Politikus Denmark Pembakar Alquran Ditangkap di Jerman

Agregasi Sindonews.com, · Kamis 29 Oktober 2020 16:58 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 29 18 2301279 politikus-denmark-pembakar-alquran-ditangkap-di-jerman-VWx8FRCyF5.jpg Ilustrasi penangkapan. (Shutterstock)

BERLIN – Politikus anti-Islam Denmark, Rasmus Paludan, ditangkap di Jerman setelah berupaya memasuki negara tersebut untuk mengadakan demonstrasi. Rasmus Paludan merupakan pemimpin Partai Stram Kurs atau Hard Line (Garis Keras), yang dikenal karena aksinya membakar Alquran di distrik-distrik yang didominasi imigran di Denmark.

Paludan yang menganjurkan pelarangan Islam dan deportasi non-etnis Denmark dari negaranya, sebelumnya menulis dalam sebuah posting Facebook bahwa dia pada Rabu (28/10/2020) bermaksud mengadakan demonstrasi di Neukölln Berlin, lingkungan multikultural tempat banyak muslim tinggal. Namun, pada Selasa, dia dicegah memasuki Jerman di Bandara Tegel di Berlin.

"Saat dia masih di pesawat, polisi federal menolak dia masuk dari Kantor Imigrasi Negara," kata juru bicara Kantor Dalam Negeri kepada surat kabar Jerman, Der Tagesspiegel, Kamis (29/10/2020).

"Paludan tidak turun dari pesawat tetapi terbang kembali ke Copenhagen pada Selasa sore," katanya.

Menurut media Jerman, Paludan dilarang memasuki negara itu hingga 31 Oktober, tetapi mencoba memasuki negara itu lagi pada Rabu. Dia kemudian ditangkap polisi dan sekarang menghadapi denda atau penjara hingga satu tahun.

Sementara itu, pejabat di Partai Hard Line, Henrik Søndergaard, membenarkan pemimpin partai tersebut telah ditangkap di Jerman.

“Dia awalnya ditolak di pesawat dan kemudian ditangkap di Berlin, karena kemudian dia pergi ke sana dengan mobil. Dia telah menyerah untuk berdemonstrasi, tetapi memiliki tugas di kedutaan Swedia di Berlin," kata Henrik Søndergaard kepada BT.

Søndergaard tidak merinci tugas apa itu. Rasmus Paludan, yang ayahnya orang Swedia, baru-baru ini diberikan kewarganegaraan Swedia, setelah sebelumnya ditolak masuk ke Swedia dan dilarang selama dua tahun.

Rencana awal untuk mendemonstrasikan, bagaimanapun, dilakukan sesama anggota Partai Hard Line. Demonstrasi berlangsung damai. Menurut Søndergaard, tidak ada Alquran yang dibakar dan itu tidak pernah menjadi rencananya.

“Tidak ada rencana untuk membakar Alquran. Itu ilegal di Jerman dan kami tidak melakukan sesuatu yang ilegal. Kami telah membakar Alquran di Denmark dan Swedia di mana diizinkan, tetapi tidak di Jerman," kata Søndergaard.

Paludan menjadi terkenal di Denmark melalui demonstrasi menentang Islam di daerah dengan komunitas etnis yang cukup besar, yang kemudian dirilis dalam sebuah video. Selama ini, tidak jarang anggota Partai Hard Line merobek, membakar, atau menista Alquran. Ini dirayakan sebagai latihan kebebasan berbicara oleh partai, namun dipandang sebagai penistaan oleh umat Islam. Lantaran ada ancaman dan upaya pembunuhan, Paludan hidup di bawah perlindungan polisi serba guna yang menghabiskan uang negara Denmark jutaan kroner.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini