Sekolah Dibuka Januari? DPR: Protokol Kesehatan Harus Ketat

Vitrianda Hilba Siregar, · Jum'at 20 November 2020 14:10 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 20 65 2313034 sekolah-dibuka-januari-dpr-protokol-kesehatan-harus-ketat-PaWokp4Kf2.jpg Pembelajaran tatap muka di saat pandemi Covid-19 akan dibuka kembali Januari 2021. (Foto: Okezone)

JAKARTA – Pembelajaran tatap muka direncanakan akan dibuka kembali pada Januari 2021, mendatang.

Komisi X (Pendidikan) DPR pun mendukung rencana pemerintah tersebut dengan syarat penerapan protokol kesehatan yang ketat.

”Kami mendukung pembukaan sekolah untuk pembelajaran tatap muka. Tetapi hal itu harus dilakukan dengan protokol kesehatan ketat karena saat ini penularan wabah Covid-19 masih terus berlangsung. Bahkan menunjukkan tren peningkatan dalam minggu-minggu terakhir ini,” ujar Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda, Jumat (20/11/2020).

Baca Juga: Empat Perguruan Tinggi Sepakati Kuatkan Implementasi Kampus Merdeka

Dia menjelaskan, pembukaan sekolah tatap muka memang menjadi kebutuhan, utamanya di daerah-daerah. Hal ini terjadi karena pola pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak bisa berjalan efektif karena minimnya sarana prasarana pendukung seperti tidak adanya gawai dari siswa dan akses internet yang tidak merata. Padahal di satu sisi, para siswa harus tetap mendapatkan materi pembelajaran.

”Di beberapa daerah siswa selama pandemi Covid-19 benar-benar tidak bisa belajar karena sekolah ditutup. Kondisi ini sesuai dengan laporan terbaru World Bank (WB) terkait dunia pendidikan Indonesia akan memunculkan ancaman loss learning atau kehilangan masa pembelajaran bagi sebagian besar peserta didik di Indonesia,” katanya.

Baca Juga: Unsyiah Banda Aceh Gandeng ISMI Garap KEK Halal

Ancaman loss learning ini, kata Huda, tidak bisa dianggap remeh. Menurutnya, kondisi tersebut akan memunculkan efek domino dimana peserta didik akan kehilangan kompetensi sesuai usia mereka.

Hal itu juga telah disinggung dalam laporan Unicef tentang dampak pandemi bagi anak di Indonesia beberapa waktu lalu. Lebih parah lagi jika peserta didik kemudian harus putus sekolah karena tidak mempunyai biaya atau terpaksa harus membantu orang tua mereka. “Kami menerima laporan bahwa jumlah pekerja anak selama pandemi ini juga meningkat, karena mereka terpaksa harus membantu orang tua yang kesulitan ekonomi,” katanya.

Pembukaan sekolah dengan pola tatap muka, kata Huda akan mengembalikan ekosistem pembelajaran bagi para peserta didik. Hampir satu tahun ini, sebagian peserta didik tidak merasakan hawa dan nuansa sekolah tatap muka.

Baca Juga: Unpad Jadi Kampus Terbaik Hasilkan Artikel Ilmiah Umum dan Kesehatan

“Kondisi ini membuat mereka seolah terlepas dari rutinitas dan kedisiplinan pembelajaran. Pembukaan kembali sekolah tatap muka akan membuat mereka kembali pada rutinitas dan mindset untuk kembali belajar,” katanya.

Kendati demikian, Komisi X DPR, kata Huda, menegaskan jika pemerintah harus memastikan syarat-syarat pembukaan sekolah tatap muka terpenuhi. Di antaranya ketersediaan bilik disinfektan, sabun dan wastafel untuk cuci tangan, hingga pola pembelajaran yang fleksibel.

Penyelenggara sekolah juga harus memastikan jika physical distancing benar-benar diterapkan dengan mengatur letak duduk siswa dalam kelas. “Waktu belajar juga harus fleksibel, misalnya siswa cukup datang sekolah 2-3 seminggu dengan lama belajar 3-4 jam saja,” tuturnya. (Abdul Rochim)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini