Mahasiswa Universitas Bakrie Soroti Tingginya Kasus Pelecehan Seksual

Rani Hardjanti, Okezone · Sabtu 12 Desember 2020 10:54 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 12 65 2326298 mahasiswa-universitas-bakrie-soroti-tingginya-kasus-pelecehan-seksual-f8xIEjXYZg.jpg Pelecehan Seksual terhadap Anak (Foto: Shutterstock)

JAKARTA — Para predator pelecehan seksual tak pernah pandang bulu tentang siapa yang hendak dijadikan mangsa. Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA) oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menyatakan bahwa per-tahun 2020, terdapat 6.427 jumlah kasus kekerasan seksual dengan%tase korban perempuan sebanyak 78,8% dan laki-laki sebesar 21,2%.

Selain tak memandang gender, kasus ini pun nyatanya tak mengenal kelompok usia. Jika ditilik berdasarkan rentangnya,%tase jumlah kasus pelecehan seksual paling banyak terjadi pada korban anak dengan usia 13-17 tahun, yaitu sebanyak 32,8%.

Baca Juga: Lecehkan Siswinya, Guru Silat Paksa Korban Berfoto Tanpa Busana

Kasus kekerasan seksual terhadap anak rupanya sudah sejak lama terjadi. Sepanjang tahun 2010 hingga 2015, Komisi Perlindungan Anak merangkum bahwa angka kekerasan terhadap anak mencapai 21,9 juta kasus, yang mana separuh dari jumlah tersebut ialah tindak kejahatan seksual. Data ini diperkuat oleh laporan akhir tahun Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (Komnas PA) yang mencatat bahwa terdapat 817 kasus kekerasan seksual pada anak terjadi di tahun 2013. Yang lebih mengejutkan, para pelaku kekerasan seksual berasal dari circle terdekat sang anak. Jika kelompokkan berdasarkan jenis tempat kejadian perkara, kekerasan terhadap anak yang terjadi di lingkungan keluarga mencapai 24%, sedangkan kekerasan di lingkungan sosial dan sekolah masing-masing menduduki angka 56 dan 17%.

Baca Juga: Modus Ingin Transfer Ilmu Kharismatik, Guru Silat Lecehkan Siswinya

Ada banyak faktor mengapa usia anak rentan menjadi sasaran tindak kekerasan, khususnya kekerasan seksual. Perasaan takut untuk menyangkal dan membela diri dari perbuatan para predator membuat sang anak terjebak dalam ketidakberdayaan. Lemahnya posisi tersebut membuat anak membutuhkan pihak lain sebagai pijakan bagi mereka dalam menghadapi kasus pelecehan yang dihadapi. Keluarga dinilai sebagai tempat teraman untuk mencari perlindungan, namun sayangnya tidak sedikit pula keluarga yang gagal menjalankan fungsi sosialnya dengan baik. Peran keluarga sering kali justru menjadi bumerang bagi problematika sang anak, mengingat kasus kekerasan seksual sendiri masih dianggap sebagai pemahaman yang tabu oleh sebagian besar orang tua di Indonesia.

Menanggapi fenomena tersebut, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie—yang tergabung di dalam sebuah kampanye sosial bernama Jangan Ragu—menghadirkan sebuah Web Seminar (webinar) bertajuk “Ruang Bicara Vol. 6: The Role of Family in Sexual Harassment Issue” pada hari Sabtu, 12 Desember 2020 mendatang. Pada serial webinar kali ini, tim Jangan Ragu mengundang dua pembicara sebagai pengisi materi, di antaranya adalah Mirana Hanathasia MMediaProc, seorang dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Bakrie, dan Poppy R. Dihardji selaku Redaksi Perempuan Berkisah.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini