Mahasiswa UNY Olah Daun Salam Jadi Krim Obat Luka Bakar

Vitriada Hilba Siregar, Okezone · Rabu 18 November 2020 14:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 18 65 2311702 mahasiswa-uny-olah-daun-salam-jadi-krim-obat-luka-bakar-6yVFlQEDOF.jpg Daun salam diolah bisa menjadi obat luka bakar. (Foto:Thektch)

SLEMAN- Tiga mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) membuat inovasi.

Inovasi terbaru yakni krim obat luka bakar herbal berbahan baku daun salam. Krim ini dapat menjadi altenatif obat luka bakar sekaligus ramah lingkungan.

Ketiga mahasiswa itu yakni Benedicta Ivana Gamellia dan Ariftania Madrin program studi (prodi) Pendidikan Biologi dan Derifasay Salsabilla Prodi Kimia.

Baca Juga: Magang Virtual, Masih Menyenangkan walau Tetap di Rumah Saja

Benedicta Ivana Gamellia mengatakan untuk pengobatan luka bakar (inflamasi) biasanya dengan mengonsumsi obat seperti obat anti inflamasi nonsteroid contohnya paracetamol, aspirin, antalgin. Selain itu juga ibuprofen serta steroid obat anti inflamasisteroid seperti Dexamethason.

Namun obat ini memiliki efek samping, yaitu menginduksiulser lambung atau usus yang terkadang disertai dengan anemia akibat kehilangan darah, hiperglikemia, osteoporosis, dan hipertensi.

Baca Juga: Unair Kembangkan Sensor Potensiometri Alat Deteksi Gagal Ginjal Berbiaya Murah

Oleh karena itu, perlu splusi untuk melawan dan mengendalikan rasa nyeri serta peradangan dengan efek samping yang relatif lebih kecil.

“Karena itulah kami melakukan penelitian daun salam dibuat menjadi krim obat luka bakar,” kata Bemedocta, Rabu (18/11/2020).

Sementara Derifasay Salsabilla menambahkan, jelaskan bahan yang digunakan dalam pembuatan krim dari daun salam ini adalah daun salam kering, adeps lanea, aquades, asam stearat, etanol 95%, eter, HCL 37%, nipagin, nipasol, paraffin liquidum, triethanolamine, dan virgin coconut oil.

Proses pembuatanya sangat mudah yakni daun salam dicuci menggunakan air, lalu dikeringkan dengan cara diangin-anginkan dan tidak terpapar sinar matahari langsung.

Baca Juga: Kitab Tib Beraksara Jawi Jadi 'Apotik' Wabah Masa Lampau

Lalu, daun salam yang sudah kering kemudian diserbukkan menggunakan grinder dan disimpan dalam wadah tertutup. Serbuk daun salam lalu diekstraksi menggunakan metodemaserasi.

Langkah berikutnya dibuatlah krimya dengan cara membuat campuran dari fase lemak dan fase air. Fase lemak terdiri dari asams tearat, paraffinliquid, virgincoconutoil, dan adepslanae masing-masing sebanyak 181, 25gr, 62, 5ml, 250 ml dan 37, 5gr dan dicampurkan kedalam beakerglass.

“Kemudian memanaskan beaker ke dalam waterbath dengan suhu 600C -700C hingga semua bahan menjadi leleh atau lebur,” jelasnya.

Sedangkan fase air diawali dengan menuangkan aquadest sebanyak 250 ml ke dalam beakerglass, kemudian menambahkan triethanolamine sebanyak 3,75 ml kemudian campuran bahan dipanaskan dengan water bath pada suhu 600C -700C.

Secara perlahan fase air dicampurkan kedalam fase minyak, tambahkan nipasol dan nipagin lalu diaduk hingga homogen. Basic cream tersebut kemudian dicampurkan dengan ekstrak daun salam.

“Dari hasil ujicoba di laboratorium diketahui hasil paling efektif untuk mengobati luka bakar adalah pada cream dengan konsentrasi ekstrak daun salam tertinggi yaitu 15%,” terangnya.

Baca Juga: Pembelajaran Online Direkomendasikan Tetap Dilaksanakan hingga Akhir 2020

Ariftania Madrin menambahkan, krim daun salam ini digunakan untuk penyembuhan anti-inflamasi berupa luka bakar ringan seperti luka bakar derajat I dan II. Luka bakar derajat I yaitu kerusakan jaringan terbatas pada lapisan epidermis (superfisial).

Ciri luka bakar ini yaitu adanya sedikit edema, kulit mengalami hiperemik berupa eritema, tanpa ditemukan adanya bula, dan efek rasa nyeri akibat iritasi ujung saraf sensoris. Pada hari keempat setelah paparan biasanya terjadi pengelupasan kulit.

“Sedangkan luka bakar derajat II adalah kerusakan terjadi pada seluruh lapisan epidermis dan sebagian lapisan dermis, berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi. Dijumpai pula pembentukan luka, dan nyeri karena pada ujung saraf sensorik mengalami iritasi. Dasar luka berwarna kemerah hingga pucat,” jelasnnya. (Priyo Setywan)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini