Duterte Nyatakan Siap Bertanggung Jawab Atas Pembunuhan dalam Perang Narkoba

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 20 Oktober 2020 13:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 20 18 2296563 duterte-nyatakan-siap-bertanggung-jawab-atas-pembunuhan-dalam-perang-narkoba-6JPVSUhEMH.jpg Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (Foto: RTVM)

MANILA - Presiden Filipina, Rodrigo Duterte mengatakan bahwa dia tidak masalah jika dimintai pertanggung jawaban atas banyaknya pembunuhan di bawah kebijakan “perang melawan narkobanya”. Dia menambahkan siap menghadapi dakwaan yang dapat menjebloskannya ke penjara terkait kematian-kematian tersebut, tetapi tidak terkait dengan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dalam pernyataan yang disiarkan di televisi pada Senin (19/10/2020) Duterte mengakui bahwa dia berpotensi menghadapi banyak tuntutan pidana atas kampanye berdarah yang dia luncurkan setelah menjabat pada 2016 itu.

BACA JUGA: Duterte Bantah Ribuan Orang Tewas Akibat Operasi Anti-Narkobanya 

Perang melawan narkoa Duterte menewaskan hampir 6.000 tersangka narkoba telah dilaporkan oleh polisi. Namun, pengawas hak asasi (HAM) menduga jumlah kematian jauh lebih besar.

"Jika ada pembunuhan di sana, saya katakan sayalah orangnya... Anda dapat meminta pertanggungjawaban saya atas apa pun, kematian apa pun yang terjadi dalam pelaksanaan perang narkoba, '' kata Duterte sebagaimana dilansir Associated Press.

"Jika Anda terbunuh, itu karena saya marah dengan obat-obatan," kata manta Wali Kota Davao itu. “Jika itu yang saya katakan, bawa saya ke pengadilan untuk dipenjara. Baik, saya tidak punya masalah. Jika saya melayani negara saya dengan masuk penjara, dengan senang hati. ''

Setidaknya ada dua pengaduan atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan pembunuhan massal sehubungan dengan kampanye Duterte sedang diperiksa oleh jaksa Pengadilan Kriminal Internasional, yang akan menentukan apakah ada cukup bukti untuk membuka penyelidikan skala penuh.

Duterte menanggapi pengaduan tersebut dengan menarik Filipina keluar dari pengadilan dunia tersebut dua tahun lalu, dalam sebuah langkah yang menurut kelompok HAM sebagai kemunduran besar dalam pertempuran negara melawan impunitas. Jaksa ICC mengatakan pemeriksaan pembunuhan narkoba akan terus berlanjut meskipun Filipina menarik diri.

BACA JUGA: Sarankan Orang-Orang Cuci Masker dengan Bensin, Duterte: Saya Tidak Bercanda

Terkait hal ini, pada Senin, Duterte bertanya: sejak kapan "narkoba menjadi kemanusiaan?''

Dia kembali menekankan akan ancaman narkoba sebagai ancaman terhadap keamanan nasional dan publik Filipina, yang wajib ditumpas oleh pemerintah. Dia menyamakan ancaman narkoba seperti ancaman dari pemberontak komunis Filipina.

“Jika ini dibiarkan terus menerus dan jika tidak ada tindakan tegas yang diambil terhadap mereka, itu akan membahayakan keamanan negara, '' kata Duterte.

"Ketika Anda menyelamatkan negara Anda dari kehancuran orang-orang seperti NPA dan obat-obatan, Anda melakukan tugas suci,'' tambahnya, merujuk pada pemberontak komunis Tentara Rakyat Baru (NPA).

Menurut data badan anti-narkotika Filipina, ada 1,6 juta pecandu narkoba di negara itu. Angka tersebut jauh lebih kecil dari 4 juta pecandu yang disebutkan Duterte pada awal masa kepresidenannya sebagai pembenaran atas tindakan keras terhadap narkoba.

Polisi telah melaporkan sedikitnya 5.856 tersangka narkoba telah tewas dalam penggerebekan dan lebih dari 256.000 lainnya ditangkap sejak dimulainya tindakan keras tersebut. Kelompok HAM menuduh pihak berwenang kurang melaporkan kematian tersebut.

Duterte mengatakan pembunuhan narkoba yang tidak terjadi selama operasi polisi seharusnya tidak disalahkan padanya, menambahkan kematian itu mungkin dipicu oleh persaingan geng atau penyelesaian masalah.

Ada kecurigaan luas atas pembunuhan di luar hukum dalam tindakan keras tersebut, tuduhan yang dibantah oleh Duterte dan polisi. Pada 2018, pengadilan memvonis tiga petugas polisi karena membunuh seorang siswa berusia 17 tahun setelah saksi dan video keamanan membantah klaim mereka bahwa tersangka ditembak setelah melakukan perlawanan dengan kekerasan, alasan umum yang dikutip oleh petugas polisi setelah tersangka narkoba dibunuh.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini