Angka Kematian Tenaga Kesehatan karena Covid-19 Tinggi, Dokter Ciptakan Inovasi Alat Monitor Infus

Abdul Wakhid, iNews · Senin 16 November 2020 11:55 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 16 519 2310268 angka-kematian-tenaga-kesehatan-karena-covid-19-tinggi-dokter-ciptakan-inovasi-alat-monitor-infus-eFTr1WMM1X.jpg Dokter di Puskesmas Sekaran, Lamongan, menunjukkan alat monitor infus untuk mengurangi lamanya kontak tenaga medis dengan pasien suspek Covd-19. (Foto : iNews/Abdul Wakhid)

LAMONGAN – Dokter dan staf Puskesmas Sekaran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, membuat inovasi berupa alat monitor infus yang dipadukan dengan internet of medical things. Alat itu dibuat sebagai inovasi di tengah tingginya angka kematian tenaga kesehatan akibat terpapar virus corona (Covid-19).

Alat itu dibuat Dokter Arif Cholifaurrohman dan stafnya Ahmad Cholifa Fahruddin. Ia mengatakan, implementasi internet of medical things pada infusion monitoring assistance untuk menurunkan lama kontak tenaga kesehatan dengan pasien suspek Covid-19 ini.

Penyusunan alat ini sebagai bentuk keprihatinan terhadap tingginya angka kematian tenaga medis di Indonesia akibat Covid-19 yang jumlahnya mencapai 6,5 persen dan menjadi jumlah yang tertinggi di dunia.

“Jadi alat ini dibuat karena banyanya tenaga kesehatan meninggal karena Covid-19. Alat ini solusi untuk menurunkan lama kontak dan jumlah kontak antara tenaga kesehatan dengan pasien suspek Covid-19,” katanya, Senin (16/11/2020).

Dokter di Puskesmas Sekaran, Kabupaten Lamongan, ciptakan inovasi alat monitor infus untuk menurunkan lama kontak antara dokter dengan pasien suspek Covid-19 (iNews/Abdul Wakhid)

Arif menjelaskan cara kerja alat ini. Dengan terpasangnya alat ini di botol infus, tenaga kesehatan bisa memantau lewat aplikasi secara online. Setiap tetesan infus akan terpantau bahkan jika cairan obat yang dicampurkan juga akan terdeteksi jika jumlahnya kurang atau lebih.

Selain alat akan berbunyi, laporan juga akan dikirim melalui aplikasi online sehingga tenaga kesehatan tidak harus memantau secara manual yang bisa berdampak pada lamanya interaksi tenaga medis dan pasien suspek Covid-19.

Ia menjelaskan, Alat ini menggunakan development board TTGO T display yang menggunakan ESP-32 dan attiny85, sensor phototransistor, serta real time clock DS 3231. Untuk satu alat ini, tim inovator hanya membutuhkan biaya Rp755 ribu.

Baca Juga : Masyarakat Belum Disiplin Jaga Jarak, Satgas Minta Tokoh Agama Jadi Teladan

Meski begitu, alat ini masih memiliki kendala jika diaplikasikan di daerah yang tidak memiliki jaringan listrik dan internet. Selain itu, alat tersebut masih memiliki kelemahan di bagian sensor sehingga perlu penyempurnaan.

Baca Juga : Selain Jumhur, 6 Tahanan Polri Juga Dibantarkan Akibat Positif Corona

(erh)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini