Kolaborasi Jadi Kunci Pendidikan Vokasi Hadapi Tantangan Industri

Vitrianda Hilba Siregar, · Jum'at 20 November 2020 14:51 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 20 65 2313076 kolaborasi-jadi-kunci-pendidikan-vokasi-hadapi-tantangan-industri-kVIQVg4DtL.jpg Pendidikan vokasi fashion. (Foto: Abdul Rochim/Inews.id)

KUDUS - Konsep dasar pendidikan vokasi sejatinya harus benar benar memprioritaskan link and match dengan industri.

Lantas, untuk memperkuat link and match maka diperlukan adanya inkubasi dan pendampingan. Dengan begitu lulusan SMK harus menjawab tantangan dunia industri pada hari ini.

Hal ini disampaikan Pimpinan MataAir Foundation Muhammad Abdul Idris pada kegiatan "Santri Talking Fashion; Opportunity and Challenges" yang diselenggarakan di SMK PGRI 1 Kudus, Jumat (20/11/2020).

Baca Juga:  Sekolah Dibuka Januari? DPR: Protokol Kesehatan Harus Ketat

Muhammad Abdul Idris melanjutkan, harus ada kolaborasi yang solid antara SMK, pemerintah dengan industri dalam menyusun roadmap pengembangan dunia pendidikan vokasi khususnya di bidang fashion.

“SMK ini harus benar benar link and match. Jangan sampai hanya sampai kerjasama level MoU saja. Selain itu, kolaborasi pengembangan SMK adalah kunci. Kompetensi yang mumpuni di dunia fashion tetap harus didukung oleh skill tambahan yaitu komunikasi, jadi komunikasi dan kolaborasi,” ungkap Idris.

Baca Juga: Empat Perguruan Tinggi Sepakati Kuatkan Implementasi Kampus Merdeka

Sementara, Direktur Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi dan Pameran (MICE) Kemenparekraf Iyung Masruroh membagikan tips untuk mengembangkan pendidikan vokasi di bidang fashion guna merespons tantangan dunia industri. 

“Berani berbisnis dengan segala kreativitas yang kita miliki. Membuat desain yang payable. Dukungan pemerintah daerah juga dibutuhkan untuk membesarkan kreatifitas peserta didik dalam membangun ketepatan brand yang dipilih serta target market yang harus menjadi perhatian,” pungkas perempuan yang akrab disapa Iyung ini.

Pendidikan vokasi, kata dia, di hadapan perwakilan pelajar dan santri  sangat penting dengan perkembangan ke depan.

“Santri harus tetap berlaku moderat serta adil dan imbang dalam keseharian serta menilai segala sesuatunya. Misalnya, apabila menanggapi berita berita yang tidak jelas harus terlebih dahulu melakukan tabayyun, mencari sumber informasi dan tidak asal menyebarkan berita yang tidak jelas sumbernya,” tutup Iyung.

Baca Juga: Unsyiah Banda Aceh Gandeng ISMI Garap KEK Halal

Selanjutnya, Lisa Fitria yang merupakan Inovator Fashion SMK mengatakan bahwa dirinya ingin mengubah image bahwa santri itu keren, tidak kuno dan juga siap menjawab tantangan industri melalui dunia fashion desain.

“Saya berangkat dari pesantren, dan melanjutkan pendidikan juga di pesantren tetapi semua itu tak menghalangi mimpi saya untuk jadi fashion desainer hingga berada di titik ini, sehingga saya mencintai dan sangat excited untuk total berkontribusi membawa santri untuk berani terjun di dunia fashion nasional hingga internasional,” sambung Lisa. (Abdul Rochim)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini