Sultan HB X Minta Penanganan Erupsi Merapi Direncanakan Lebih Matang

Priyo Setyawan, Koran SI · Selasa 10 November 2020 14:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 10 510 2307307 sultan-hb-x-minta-penangganan-erupsi-merapi-direncanakan-lebih-matang-QRXVcWz0XR.jpg Gubernur DIY, Sultan HB X saar dipengungsian warga (foto: Sindo/Priyo)

SLEMAN - Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono (HB) X, meninjau barak pengungsian Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Selasa (10/11/2020). Sebelum menjumpai para pengungsi, terlebih dahulu melakukan cuci tangan dengan sabun di tempat yang telah disiapkan dan pengecekan suhu tubuh oleh petugas.

Setelah semua clear, Sultan baru mendatangi barak pengungsian dan menemui serta berdialog dengan para pengungsi, baik di tenda BNPB maupun barak sisi utara dan selatan. Dalam menyapa para pengungsi Sultan memberikan motivasi agar tetap tegar, sebab ini bukan merupakan yang baru bagi mereka.

Sultan selanjutnya meninjau kondisi dalam barak, terutama bilik-bilik yang diperuntukkan bagi para pengungsi. Usai mendapatkan penjelaskan dari bupati Sleman Sri Purnomo. Sultan kemudian menuju ke tenda yang dipersiapkan untuk berdialog tentang kondisi Merapi.

Baca juga:

400 Aula Evakuasi Disiapkan Antisipasi Erupsi Merapi   

Merapi Berstatus Siaga, Sirene Peringatan Dini di Boyolali Disiapkan

Pengungsi Merapi di Desa Tlogolele Akan Jalani Pemeriksaan Covid-19   

Mengawali dialog Sultan meminta penjelaskan Balai Penyeledikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), tentang wilayah mana saja di Sleman yang akan terdampak bencana erupsi Merapi. Terutama jika meletus dengan ketinggian 1.000 meter-1.500 meter. Ini penting, untuk mengantisipasi.

“Saat ini memang meleleh ke arah tenggara, tapi perlu dipersiapkan di wilayah barat itu perlu mengungsi atau tidak. Sehingga jelas informasinya,” kata Sultan HB X.

Ini penting sebab jika nanti meletus dan ada arah angin dari selatan ke utara, tetapi material kerikil dan batu tidak ikut angin, yang besar pasti turun di sekitar merapi dan yang lembut lebih jauh lagi, bisa sampai ringroad atau kota. Tergantung arah anginya. Sehingga perlu warning juga di sebelah barat, agar tidak terjadi kekeliruan informasi dan kegelisahan masyarakat.

“Untuk itu, BPPTKG dan BPBD harus membuat detail perencanaan kebencanaan karena ada kepentingan besar di belakangnya. Termasuk masyarakat dipersiapkan sewaktu-waktu untuk turun Untuk pengungsian warga juga harus ada kepastian," paparnya.

Sementara itu, Kepala BPPTKG, Hanik Humaida mengatakan dari data-data pemantauan menunjukkan bahwa posisi yang ditentukan saat ini sudah diprediksi ekplosif, namun eksposifitasnya tidak seperti tahun 2010. Untuk arah letusan, karena arah bukaan ke sungai Gendol, maka ancaman masih berada di bukaan kawah.

“Tetapi karena saat ini deformasi atau pengembungan ada di posisi barat laut, tidak menutup kemungkinan potensi ke barat tetap ada. Tapi akan lebih pasti kalau kubah lava sudah ada. Untuk data-data sampai saat ini kubah lava belum ada dipermukaan,” jelasnya.

Menutut Hanik, untuk potensi bahaya bisa diukur dari kecepatan dan volume kubah lava yang akan muncul. Namun tetap akan membuat assement dan telah menyampaikan potensi bahaya dari Gunung Merapi seperti awan panas dan lontaran material ke BPBD.

"Kita sampaikan ke BPBD tentang jarak awan panas dan lontaran material," katanya.

Ia juga menginformasikan, bahwa aktivitas Merapi masih tinggi dan terus naik. Hal ini ditunjukkan adanya gas yang membuat magma menuju ke permukaan.

"Kenapa sampai saat ini (magma-red) masih pelan-pelan jalannya karena miskin gas. Kalau seperti ini terus, insyaallah erupsi besar tidak terjadi," ujarnya.

Selain itu, lanjut Hanik, penyebab lain naiknya pelan-pelan karena volume magmanya besar yang kemungkinan, erupsi akan lebih besar dari tahun 2006, tapi tidak sebesar erupsi tahun 2010.

"Deformasi, sampai saat ini terus, meningkat, tapi peningkatannya tidak ada percepatan harian," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini