Ternyata, Tingkat Stress Bisa Diukur dari Aplikasi di Ponsel

Vitrianda Hilba Siregar, · Selasa 24 November 2020 16:16 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 24 65 2315329 ternyata-tingkat-stress-bisa-diukur-dari-aplikasi-di-ponsel-Ubec8goec1.jpg Tingkat stres atau depresi kini bisa diukur lewat aplikasi ponsel. (Foto:Unpad)

BANDUNG - Gejala gangguan mental dapat diidap siapa saja, tak memandang usia dan profesi.

Gangguan mental mulai dari yang ringan hingga berat, mulai dari stres hingga depresi kini banyak diidap orang.

Kendati begitu, gangguan mental atau kejiwaan ini sangat jarang terdeteksi. Bahkan cenderung diabaikan. Padahal, bila sudah sampai tingkat depresi hingga gila, butuh waktu lama untuk proses penyembuhan. Penyebab, menganggap tabu periksa ke dokter atau dianggap bukan penyakit.

Baca Juga: Viral! Manager Lulusan S2 dan Sudah Haji Resign Jadi Tukang Balon Keliling

Tetapi, mulai saat ini, masyarakat bisa sedikit leluasa. Karena bisa mendeteksi kadar stres secara mandiri.

Dosen Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad) Irma Melyani Puspitasari daam keterangan tertulisnya Selasa (24/11/2020) menyebutkan, dia timnya telah mengembangkan aplikasi untuk mengukur tingkat stres dan deteksi dini gangguan jiwa.

Baca Juga: Kuliah Tatap Muka Dimulai 2021, Bagaimana Kampus Menyikapinya?

Aplikasi berbasis Android ini bisa digunakan mahasiswa ataupun masyarakat luas untuk mendeteksi tingkat stres secara efektif dan mudah.

Bersama dua dosen lainnya, Rano K. Sinuraya dari Fakultas Farmasi dan Witriani dari Fakultas Psikologi, mereka mengembangkan aplikasi yang diberi nama “De-Stres”. Aplikasi ini bisa diunduh secara gratis melalui platform Google Store di Android.

Irma menjelaskan, aplikasi “De-Stres” berfungsi untuk memonitor tingkat stres seseorang secara berkala. Dengan demikian, pengguna bisa mengetahui apakah dirinya berada pada kondisi stres atau tidak secara berkala. Ini bertujuan untuk mencegah stres yang berkepanjangan hingga gangguan mental.

“Kalau stres berkepanjangan akan dapat menimbulkan depresi,” kata Irma dalam siaran persnya.

Baca Juga: Trio Sekawan dari UI Kembangkan Aplikasi KRL untuk Penyandang Tuli

Sejak 2019, Irma dan tim mengembangkan aplikasi ini. Secara teknis, aplikasi ini berisi kuesioner yang dapat diisi oleh pengguna. Ada dua modul kuesioner yang tersedia. Satu modul untuk mengukur tingkat stres, sedangkan satu modul lagi untuk mengukur tingkat depresi.

Pengguna cukup memerlukan waktu sekira 5-10 menit untuk menjawab kuesioner yang diadaptasi dan divalidasi dari instrumen Perceived Stress Scale-10 (PSS-10) untuk modul tingkat stres, serta instrumen Beck Depression Inventory-II untuk modul tingkat depresi.

Hasil dari kuesioner tersebut akan menentukan apakah pengguna berada pada kategori stres ringan, sedang, atau berat. Aplikasi akan memberikan hasil kuesioner menggunakan jarum yang menunjuk pada warna tertentu, yaitu dimulai dari hijau hingga merah.

Bila jarum menunjuk ke warna cenderung merah, maka pengguna dikategorikan mengalami stres cukup berat.

Jika hasil menunjukkan kadar stres besar, aplikasi akan memberikan saran bagi pengguna untuk mengatasi permasalahan mental tersebut. Saran tersebut dimulai dari dorongan kepada pengguna untuk menceritakan permasalahannya kepada orang yang dipercaya hingga menyarankan untuk mendatangi profesional psikolog atau psikiater (dokter spesialis kesehatan jiwa).

Baca Juga: Halo Mahasiswa, Sudah Siap Kembali Kuliah Tatap Muka Mulai 2021?

Dosen yang mengajar mata kuliah Farmakoterapi Gangguan Syaraf dan Psikiatri ini mengatakan, kenyataan di lapangan, banyak mahasiswa ataupun masyarakat yang tidak terdeteksi memiliki gangguan mental. Hal ini yang menyebabkan banyak kasus bunuh diri diakibatkan stres yang berujung pada depresi.

Karena itu, alat ukur untuk mendeteksi kondisi stres dirancang dengan menggunakan model aplikasi pada telepon seluler. Diharapkan, alat ukur berbasis aplikasi di ponsel ini lebih mudah dan efektif digunakan untuk pengguna.

“Karena secara berkala, nanti di aplikasi akan ada history-nya. Idealnya bisa digunakan sebulan sekali,” kata Irma. Aplikasi ini sudah banyak dimanfaatkan ribuan orang. (Arif Budianto)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini