Penyelarasan Kurikulum Pendidikan Vokasi Minimalisir Kesenjangan Iduka

Vitrianda Hilba Siregar, · Rabu 16 Desember 2020 12:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 16 65 2328608 penyelarasan-kurikulum-pendidikan-vokasi-minimalisir-kesenjangan-iduka-SWoG4c4eKg.jpg Kurikulum penididikan tinggi vokasi masih perlu dibenahi untuk menselaraskan dunia usaha dan industri. (Foto: Tangkapan Layar)

JAKARTA- Kesenjangan kompetensi yang dimiliki mahasiswa atau lulusan vokasi dengan kompetensi terbuka yang dibutuhkan Industri, dunia usaha, dan dunia kerja (IDUKA) masih menjadi persoalan yang mendasar.

Nah berbagai cara pun dilakukan untuk semakin meminimalisir kesenjangan tadi. Salah satu caranya menginisiasi program Asesmen Keselarasan Kurikulum Pendidikan Tinggi Vokasi dengan Industri, Dunia Usaha, IDUKA.

Baca Juga: Kreasi Digitalisasi Museum Karya Pelajar SMK di Malang Buat Nyaman Berwisata Virtual

Program ini digagas Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Dit Mitras DUDI), Ditjen Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Program ini dibeberkan dalam webinar “Vokatalks Episode 2: Kurikulum Vokasi yang Menyejahterakan” pada Selasa (15/12/2020).

Webinar ini menghadirkan Direktur Mitras DUDI Ahmad Saufi, pakar soft skill Dwi Sulistyorini Amidjono, pakar kurikulum vokasi Sandra Aulia; Pelaksana Program Asesmen Keselarasan Kurikulum dengan IDUKA Nunung Martina, dan Guru Besar Bidang Sustainability dan Supply Chain Management Coventry University, Inggris Prof Benny Tjahjono.

Baca Juga: Menghidupkan Budaya Literasi Bisa Ciptakan Anak Bangsa yang Cerdas

Membuka diskusi, Saufi menjelaskan, kurikulum merupakan perwujudan dan strategi program studi dalam mencapai tujuan pendidikannya. Kurikulum merupakan faktor penting yang menentukan keselarasan lulusan vokasi dengan kebutuhan kompetensi IDUKA.

Saufi menyebut, selama ini kurikulum di PTV telah dibangun dengan proses panjang. Namun, di sisi lain, IDUKA mengalami kemajuan yang sangat pesat, dari mulai teknologi, infrastruktur, bisnis digital, hingga keterbukaan pasar. Maka dari itu, pendidikan vokasi membutuhkan kurikulum yang up to date dengan industri.

“Hasil dari asesmen kurikulum berupa profil kesenjangan kompetensi, yang selanjutnya digunakan untuk melakukan tinjau ulang kurikulum dan sarana-prasarana. Langkah asesmen ini penting dilakukan agar efektivitas dan efisiensi pendidikan vokasi meningkat,” tuturnya.

Saufi menyebut, dalam penyusunan kurikulum, PTV wajib untuk melibatkan industri sehingga terwujud link and match. Ia kemudian mencontohkan pola pendidikan di Eropa yang mampu menjadikan vokasi sebagai primadona bagi masyarakat lantaran dapat menjamin lulusannya untuk siap kerja di industri.

Sementara di Indonesia pendidikan vokasi masih dianggap sebagai pendidikan kelas dua, belum lagi masih rendahnya kepercayaan masyarakat dan DUDI terhadap output lulusan vokasi.

Hal senada disampaikan Prof Benny Tjahjono. Menurutnya, pendidikan vokasi di setiap negara memiliki ciri khas masing-masing. Pola pendidikan vokasi di Inggris belum tentu cocok diterapkan di Tanah Air. Pasalnya, mutu pendidikan vokasi di Indonesia belum sepenuhnya merata, sehingga harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.

“Skill vokasi terdiri atas hard skill yang merupakan kemampuan teknis, dan soft skill yang merupakan keterampilan seperti berkomunikasi, berpikir kritis, dan problem solving. Namun, kemampuan lain yang menurut saya penting dimiliki oleh lulusan vokasi adalah entrepreneur skill. Dengan kemampuan ini, lulusan vokasi dapat menciptakan atau membuka lapangan kerja sendiri,” ucap Benny. 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini