Vaksin COVID-19 Sinovac Picu Respon Kekebalan yang Cepat

Susi Susanti, Koran SI · Rabu 18 November 2020 15:55 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 18 18 2311769 vaksin-covid-19-sinovac-picu-respon-kekebalan-yang-cepat-gfahppmYJH.jpg Foto: Reuters

SINGAPURA – Vaksin COVID-19 eksperimental Sinovac Biotech, CoronaVac, memicu respons kekebalan yang cepat, tetapi tingkat antibodi yang dihasilkan lebih rendah pada orang yang telah pulih dari penyakit tersebut. Ini berdasarkan hasil uji coba awal pada Rabu (18/11).

Sementara uji coba tahap awal hingga pertengahan tidak dirancang untuk menilai kemanjuran CoronaVac, para peneliti mengatakan itu dapat memberikan perlindungan yang cukup, berdasarkan pengalaman mereka dengan vaksin lain dan data dari studi praklinis dengan kera.

Temuan Sinovac, yang diterbitkan dalam makalah yang ditinjau oleh rekan sejawat di jurnal medis The Lancet Infectious Diseases, berasal dari hasil uji klinis Fase I dan Fase II di China yang melibatkan lebih dari 700 peserta.

(Baca juga: Amerika Menyetujui Kit Uji Mandiri COVID-19)

“Temuan kami menunjukkan CoronaVac mampu memicu respons antibodi yang cepat dalam empat minggu setelah imunisasi dengan memberikan dua dosis vaksin pada interval 14 hari,” ungkap salah satu penulis makalah Zhu Fengcai, dikutip Reuters.

“Kami percaya ini membuat vaksin cocok untuk penggunaan darurat selama pandemi,” tambahnya.

Para peneliti mengatakan temuan dari studi besar tahap akhir, atau uji coba Fase III, akan sangat penting untuk menentukan apakah respons kekebalan yang dihasilkan oleh CoronaVac cukup untuk melindungi orang dari infeksi virus corona. Sinovac saat ini menjalankan tiga uji coba Tahap III di Indonesia, Brasil, dan Turki.

Profesor dari Universitas Johns Hopkins Naor Bar-Zeev yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan hasil penelitian harus diinterpretasikan dengan hati-hati sampai hasil Tahap III dipublikasikan.

“Tapi meski begitu, setelah uji coba Tahap III dan setelah perizinan, kita harus tetap berhati-hati,” ujarnya.

CoronaVac adalah satu dari tiga vaksin COVID-19 eksperimental yang telah digunakan China untuk menyuntik ratusan ribu orang di bawah program penggunaan darurat.

(Baca juga:"Jetman" Prancis Tewas Saat Latihan)

Adapun dua vaksin lain dalam program darurat China, keduanya dikembangkan oleh institut yang terkait dengan Sinopharm. Lalu vaksin lain dari CanSino Biologics, juga terbukti aman dan memicu respons kekebalan dalam uji coba tahap awal dan menengah.

Gang Zeng, seorang peneliti Sinovac yang terlibat dalam studi CoronaVac, mengatakan vaksin bisa menjadi pilihan yang menarik karena dapat disimpan pada suhu lemari es normal 2 hingga 8 derajat Celcius (36 ° -46 ° F) dan dapat tetap stabil hingga tiga tahun.

“Ini akan menawarkan beberapa keuntungan untuk distribusi ke daerah di mana akses ke pendinginan sulit,” terang Zeng. penulis.

Vaksin yang dikembangkan oleh Pfizer / BioNTech dan Moderna menggunakan teknologi baru yang disebut RNA messenger sintetis (mRNA) untuk mengaktifkan sistem kekebalan terhadap virus dan membutuhkan penyimpanan yang jauh lebih dingin.

Vaksin Pfizer harus disimpan dan diangkut pada suhu -70C meskipun dapat disimpan di lemari es biasa hingga lima hari, atau hingga 15 hari dalam kotak pengiriman termal. Kandidat Moderna diharapkan stabil pada suhu lemari es normal selama 30 hari, tetapi untuk penyimpanan hingga enam bulan perlu disimpan pada suhu -20C.

Studi ini menjadi “hits” setelah pembuat obat AS Pfizer dan Moderna serta Rusia yang menunjukkan vaksin eksperimental mereka lebih dari 90% efektif berdasarkan data sementara dari uji coba tahap akhir.

CoronaVac dan empat vaksin eksperimental lainnya yang dikembangkan di China saat ini sedang menjalani uji coba tahap akhir untuk menentukan keefektifannya dalam mencegah COVID-19.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini