ITS Berhasil Ciptakan Robot Pendeteksi Ranjau Laut

Vitrianda Hilba Siregar, · Senin 23 November 2020 20:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 23 65 2314791 its-berhasil-ciptakan-robot-pendeteksi-ranjau-laut-lgfKYejKcu.jpg Tim UTS berhasil membuat robot pendeteksi ranjau laut. (Foto: ITS)

SURABAYA - Tim  Banyubramanta Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sukses menjadi jawara.

Mereka menjadi jawara pada ajang Technogine 2020 kategori ROUV (Remotely Operated Underwater Vehicle).

Mereka menunjukkan kepiawaiannya di bidang robotika. Dengan mengusung robot bawah air pendeteksi ranjau laut bernama Wikraluga, tim Banyubramanta ITS berhasil meraih juara pertama pada subtema Technology, Human, Environment. Lomba ini secara keseluruhan digelar secara daring.

Baca Juga: Unair Kembangkan Peran Bakteri Usus untuk Kesehatan Mental

Koordinator Tim Banyubramanta ITS Reza Maliki Akbar AMd ST menuturkan, Wikraluga adalah robot bawah air yang digunakan untuk mendeteksi serta membersihkan lautan dari keberadaan ranjau apung. Ranjau tersebut merupakan bekas dari peperangan yang terjadi di perairan Indonesia pada masa lampau.

“Keberadaan ranjau ini berbahaya bagi perairan Indonesia karena dapat mengancam biota laut, para nelayan, hingga kapal kargo dan penumpang,” kata Maliki, Senin (23/11/2020).

Baca Juga: PTIQ Bakal Menjadi Universitas di 2021

Keberadaan ranjau apung, lanjutnya, tersebar di laut wilayah Pulau Sumatera, Kepulauan Riau, Kalimantan, dan paling banyak terdapat pada laut di wilayah Pulau Jawa.

Ranjau apung sendiri biasa terdapat pada perairan air dangkal dengan kedalaman 3 meter. Pendeteksian ranjau apung oleh robot bawah air Wikraluga ini dilakukan oleh sensor sonar yang akan menangkap sinyal keberadaan benda asing.

Maliki menambahkan, robot Wikraluga akan mengidentifikasi lebih lanjut dengan kamera beresolusi 12 mp yang dibantu penerangan oleh senter selam.

Baca Juga: Cara Supaya Jurnal Ilmiah Bisa Langsung Lolos

Apabila objek benar berupa ranjau, maka inductive proximity sensor akan bekerja untuk mendeteksi keberadaan detonator atau komponen yang dapat menyebabkan ledakan.

“Detonator akan dicabut dengan gripper, kemudian rantai ranjau apung dipotong dan ranjau digiring oleh robot ke tepi pantai,” jelasnya.

Menurut Maliki, tepi pantai merupakan lokasi yang tepat untuk meledakkan ranjau. Alasan tersebut didasari karena pasir pantai dapat meredam ledakan dari ranjau. “Tidak di sembarang tepian, lokasi peledakan sendiri akan memilih di mana tidak ramai keberadaan orang,” ujarnya. (Aan Haryono)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini