Kronologi Dugaan Pelecehan Senior ke Aktivis Mahasiswi IAIN Tulungagung

Solichan Arif, Koran SI · Selasa 17 November 2020 00:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 17 519 2310679 kronologi-dugaan-pelecehan-senior-ke-aktivis-mahasiswi-iain-tulungagung-cLbeheDQEh.jpg (Foto: Solichan Arif)

TULUNGAGUNG - Aktivis mahasiswi IAIN Tulungagung diduga jadi korban pelecehan seksual oleh seniornya di kampus. Dugaan pelecehan terjadi saat korban dan pelaku hendak berkemah di lereng Gunung Wilis, Kediri.

Peristiwa itu berawal Rabu 2 September 2020. Saat ngopi di sebuah warkop seberang jalan kampus IAIN, korban yang mendengar pelaku hendak berkemah ke lereng Gunung Wilis, Kediri, menyatakan tertarik ikut. Korban dan pelaku sudah saling kenal. Pelaku merupakan seniornya di Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Tulungagung.

Korban yang aktif dalam forum kajian gender juga mengenal pelaku sebagai aktivis mahasiswa pecinta alam (mapala) yang baik. "Memang benar, korban yang meminta ikut naik gunung Wilis," tutur sumber Sindonews.com di lingkungan kampus IAIN Tulungagung, Senin (16/11/2020).  

Sejak awal korban mengaku tidak pernah menaruh prasangka buruk. Pikirnya, pelaku yang berasal dari Kediri adalah seorang aktivis dan aktivis tidak akan melakukan perbuatan tidak senonoh. Karenanya, meski dalam percakapan via WA sudah ada gelagat kurang baik, korban masih menganggap sebagai guyonan. 

Termasuk saat pelaku menegaskan kemah di lereng gunung Wilis hanya dilakukan berdua, sebagai junior korban tidak kuasa menolak. "Korban berpikir positif. Naik ke gunung juga bukan pengalaman pertama kali," papar sumber yang tidak bersedia dikutip nama.

Pada hari itu juga (2/10) pelaku dan korban akhirnya berangkat ke Kediri dengan berboncengan sepeda motor.  Sekitar pukul lima sore, mereka tiba di wilayah Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Keduanya berhenti sebentar.

Pelaku mengajak korban mampir di sebuah warung sate kambing. Usai makan dan ngobrol sejenak, sekitar pukul tujuh malam keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Memasuki kawasan sepi, pelaku mulai memperlihatkan tingkah aneh. 

Di atas motor yang berjalan, pelaku meminta korban memijiti panggungnya. Oleh korban, permintaan itu langsung ditolak.

Mendekati lokasi, pelaku tiba-tiba kembali menghentikan motornya. Kali ini beralasan pandangannya terhalangi kabut tebal. Kebetulan di tempat itu terdapat sebuah warung makan namun sudah tutup. Pelaku mengajak korban singgah sebentar dan katanya sambil sekalian menata perbekalan.  

"Diduga sudah direncanakan oleh pelaku," tambah sumber yang mengaku cukup tahu sepak terjang pelaku di kampus.

Di bagian luar warung yang tutup itu tingkah aneh pelaku kembali muncul. Tangannya tiba-tiba menyentuh pundak korban yang oleh korban langsung ditepis. 

Pelaku juga sempat bertanya ke korban jika selama ini apa belum pernah disentuh laki-laki. Saat mengucapkan itu tangannya kembali berusaha merangkul korban dan lagi-lagi ditepis korban. Korban sangat kaget dan tidak menduga saat pelaku tiba-tiba merogoh bagian dalam bajunya. 

Dengan tangan mendekapkan tas ke dada, korban berusaha menghindar. Bukannya berhenti. Tangan pelaku justru menggerayang ke mana-mana. Sementara mukanya didekatkan berusaha mencium bibir korban. Seperti kesetanan, korban yang melawan dicengkram. Tubuhnya digulingkan sampai pakaian dalamnya terlepas. 

Baca juga: Polda Metro Segera Panggil Aurellia JKT48 Terkait Laporan Pelecehan Seksual

Beruntung, dalam kondisi dilecehkan itu korban berhasil melepaskan diri dan segera lari menjauhi lokasi. Sambil menangis, korban berteriak meminta dipulangkan ke Tulungagung. Korban menolak melanjutkan kemah.

Saat itu pukul 20.00 WIB. Entah karena takut, pelaku menuruti permintaan korban. Keduanya kembali  berboncengan motor menuju Tulungagung.

Tidak disangka, dalam keadaan menyetir motor tangan korban masih berusaha menggerayang bagian vital korban. Berkali-kali korban mengibaskan kejahilan tangan pelaku. Di atas motor tangis korban sengaja dikeraskan sehingga membuat pelaku memaki.

Sesampai di wilayah Ngadiluwih, korban meminta diturunkan. Oleh pelaku permintaan tersebut dituruti. Di dekat jembatan Ngadiluwih, korban mencegat bus dan pulang sendirian ke Tulungagung.

Masih menurut sumber, sehari setelah ejadian, korban langsung membuat testimoni kepada teman-temannya sesama aktivis di kampus.

"Setelah itu dengan didampingi aktivis yang lain menyampaikan persoalan kepada pihak kampus," kata sumber. 

Roiyatus Saadah, aktivis Dewan Eksekutif Mahasiswa Instute (Dema I) IAIN Tulungagung yang mendampingi korban mengatakan, bukti dugaan pelecehan seksual tersebut sudah dikumpulkan. Termasuk chat WA pelaku kepada korban enam hari paska kejadian juga menjadi alat bukti. Chat WA tersebut berisi permintaan maaf pelaku. 

"Semua alat bukti dugaan pelecehan seksual tersebut sudah kita kumpulkan," kata Roiyatus.

Bersama puluhan mahasiswa lintas fakultas, para aktivis menggelar unjuk rasa di depan rektorat IAIN. Para aktivis menuntut pihak rektorat mengusut tuntas kasus dugaan pelecehan seksual tersebut.

Para aktivis juga menuntut kampus menangguhkan ijazah pelaku yang pada 10-14 November lalu ikut diwisuda. "Kami akan mengawal kasus ini sampai tuntas," tegas Roiyatus. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini