Siswa SMA Bunuh Diri karena Sering Berhalusinasi, Bukan Belajar Daring

Herman Amiruddin, Okezone · Selasa 03 November 2020 13:25 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 03 609 2303351 siswa-sma-bunuh-diri-karena-sering-berhalusinasi-bukan-belajar-daring-KJnMoKCflE.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

MAKASSAR - Polres Gowa menggelar konferensi Pers terkait perkembangan kasus penemuan mayat siswa SMA yang meninggal dunia di dalam kamar pasca meminum racun rumput. Dari keterangan yang diperoleh, korban bunuh diri karena sering berhalusinasi, bukan belajar daring yang sebelumnya diinformasikan.

Kasat Reskrim Polres Gowa AKP Jufri Natsir mengungkap motif bunuh diri seorang siswa disalah satu SMA di Kecamatan Manuju, Gowa.

"Penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap 9 orang saksi di antaranya orang tua korban, tante korban, wali kelas, guru kurikulum, kepala sekolah, rekan-rekan korban," kata AKP Jufri, Selasa (3/11/2020).

Dari hasil keterangan para saksi, ditemukan fakta bahwa korban mengakhiri hidupnya karena kecewa akibat permintaan untuk dibelikan sepeda motor tidak terpenuhi.

Baca Juga : KPAI Minta Belajar Online Dievaluasi Pasca-Siswi di Gowa Bunuh Diri

Selain itu, korban juga sering berhalusinasi di mana dari keterangan orang tua menjelaskan sering bermimpi seperti layaknya seperti orang mati diusung jenazahnya dan dimandikan. "Terkait dugaan awal korban meninggal dunia disebabkan karena adanya beban berat akibat belajar daring adalah tidak benar," ungkap AKP. Jufri Natsir.

Untuk terkait pemeriksaan handphone milik korban, polisi menegaskan tidak ditemukan adanya fakta dari isi chatingan korban yang mengarah terkait hubungan asmara.

Terkait pembelajaran daring sendiri, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Makassar Gowa Fitri Ari Utami pada kesempatan tersebut menjelaskan bahwa pihak sekolah selama ini tidak melakukan pembelajaran daring/online, mengingat sulitnya akses jaringan internet di wilayah tersebut.

Sehingga, proses belajar dilakukan secara luring yaitu dengan menggunakan modul yang dibagikan oleh masing-masing guru mata pelajaran kepada seluruh siswa.

"Hasil jawaban siswa kemudian dikirim dalam bentuk tulisan yang selanjutnya diserahkan kembali ke pihak guru," ujar Fitri Ari Utami.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini