10 Tahun Tsunami Mentawai Sisakan "PR" Pemulihan Korban

Rus Akbar, Okezone · Minggu 25 Oktober 2020 21:49 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 25 340 2299382 10-tahun-tsunami-mentawai-sisakan-pr-pemulihan-korban-N2bJKUhsNh.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

MENTAWAI - Masih terbayang gempa dan tsunami di pikiran Erdiman Saogo (38) warga Dusun Purorougat, Desa Bulasat, Kecamatan Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. 10 tahun lalu pada 25 Oktober 2010 sekira pukul 21.42 WIB, bencana dahsyat itu meluluhlantakkan tempat tinggalnya,

Kata Erdiman, saat itu dusunnya hanya berjarak 50 meter dari bibir pantai, pada pukul 20.00 WIB biasanya anak-anak dan orangtua pergi menonton televisi. Maklum, televisi di dusun tersebut baru tiga rumah sedangkan jumlah kepala keluarga pada saat itu sekira 80 an.

“Sementara kaum laki-laki khususnya bapak-bapak main domino dan itu kesibukan sebelum jelang tidur,” ungkapnya, Minggu (25/10/2020).

Baca Juga: Ada Suara Gemuruh Setelah Gempa Mentawai 

Saat sedang asyik menonton dan main domino tiba-tiba datang gempa tidak terlalu kuat, lantaran tidak terlalu kuat ada sebagian warga tidak panik dan santai serta biasa saja.

“Tapi saya dan sebagian warga lainnya yang sudah dibekali tentang bencana gempa tsunami dengan itulah kami mengerti tanda- tanda tsunami, setelah gempa terjadi beberapa menit langsung lihat pantai dan laut, saat itu setelah guncangan gempa air laut surut dan sekira 20 menit menyusul terdengar suara gemuruh seperti suara pesawat tempur yang menghampiri kami dengan melihat surutnya air laut kami cepat-cepat sampaikan dan bersorak sampaikan kepada warga untuk naik ke bukit,” tuturnya.

“Pada saat itu anak saya masih satu orang kugendong dia masih bayi umur 5 bulan bersama istri bergegas naik ke bukit sekira jauhnya 1 kilometer dari permukiman tanpa bawa pakaian ataupun pulang ke rumah, saat itu langsung saja menuju bukit sambil berlari dengan memakai senter, ada juga masih menyempatkan pergi ke rumah mereka, dan ada juga warga tidak takut karena fenomena tsunami belum pernah terjadi,” ujarnya.

Baca Juga: Korban Tewas Gempa & Tsunami Mentawai 343 Jiwa 

Erdiman sambil menceritakan kejadian itu sambil berlinang air matanya dia bersedih mengingat bencana menimpa kerabat dan keluarganya. Saat lari ke bukit Erdiman hanya mengandalkan senter baterai dan sampai ke permukiman dusun Muntei besar sekira 1 kilometer dari permukiman Purorougat.

“Kami disana dibantu oleh warga setempat diberi makan dan menginap, karena di dusun itu tidak sampai tsunami, sekira pukul 24.00 WIB sebagian warga turun lihat kondisi di kampung Purourougat, ternyata tidak ada rumah berdiri lagi, ada 80 rumah, dan 2 unit gereja tidak ada lagi tinggal pondasinya saja, kerangka bangunan sudah menjadi puing-puing, saya tidak tahu sebesar apa ombak menghancurkan semua itu,” tuturnya.

Baca Juga: Mentawai Gempa 7, 2 SR, Berpotensi Tsunami

 

Lanjut Erdiman, dari malam sampai pagi tidak ada yang tidur, kemudian pagi harinya warga melakukan pencarian mayat. “Semua mayat yang kami temukan tanpa busana, badan gembung dan hitam-hitam sama seperti kena air panas, mungkin karena air laut ada belerangnya dan kemudian pencarian mayat dibantu warga Asahan untuk menandai korban masih jelas, ada sebanyak 54 mayat ketemu tapi ada 3 lagi tidak ketemu hingga sekarang, laki-laki dewasa dua orang dan perempuan dewasa satu orang. Selama 2 hari mayat dikumpul dan di data kemudian pastor dan pendeta datang untuk mendoakan saat dikubur massal, kemudian sekira seminggu melakukan pencarian korban yang tiga orang lagi ,tapi tidak ketemu,” tuturnya.

Hari kedua bantuan makanan, tenda, selimut, pakaian dan alat dapur datang dari pemerintah dan NGO, kemudian warga direlokasi sekira 9 kilometer dari permukiman lama di tenda PMI dan ada dapur umum yang disiapkan PMI. “Pada awal Januari 2011 kami di beri hunian sementara (Huntara) dari PMI dan 2015 kami dapat bantuan hunian tetap (huntap ) dari Pemerintah, saat ini kami ada sekira 133 kepala keluarga di Dusun Purorougat yang dibagi tiga Dusun Kilometer 37, Dusun Purorougat Timur dan Dusun Purorougat Barat,” katanya.

Di bulan ini Oktober sering terjadi gempa trauma masyarakat masih ada walaupun sudah berada di ketinggian atau di huntap masih banyak takut. “Saya juga sebagai kepala Dusun Purorougat imbau warga untuk sementara tidak boleh dulu ke permukiman lama nanti setelah aman baru turun lagi, mana tahu terulang lagi tsunami seperti 2010 yang lalu,” ujarnya.

Selama direlokasi ke huntap sejak 2010 hingga sekarang ini 2020 ekonomi masyarakat belum membaik, dan bahkan untuk pemenuhan kebutuhan hidup masih mengandalkan ke permukiman lama sekira 9 kilometer jauhnya.

“Belum ada jalan kendaraan roda dua dan empat, untuk menuju ke sana jalan kaki, di permukiman lama menggarap sawah, kelapa, cengkeh, pala, pinang, cari ikan laut, teripang dan udang lobster, rutinitas warga huntap berangkat Senin pulang Jumat atau Sabtu,” jelasnya.

Erdiman berharap pemerintah bangun jalan hingga ke permukiman lama, agar ekonomi kembali pulih, sebab andalan umum masyarakat masih di permukiman lama hingga sekarang, karena ekonomi sulit ada sekira 30 orang yang merantau ke daerah lain di Pesisir Selatan, Pekan Baru dan di Kota Padang.

“Ada bekerja di perkebunan sawit, pembantu rumah tangga dan ada bekerja di bangunan proyek, mereka sekali-kali pulang kampung, ada juga belum pulang, mereka merantau kebutuhan anak-anak mereka sedang sekolah ataupun sedang kuliah,” ucapnya.

Ditambah lagi saat ini dampak virus corona, harga komoditi anjlok seperti kelapa, pisang dan hasil laut. “Meski kami saat ini sudah tinggal di huntap bantuan yang diberikan pemerintah tapi status tanah permukiman belum jelas dan saya berharap pemerintah segera terbitkan sertifikat kepemilikan huntap, kemudian kami ini listrik gratis dari pemerintah seperti di daerah lain, lalu akses jalan poros Pagai Selatan karena transportasi truk atau mobil angkut hasil kebun masyarakat, jalan tersebut perlu diperbaiki saat ini kondisinya berlumpur dari Kilometer 5 sampai Kilometer 21 sulit melintas kendaraan roda dua maupun roda empat,” ujarnya .

10 tsunami Mentawai permukiman masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang belum terselesaikan hal itu dikatakan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Mentawai, Novriadi.

“Ini masih banyak PR. PR yang berdampak itu saja sangat banyak, Pertama, pemulihan ekonomi masyarakat, penguasaan lahan. Lahan yang baru pasti mereka miliki adalah tapak rumahnya sementara lahan usaha mereka belum memiliki, itu gara-gara masalah itu kawasan hutan. Nah itu menjadi pekerjaan rumah yang besar bagaimana menuntaskan lahannya ini bisa alih fungsi pertama statusnya itu alih fungsi menjadi Hak Penggunaan Lain (HPL) dan itu dalam revisi RT RW itu sudah masuk, kalau proses di kementerian kehutanan ini berlarut-larut yang paling dekat secara aturannya adalah revisi RT RW,” ucapnya.

Kedua, kata Novriadi adalah masalah kepastian kepemilikan lahan seperti sertifikasi ini sudah diangsur mana daerah HPL itu yang disertifikasi seperti daerah Sipora Selatan itu sudah sertifikasi walaupun belum sepenuhnya.

“Kemudian yang paling minim itu adalah infrastrukturnya, jalan-jalan, listrik kemudian air bersih ini masih PR besar yang sudah dibangun dan dihibahkan pembiayaan dari BNPB belum maksimal belum cukup tercover semuanya, apalagi saat ini sarana air yang dibangun itu belum berfungsi ini menjadi PR kita saat ini. Saya menyusun proposal lagi ke BNPB kelanjutan untuk membangun sarana infrastruktur di lokasi itu,” katanya.

Ketiga, merehabilitasi kawasan yang terdampak tsunami itu perlu, kaitannya dengan ketahanan daerah nantinya, tidak mungkin dibiarkan apakah vegetasinya akan ditambah misalnya mangrove, kelapa ataupun sagu. “Itukan perlu di samping untuk ekonomi masyarakat juga untuk bentengnya, ini menjadi program itu juga,” ujarnya.

Keempat adalah untuk di daerah lain berkaca pada bencana 2010 itu tentu pertama dalam perencanaan pembangunan fisik. “Kita BPBD ada dilibatkan dalam pertimbangan-pertimbangan teknis dari sisi mitigasi bencana seperti pembangunan-pembangunan jalan itu jauh dari pantai tidak membangun sarana-sarana perkantoran pemerintah di area landaan tsunami kita sudah punya petanya itu peta landaan tsunami, jadi dinas-dinas rata-rata sudah minta pertimbangan daerah mana yang landaan dan mana yang tidak ini dari sisi kebijakan kita pembangunan dari sisi mitigasi,” paparnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini