Takut Covid-19, Suku Anak Dalam Berbondong Kembali ke Hutan

Rudi Ichwan, iNews · Kamis 26 November 2020 19:55 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 26 340 2316912 takut-covid-19-suku-anak-dalam-berbondong-kembali-ke-hutan-fsIrsINOw3.JPG Warga SAD berbondong masuk kembali ke hutan (Foto: iNews/Rudi)

JAMBI - Rumah-rumah Suku Anak Dalam (SAD) di kawasan terpadu mandani (KTM) di Desa Lubuk Jering, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi banyak ditinggal sementara.

Mereka masuk hutan untuk menghidari terjangkit Covid-19. Di dalam hutan, mereka mencari kehidupan dengan berburu dan mencari rotan.

KTM merupakan kompleks perumahan untuk SAD yang fasilitasnya sangat lengkap di Provinsi Jambi. KTM ini diresmikan tahun 2019 lalu dengan luas sepuluh hektare, berada di pingir Taman Nasional Bukit Dua Belas.

Ada 57 rumah yang diperuntukan untuk SAD serta dilengkapi sarana sekolah, tempat ibadah, kesehatan dan olahraga.

Baca Juga: Sebaran 4.917 Kasus Covid-19 di 34 Provinsi, DKI dan Jabar Tertinggi

Dari 57 rumah yang selama dua tahun terakhir didiami SAD, kini yang didiami hanya tiga rumah. Menurut Temenggung Bebayang, rumah rumah yang kosong tersebut ditinggal sementara, mereka kembali ke hutan untuk mencari makanan dan menghindari terjangkit virus Covid-19 dari orang luar.

"Sebenarnya, dibangunnya kompleks perumahan untuk SAD ini melalui kajian yang cukup matang. Karena harus disesuaikan dengan keinginan dan kebiasaan SAD serta keberlanjutannya di masa datang," jelas Kepala Bappeda Kabupaten Sarolangun, Lukman.

Menurut Lukman, belajar dari pengalaman selama ini banyak proyek perumahan yang dibangun tidak ditempati SAD, karena tidak sesuai dengan kebiasaan dan keinginan SAD akhirnya proyek tersebut mubazir.

"Keinginan SAD bangunan rumah terbuat dari kayu, pondasi bertiang. Mereka kurang nyaman rumah terbuat dari batu yang di semen," jelasnya.

Paling penting, SAD harus diberi lahan perkebunan, untuk kehidupan selanjutnya. Ketika mereka punya lahan perkebunan, kehidupan terjamin, mereka akan betah hidup di pemukiman.

"Sebagian besar SAD masih hidup nomaden dan mengandalkan kehidupan dari berburu, mencari rotan dan getah," jelas Menejer Warsih untuk SAD, Robert Aritonang.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini