Unair Kembangkan Sensor Potensiometri Alat Deteksi Gagal Ginjal Berbiaya Murah

Vitriada Hilba Siregar, Okezone · Rabu 18 November 2020 10:56 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 18 65 2311497 unair-kembangkan-sensor-potensiometri-alat-deteksi-gagal-ginjal-berbiaya-murah-5JmfFn0kIt.jpg Rangkaian alat sensor potensiometri yang diciptakan Universitas Airlangga. (Foto: Universitas Airlangga)

JAKARTA- Universitas Airlangga (Unair)  Surabaya saat ini masih terus mengembangkan sensor potensiometri.

Sensor ini nantinya untuk mendeteksi kandungan kreatinin dalam darah sebagai indikator terjadinya gagal ginjal.

Alat dikembangkan sejatinya untuk mengurangi ketergantungan alat medis yang sudah adaa sebelumnya yang memanfatkan sensor sebagai salah satu instrumen yang digunakan.

Baca Juga: Nadiem Menilai Sektor Pendidikan Akan Alami Perubahan Besar Usai Pandemi Corona

Selama ini deteksi komponen dalam sampel cairan biologi (darah atau urine) yang dilakukan di laboratorium klinik patologi dilakukan dengan menggunakan teknik kolorimteri atau menggunakan tes kit.

Nah, untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis instrumentasi atau produk tes kit inilah kalangan peneliti di Unair mengembangkan metode potensiometri.

Baca Juga:Sekolah Kebangsaan Harus Tetap Berlanjut Jika Pandemi Telah Selesai

Dr. Miratul Khasanah, M.Si., dosen Kimia Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Unair beserta tim saat ini masih mengembangkan sensor potensiometri untuk mendeteksi kandungan kreatinin dalam darah sebagai indikator terjadinya gagal ginjal.

Di bidang medis deteksi kreatinin dalam serum darah biasanya menggunakan teknik fotometri yang membutuhkan pereaksi kimia atau enzim yang berbiaya mahal.

"Selain itu juga diperlukan volume sampel yang relatif besar karena metoda yang digunakan memiliki limit deteksi yang relatif tinggi yaitu dalam kisaran mg/dL,” ungkap Mira sebagaimana dikutip laman news.unair.ac.id, Rabu (18/11/2020).

Baca Juga: Sekolah Kebangsaan Harus Tetap Berlanjut Jika Pandemi Telah Selesai

Dosen Unair yang memiliki fokus penelitian di bidang kimia analitik tersebut melanjutkan, pengembangan ini dilakukan untuk mengurangi beban biaya pasien. Jadi alat sensornya sederhana dan dengan peralatan yang sederhana pula.

"Namun yang pasti bisa mengurangi ketergantungan terhadap suatu instrumen tertentu," tuturnya.

Miratul Khasanah melanjutkan sejak 2016 dia bersama tim Unair telah mengembangkan sensor potensiometri untuk deteksi komponen dalam darah, diantaranya adalah asam urat, kreatinin, dan glukosa.

Selama ini metode deteksi kreatinin dalam bidang medis dilakukan selalu menggunakan metode kolorimetri yang membutuhkan pereaksi kimia tertentu atau menggunakan enzim.

“Persoalanya kalau menggunakan enzim hasilnya memang selektif dan bahkan spesifik, namun biayanya juga terhitung mahal," ucap dosen senior Unair ini

Sedangkan deteksi kreatinin dengan potensiometri, kata dia, peralatan yang digunakan sangat sederhana.

Baca Juga: SayLemon Buatan Mahasiswa ITS Tingkatkan Imunitas saat Pandemi

Dengan adanya alat tersebut, dia berharap banyak dikembangkan sensor serupa terutama untuk deteksi kandungan senyawa lain di dalam cairan tubuh, deteksi senyawa obat, atau pemantauan kadar senyawa tertentu di bidang industri pangan, farmasi, pertanian.

Miratul Khasanah pun membayangkan kalau dikembangkan sensor serupa maka sangat membantu Badan Pengawas Obat Makanan (BPOM) mengontrol produk-produk obat dengan biaya relatif murah. 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini