Presiden Jokowi: Supaya Tak Kaku, Perguruan Tinggi Perlu Merelaksasi Kurikulum

Fahreza Rizky, Okezone · Selasa 03 November 2020 15:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 03 65 2303460 presiden-jokowi-supaya-tak-kaku-perguruan-tinggi-perlu-merelaksasi-kurikulum-6GxZ6IVhLs.jpg Presiden Joko Widodo (foto: Biro Pers Kepresidenan)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin kurikulum perguruan tinggi direlaksasi di tengah pandemi corona. Ia ingin sistem belajar-mengajar menjadi tidak kaku, tetapi fleksibel.

Hal tersebut dikatakan Jokowi saat meluncurkan program Merdeka Belajar Episode 6 yang mengangkat tema "Transformasi Dana Pemerintah untuk Pendidikan Tinggi" secara virtual, Selasa (3/11/2020).

"Perguruan tinggi perlu merelaksasi kurikulum dari yang kaku menjadi fleksibel, membuka diri terhadap paradigma-paradigma baru, terhadap cara-cara yang lebih responsif dari mono menjadi multi, dari mono menjadi inter, bahkan transdisipliner, dari berorientasi theory building menjadi problem solving, bahkan impact making," ujarnya.

Baca juga:

Ganti UN dengan AN, Kemendikbud Klaim Sudah Sosialisasi

Jokowi: Pandemi Covid-19 Momentum Perbaiki Ekosistem Pendidikan Nasional

Dalam cakupan yang lebih luas, Jokowi ingin pandemi corona dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperbaiki ekosistem pendidikan nasional, di mana didalamnya termasuk perguruan tinggi.

Jokowi berujar, tekad kuat untuk mewujudkan Indonesia maju tak boleh surut kendati pandemi corona melanda Tanah Air. Upaya mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul pun tak boleh berhenti.

Pandemi, kata Jokowi, justru menyadarkan semua pihak akan pentingnya SDM yang tangguh dan bertindak dengan cara-caraextraordinary.

"Kemampuan adaptasi cepat agar bisa survive menghadpi kesulitan, tidak tertinggal, dan menang dalam persaingan," tandasnya.

Menurut Jokowi, standar normalitas baru mau tak mau harus dijalankan oleh semua pihak. Dosen yang baik adalah dosen yang memfasilitasi mahasiswanya belajar kepada siapa saja, melalui media apa saja dan kapan saja.

Perguruan tinggi yang baik adalah perguruan tinggi yang membangun ekosistem merdeka belajar dan materi serta media belajar yang terbuka luas.

"Standar normalitas baru tersebut harus dirumuskan dalam berbagai kebijakan. Kebijakan tentang key performance indicator dosen, kebijakan tentang program prioritas perguruan tinggi, dan kebijakan tentang alokasi anggarannya, kebijakan infrastrukturnya, termasuk berbagai SOP baru yang harus dirumuskan," tuturnya.

Demikian halnya di bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Berbagai standar normalitas baru harus dirumuskan. Saat ini awal abad digital. Berbagai riset dan pengembangan teknologi di bidang digital harus memperoleh prioritas.

"Bagaimana teknologi digital, big data analytic, AIartificial intelligence, bisa dimanfaatkan untuk berbagai bidang," imbuhnya.

Jokowi mengatakan, perguruan tinggi harus berlomba-lomba agar inovasi digital bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat dan kemajuan bangsa. Semisal dimanfaatkan untuk pengembangan kemandirian pangan, kemandirian energi, dan pengembangan kewirausahaan UMKM di berbagai sektor.

"Perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi lebih dinamis. Ciptakan terobosan, bangun iklim kompetisi, iklim kompetitif untuk meningkatkan daya saing, jalin sinergi, jalin kolaborasi dengan BUMN, industri, talent pool, berbasis digital, ini penting dan model kerja sama lain untuk mengoptimalkan kemampuan, mendorong prestasi yang lebih baik," ucapnya.

"Karena itu, jangan terjebak pada rutinitas perguruan tinggi, harus punya waktu, harus punya energi, harus punya keberanian untuk melakukan perubahan, harus terus menerus mengembangkankan inovasi dengan memanfaatkan IPTEK, menciptakan generasi unggul untuk menciptakan Indonesia maju," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini