Kematian Akibat Covid-19 di AS Tembus 250 Ribu, Tahanan Dikerahkan Angkut Jenazah

Agregasi BBC Indonesia, · Jum'at 20 November 2020 05:56 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 20 18 2312756 kematian-akibat-covid-19-di-as-tembus-250-ribu-tahanan-dikerahkan-angkut-jenazah-GAiZhf5weG.jpg Banyak rumah sakit di AS kewalahan akibat tingginya kasus infeksi. (Reuters)

Juru bicara rumah sakit di El Paso mengatakan pihaknya melihat dampak "fisik dan mental" para petugas kesehatan yang menangani pasien Covid-19.

Dengan jumlah kasus yang terus meningkat ini, gedung pusat pertemuan di El Paso baru-baru ini dijadikan rumah sakit darurat.

Sejumlah rumah sakit terlalu penuh sehingga pasien perlu diangkut dengan pesawat udara ke kota-kota lain di negara bagian itu.

Hakim El Paso, Ricardo Samaniego, mengatakan wilayah itu telah menyedikan 500 tempat tidur tambahan, namun dengan peningkatan yang begitu tinggi, fasilitas itu akan penuh minggu depan.

Sepuluh truk penyimpan jenazah

Selain rumah sakit, kamar jenazah juga penuh. Para petugas menjadikan truk-truk berpendingin sebagai tempat penyimpanan jenazah.

Sejauh ini, petugas medis meminta setidaknya 10 truk penyimpan jenazah.

Fasilitas truk ini dalam satu minggu terakhir menyimpan lebih dari 150 jenazah.

Kementerian Pertahanan AS bulan ini mengerahkan tim medis untuk membantu petugas kesehatan di kawasan ini.

Perusahaan pemakaman juga kewalahan menghadapi situasi ini. Manajer salah satu perusahaan, Jorge Ortiz mengatakan kepada tKERA News ia menjadikan kapel di kantornya menjadi kamar pendingin.

Ortiz mengatakan puncak pandemi pada pertengahan tahun "tidak ada apa-apanya dibandingkan saat ini."

Tahanan dikerahkan memindahkan jenazah

Kota di Texas itu juga mengalami kekurangan tenaga kerja dan para pejabat setempat menghadapi kritikan karena mengerahkan tahanan.

Para tahanan ikut membantu memindahkan jenazah ke truk pendingin.

Para tahanan memindahkan jenazah pasien Covid.(Reuters)

Juru bicara kantor pejabat kota mengatakan para tahanan - yang dipenjara karena pelanggaran ringan - dibayar sekitar US$2 (Rp28.000) per jam. Kerja itu disebutkan sukarela dan mereka dilengkapi dengan pakaian pelindung.

Hakim Samaniego menyebut pengerahan tahanan adalah pilihan terakhir.

"Bila tidak ada personel atau siapapun yang bisa membantu, kami mencari sukarelawan, termasuk tahanan, itulah pilihan terakhir," katanya seperti dikutip KFOX14 News.

Hakim menambahkan para pejabat menanti bantuan tentara namun militer belum memastikan apakah mereka dapat memenuhi permintaan itu.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini