan untuk normalisasi sungai sebesar Rp2,9 triliun, pemeliharaan sungai sebesar Rp0,5 triliun, drainase sebesar Rp0,1 triliun, perkuatan tebing sungai sebesar Rp0,6 triliun, kolam retensi sebesar 0,2 triliun dan perencanaan teknis sebesar Rp0,2 triliun, seperti program pembangunan saluran pengendali banjir KEK Mandalika yang akan selesai di akhir tahun 2020, kemudian pembangunan kolam retensi sungai bendung di Palembang yang sudah siap beroperasi.

“Selain ini juga ada penanganan darurat, penanganan bencana alam yang kami siapkan seperti kegiatan-kegiatan yang langsung bergerak dnegan reakasi cepat. Dan di sisi lain untuk mengingkatkan kesiapan kita dalam menghadapi banjir-banjir ke depan, setiap tahun kami terus menambah sarana yang ada di balai-balai di Indonesia,” terangnya lagi.

Terkait kesiapan peralatan dan bahan banjiran, saat ini tersedia sandbag sebanyak 327.963, geobag sebanyak 15.902, kawat bronjong sebanyak 65.274, sebanyak 102 unit dump truck, 13 unit mobil pick up, 13 unit truck trailer, 138 unit excavator, 49 unit amphibious excavator, 51 unit mobile pump, 60 unit perahu karet, dan 18 unit mesin outboard yang tersedia di seluruh B/BWS, namun jumlah tersebut belum termasuk peralatan dan bahan banjiran yang tersedia di instansi lain pada masing- masing wilayah kerja B/BWS.

Penggunaan dana tanggap darurat sebesar 450 milyar yang dialokasikan di tahun anggaran 2021, sebagian dilaksanakan dengan metode padat karya, tergantung dengan kondisi di lapangan.

“Kita akan bisa lebih cepat merespon apa yang harus kita lakukan pada saat terjadinya bencana, setelah bencana kemudian apa yang bisa kita bantu kepada masyarakat,” urainya.

Kesiapsiagaan lain yang kami siapkan untuk jangka panjang adalah terciptanya sistem Fast Respond dimana masyarakat dapat melakukan pelaporan terkait kondisi atau pelaporan kejadian banjir yang dapat dikirimkan melalui WA Center maupun penggunaan hastag #Banjir #Kebanjiran di media sosial Twitter. Pelaporan dari masyarakat akan diterima oleh Pos Pendukung SDA yang kemudian akan diteruskan ke Pos Siaga Banjir di Balai masing-masing yang juga akan berkoordinasi dengan beberapa instansi terkait seperti BNPB, BPBD, dan Pemda untuk melakukan penanganan bersama.

“Semua bisa berpartisipasi untuk bisa mengurangi terjadinya bencana tersebut mulai dari diri kita sendiri. Karena sebenarnya tanpa kita sadari kita telah menabung bencana. Kita membuat rumah kita dengan beton sehingga air tidak mampu terserap ke dalam tanah dan terjadilah banjir. Dan ini tentu akan merugikan saudara kita yang ada di hilir,” tutupnya

Jarot juga menyampaikan kesiapan dari Direktorat Sumber Daya Air hingga saat ini sudah sangat maksimal. Dan kegiatan yang telah disiapkan dengan membangun banyak bendungan memang tidak bisa dilakukan dengan sekejap dan memerlukan waktu sekitar 3-4 tahun. Maka dari itu, ia berharap semua lapisan masyarakat bisa berpartisipasi untuk bersama-bersama mencegah terjadinya bencana banjir di Indonesia.

“Mari kita kembalikan air ke bumi, tahan air selama mungkin di bumi, simpan air ke bumi, tampung air kebumi,” tutupnya.***

CM

(yao)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini