Pandemi Covid-19, Kemenristek Minta Lulusan Perguruan Tinggi Bikin Usaha Sendiri

Hambali, Okezone · Rabu 21 Oktober 2020 14:53 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 21 65 2297220 pandemi-covid-19-kemenristek-minta-lulusan-perguruan-tinggi-bikin-usaha-sendiri-Fap8WrPKZh.JPG Foto: Okezone/Hambali

TANGERANG SELATAN - Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) mendorong lulusan perguruan tinggi mampu menciptakan usaha sendiri berupa startup. Selain untuk menekan jumlah pengangguran, upaya itu efektif pula dalam mengembangkan inovasi dan kreatifitas setiap lulusan.

Data yang dihimpun, jumlah tenaga kerja yang sedang mencari lapangan pekerjaan saat ini mencapai sekira 7 juta orang. Mereka tersebar mulai dari Aceh sampai Papua. Sedangkan angkatan kerja per tahun sekitar 2,9 juta.

Belum lagi kondisi pandemi Covid-19 yang memberikan dampak bagi pekerja. Kementerian Ketenagakerjaan sendiri membeberkan data bahwa ada 3,5 juta tenaga kerja yang terkena PHK, di sisi lain Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mencatat sekitar 5 juta orang yang terkena PHK.

Untuk itulah, Kemenristek berupaya pula mencari terobosan dengan mendorong lulusan perguruan tinggi mampu menciptakan startup. Tentunya melalui kerjasama dengan perguruan tinggi negeri ataupun swasta yang ada.

"Kemudian saya, tadi saya sampaikan, menitipkan beberapa materi-materi yang sifatnya serba enterpreneur, sehingga mereka langsung punya ide pembuatan startup. Startup apa saja, mulai dari kan ada membikin dari sesuatu yang kecil," ungkap Plt Sekretaris Utama Kemenristek, Mego Pinandito, usai menghadiri Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) di Universitas Terbuka, Pondok Cabe, Pamulang.

Dengan pengembangan bakat enterpreneur itu, maka setiap lulusan perguruan tinggi tak lagi harus bingung mencari lapangan kerja karena telah fokus membangun jaringan dari startupnya masing-masing.

"Jadi begitu lulus ya sudah ada statusnya, bukan lagi mencari kerja," sambungnya.

Dia pun membandingkan, mahasiswa yang menimba ilmu di kampus-kampus konvensional memang kerap menghadapi tantangan lebih rumit ketimbang mereka yang kuliah dengan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di Universitas Terbuka. Di mana mahasiswa di kampus UT terdiri atas berbagai status sosial.

"Lulusan dari UT itu sangat luas alumninya. Karena ada yang statusnya sudah direktur, manajer, bupati, gubernur, ada yang sudah menjadi bos. Sehingga sebelum lulus mereka sudah punya link yang kuat dengan komunikasi terhadap berbagai status itu. Berbeda dengan kampus konvensional, di mana setelah lulus perlu melanjutkan ke kursus-kursus tertentu," ucapnya.

Kemenristek mendorong generasi muda, khususnya dari perguruan tinggi untuk tidak melihat startup hanya dalam lingkup bisnis berbasis online saja, tetapi juga melihatnya dari bidang lain yang sudah harus menerapkan teknologi terbaru.

Salah satunya adalah startup di bidang genome bernama Nusantics yang didukung oleh Kemenristek/BRIN serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Nusantics kini sudah berhasil merancang Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) test kit untuk deteksi Covid-19 yang akan diproduksi massal oleh PT Bio Farma.

Sementara, Rektor UT Ojat Darojat, mengaku bahwa Kemenristek/BRIN dan Kemendikbud adalah 2 lembaga yang menjadi naungan UT selama ini. Sehingga, pihaknya akan memberikan kontribusi bagi penerapan berbagai program di kedua kementerian itu yang berkaitan dengan kapasitas sebagai kampus cyber.

"Pada saat ini ada arahan pemerintah terhadap UT seiring kemampuan yang membaik. Maka diharapkan UT naik kelas, dari sebuah PTN PK-BLU menjadi PTN BH. Mudah-mudahan dengan perubahan status maka UT bisa berperan lebih maksimal," ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini