Akibat Pandemi Covid-19, Emisi Gas Rumah Kaca Turun Drastis Sepanjang Sejarah

Susi Susanti, Koran SI · Sabtu 12 Desember 2020 05:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 11 18 2326047 akibat-pandemi-covid-19-emisi-gas-rumah-kaca-turun-drastis-sepanjang-sejarah-jq1sS9YH3G.jpg Foto: Shutterstock

INGGRIS - Penguncian dan pembatasan akibat Covid-19 dianggap berhasil menurunkan emisi global CO2 hingga 7% pada tahun ini.

Studi ini menemukan pandemi virus corona telah menyebabkan penurunan emisi gas rumah kaca tahunan terbesar yang pernah tercatat.

Penelitian ini dilakukan oleh para peneliti di Universitas East Anglia (UEA), Universitas Exeter dan Proyek Karbon Global. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Earth System Science Data.

Penguncian dan pembatasan perjalanan karena Covid-19 menyebabkan tingkat emisi anjlok hingga 2,4 miliar ton pada 2020. Angka emisi global diyakini sekitar 34 gigaton, atau turun tujuh persen dari tahun lalu. Satu gigaton sama dengan 1.000.000.000 ton.

Analisis menunjukkan, Inggris mengalami salah satu penurunan emisi terbesar di negara mana pun dengan penurunan 13 persen dibandingkan dengan 2019.

Hal ini disebabkan pengurangan besar-besaran di bidang transportasi yang menjadi sumber polusi iklim terbesar di negara tersebut. Lalu penerapan penguncian dan pembatasan berskala nasional.

Pada Desember tahun ini, emisi global dari transportasi jalan raya masih 10 persen di bawah level 2019 dan polusi penerbangan 40 persen lebih rendah dari tahun lalu.

(Baca juga: Mengharukan, Tiga Tahun Berpisah, Keluarga Uighur Ini Bisa Kembali Bersatu)

Adapun tingkat emisi di AS turun sekitar 12 persen dan di EU27 ada penurunan 11 persen. Sedangkan di China, perkiraan penurunan hanya 1,7 persen.

Para peneliti memperingatkan, emisi diperkirakan akan meningkat lagi pada 2021 dan pemotongan berkelanjutan sebesar 1-2 miliar ton emisi karbon dioksida tahunan diperlukan setiap tahun dalam dekade ini untuk mengekang kenaikan suhu.

Profesor Corinne Le Quere, dari UEA, mengatakan semua elemen belum ada untuk penurunan berkelanjutan dalam emisi global, dan emisi perlahan-lahan kembali ke level 2019.

“Tindakan pemerintah untuk merangsang ekonomi di akhir pandemi Covid-19 juga dapat membantu menurunkan emisi dan mengatasi perubahan iklim,” terangnya.

Dia mengatakan di Inggris, tindakan pada transportasi akan membantu membatasi peningkatan emisi di tahun-tahun mendatang.

“Menghentikan rebound sekarang harus dilakukan dengan mendorong berjalan kaki, bersepeda dan sepeda listrik jika Anda ingin melakukannya dengan cepat pada tahun 2021, dan dalam jangka panjang, ini tentang mobilitas listrik,” katanya.

Sementara itu, peneliti utama Profesor Pierre Friedlingstein, dari Universitas Exeter, mengatakan pihaknya berada dalam posisi unik sekarang, bukan hanya karena pandemi Covid-19, tetapi karena kebijakan iklim yang sudah ada sebelumnya, yakni kesepakatan hijau baru dan komitmen nol bersih.

“Negara-negara yang bertanggung jawab atas 50-60 persen emisi global berkomitmen ke nol bersih, dan akan ada stimulus ekonomi besar yang sedang diproduksi,” terangnya.

“Semua gabungan ini adalah kesempatan unik untuk benar-benar mengatasi dan memecah emisi karbon dioksida jangka panjang ini dan karenanya perubahan iklim,” ujarnya.

Penelitian tersebut bertepatan dengan ulang tahun kelima Perjanjian Paris yang bermaksud untuk menjaga pemanasan global di bawah 2 derajat Celcius dari tingkat pra-industri.

Sebelumnya, sebuah laporan PBB baru-baru ini menemukan penurunan emisi di seluruh dunia terjadi pada tahun ini karena penguncian Covid-19 telah menurunkan prediksi suhu tahun 2050 hanya 0,01 persen.

Laporan tersebut memperingatkan Bumi masih berpacu untuk mencapai bencana pemanasan hingga 3,2 derajat Celcius pada tahun 2100, karena penurunan singkat emisi gas rumah kaca tidak akan secara signifikan mempengaruhi perkiraan jangka panjang.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini