Sosok-Sosok Penting Tak Terlihat di Pertempuran 10 November Surabaya

Avirista Midaada, Okezone · Minggu 08 November 2020 21:32 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 08 519 2306297 sosok-sosok-penting-tak-terlihat-di-pertempuran-10-november-surabaya-MfkJk6bF7d.jpg (Foto: Wikipedia)

SURABAYA – Pertempuran 10 November 1945 Surabaya yang diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional diidentikkan dengan Bung Tomo, pahlawan Surabaya yang melalui pidatonya menggetarkan hati seluruh rakyat Surabaya. Bung Tomo yang menghadap KH. Hasyim Asyari, pendiri Nahdatul Ulama meminta doa restu dan bantuan untuk berjuang mengusir tentara sekutu dari bumi Surabaya. 

Namun selain Bung Tomo, ada beberapa tokoh pejuang dan pahlawan lainnya yang tak kalah berpengaruh dalam pergerakan ratusan ribu rakyat Surabaya melawan tentara sekutu. 

Periset perang Surabaya, Achmad Zaki Yamani mengatakan, salah satunya adalah Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo atau yang akrab disebut Gubernur Suryo. Gubernur Suryo sebagai Gubernur Jawa Timur pertama kala it, jadi satu dari sekian pahlawan yang berpengaruh di pertempuran 10 November 1945.

“Beliau ini yang menerima mandat pemerintah Indonesia yang ada di pusat, memutuskan apakah rakyat Surabaya mengikuti ultimatum Inggris dan sekutu, menyerah (menyerahkan senjata) atau menolak dalam artian berjuang,” papar Achmad Zaki. 

Dari sana keputusan penting dibuat Gubernur Suryo, dia membuat keputusan berani dengan menolak permintaan sekutu agar rakyat Surabaya menyerahkan senjatanya.

Baca juga:  Kisah 'Kuburan Bule' di Bumi Rafflesia

“Gubernur Suryo mempunyai keputusan tanggal 9 November jam 23.00 WIB kala itu, melalui Radio Surabaya di Jalan Embong Malang, beliau berpidato yang terkenal dengan komando keramat,” jelas periset perang dari Begandring Soerabaia ini. 

“Dari pidato itu Gubernur Suryo memutuskan rakyat Surabaya akan menerima tantangan tentara Inggris (berperang) pidato itu diakhiri dengan kata-kata, ‘selamat berjuang’,” imbuh Achmad Zaki.

Lalu kenapa peran Gubernur Suryo dan pejuang lainnya tidak nampak dibandingkan peran Bung Tomo? Zaki menyebut Bung Tomo yang kala itu menjadi jurnalis di radio pemberontakan. Bung Tomo-lah yang kerap kali berpidato dan membakar semangat arek-arek Surabaya. 

“Karena beliau (Gubernur Suryo) tidak sering berpidato, yang banyak berpidato adalah Bung Tomo, punya sarana sendiri, radio pemberontakan. Beliau (Bung Tomo) seorang orator dan wartawan yang punya sarana sendiri yakni radio pemberontakan,” bebernya.

Selain Bung Tomo dan Gubernur Suryo, menurut Zaki, ada sejumlah pejuang lainnya yang memiliki peran cukup besar tapi tak diketahui banyak orang, termasuk orang Surabaya saat ini.

“Ada banyak, seperti Kolonel Sungkono atau Pak Sungkono, Pak Muhammad Yasin polisi istimewa, ada Pak Sucipto Danu polisi istimewa, ada Pak Hario Kecik, ada Pak Akhyat, ada lagi Sumarsono banyak sebenarnya. Tapi kenapa ikon (pertempuran) Surabaya Bung Tomo? Karena beliaulah pembakar semangat arek-arek Surabaya melalui pidato-pidatonya,” tukasnya. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini