Aluminium Formwork, Pembangunan Infrastruktur Modern Ala Mahasiswa ITS Surabaya

Vitrianda Hilba Siregar, · Jum'at 20 November 2020 09:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 20 65 2312836 aluminium-formwork-pembangunan-infrastruktur-modern-ala-mahasiswa-its-surabaya-zy5CqVV84H.jpg Institut Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.(Foto:ITS)

SURABAYA - Tim mahasiswa ITS Surabaya menawarkan strategi pembangunan infrastruktur efektif dengan menggunakan aluminium formwork system.

Para mahasiswa yang terdiri atas Amaluddin Fajar, Risnandha Hermawati, dan Friska Ervanda tergabung dalam nama tim Frict menawarkan strategi konstruksi untuk pembangunan sebuah gedung.

Strategi ini menggunakan aluminium formwork sebagai bekisting sebab dinilai dapat mempercepat proses pengerjaan dan menghemat biaya.

Baca Juga: Pengawet Kayu, Mahasiswa UGM Kembangkan Teknologi Redestilasi

Amaluddin Fajar menuturkan, bekisting aluminium formwork  berbentuk modul puzzle dan bersifat all in one system. Terminologi all in one system artinya pelaksanaan pemasangan bekisting langsung menjadi satu kesatuan dalam item struktur mulai dari balok, pelat, kolom, dan shearwall.

“Hal ini menyebabkan tidak ada progres proyek yang tertinggal, jadi tidak ada waktu dan biaya terbuang yang menambah biaya overhead proyek,” kata Fajar mahasiswa ITS cerdas ini pada Jumat (20/11/2020).

Baca Juga: Dies Natalis ke-62, UPNVY Deklarasikan Kampus Sehat

Dia melanjutkan, jenis bekisting ini dinilai lebih efektif untuk pembangunan gedung-gedung tinggi dengan lantai tipikal, di mana setiap lantainya tidak terdapat perbedaan struktur yang signifikan.

Sehingga ketika bekisting suatu pengecoran sudah dapat dibongkar, bekisting tersebut dapat digunakan kembali untuk pengecoran lantai di atasnya. “Strategi ini cocok diterapkan pada pembangunan sebuah apartemen,” jelasnya.

Bekisting tersebut dinilai memberikan efek yang sangat baik karena kualitas yang dihasilkan. Mulai dari sambungan antarpanel yang konsisten, kepala kolom yang rapi, serta kehalusan hasil sehingga dapat mempercepat proses finishing.

Baca Juga: Unair Jadi Kampus Terproduktif Bidang Kesehatan dan Obat

“Hasil dari bekisting dipastikan presisi karena terdiri dari panel-panel yang tidak dapat dipasang apabila terdapat kesalahan pemasangan di lapangan,” katanya.

Jenis bekisting tersebut juga dapat didaur ulang dan dapat dipakai mulai 150 hingga 200 kali. Hal ini menyebabkan bekisting itu dinilai lebih ramah lingkungan, sebab tidak meninggalkan banyak sampah layaknya bekisting kayu konvensional.

“Kami juga memaksimalkan strategi tersebut menggunakan teknologi seperti Microsoft Project dan Building Information Modeling (BIM),” tutur mahasiswa ITS  kelahiran tahun 1999 ini.

Adapun Microsoft Project sendiri digunakan untuk mengatur penjadwalan kerja proyek pembangunan. Sedangkan BIM berfungsi untuk menampilkan simulasi hasil desain struktur, membantu analisis dan dokumentasi proyek. “Hal ini dilakukan agar proyek bisa lebih efisien, akurat, dan kompetitif,” jelasnya.

Baca Juga: Menteri Riset dan Teknologi Pompa Semangat Ilmuwan Muda Terus Berkarya

Melalui strategi tersebut, Fajar dan timnya berhasil memenangkan juara kedua pada The 5th Construction Management Competition. Kejuaraan ini diselenggarakan Universitas Negeri Malang (UNM) pada Civil Days 2020 lalu. (Aan Haryono)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini