10 Calon Petahana Tumbang Pada Pilkada Serentak di Jatim, Ini Faktornya

INews.id, · Minggu 20 Desember 2020 15:58 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 20 519 2331065 10-calon-petahana-tumbang-pada-pilkada-serentak-di-jatim-ini-faktornya-tfRIcSPCxk.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

SURABAYA - Sebanyak 10 petahana di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2020 di Jawa Timur (Jatim) tumbang. Berdasarkan hasil final rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (KPU), 10 dari 19 daerah penyelenggara pilkada serentak itu kalah dari pendatang baru.

Ke-10 daerah tersebut yakni Jember, Ponorogo, Lamongan, Gresik, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Pacitan. Selain itu di Kabupaten Banyuwangi, Kota Pasuruan, Situbondo dan Kabupaten Mojokerto.

Di Kabupaten Jember misalnya, Bupati Faida dan Dwi Arya Nugraha Oktavianto yang di Pilkada 2020 harus maju lewat jalur independen tumbang. Pasangan ini kalah dari Hendy siswanto-KH Muh Barya Firjaun Barlaman.

BACA JUGA: 7 Calon Petahana di Jawa Timur Ikut Pilkada Serentak 2020

Lalu Ponorogo, petahana Bupati Ipong Muchlissoni yang kali ini menggandeng Bambang Tri Wahono kalah dari penantangnya, Sugiri Sancoko-Lisdyarita.

Kabupaten Blitar, Bupati Rijanto dan Marhaenis juga kalah. Pasangan ini tertinggal dari penantangnya Rini Syarifah-Santoso.

Selanjutnya Wakil Wali Kota yang kini menjabat sebagai Wali Kota Pasuruan, Raharto Reno Prasetyo dan Mochammad Hasjim pun tumbang. Pasangan calon ini kalah dari mantan Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf yang berpasangan dengan Adi Wibowo.

Sementara di Gresik, Wakil Bupati Qosim yang berpasangan dengan Askuchul Alif pun kalah dari Pasangan Calon Fandi Ahmad Yani-Aminatun Habibah.

Di Lamongan, Wakil Bupati Kartika Hidayati yang menggandeng Saim juga kalah. Pasangan calon ini tertinggal dari mantan Sekda Kabupaten Lamongan Yuhronur Efendi yang berduet dengan Abdul Rouf.

Direktur Surabaya Survei Center (SSC), Mochtar W Oetomo mengatakan, kekalahan petahana ini menandakan tingkat ketidakpuasan masyarakat. Ponorogo misalnya, survei sebelum hari pemungutan suara kepuasan masyarakat terhadap Bupati Ipong kurang bagus.

BACA JUGA: Kasus Covid-19 di Surabaya Melonjak, Risma Patroli Naik Motor Ingatkan Warga

Kemudian di Jember, konflik yang berlarut antara legislatif dengan Bupati Faida menyisakan problem. Selain juga tidak adanya partai yang mendukung Faida.

"Persoalannya adalah Pilkada serentak 2020 bersamaan dengan merebaknya pandemi Covid-19. Pandemi menyisakan banyak problem di kalangan pemerintahan baik pusat, regional maupun lokal, karena kompleksnya persoalan," ujarnya.

Mochtar menyebutkan, kebanyakan memang pemerintah daerah tidak bisa menjawab ekspektasi dan harapan dari masyarakat. Mereka ingin melihat seluruh persoalan di masa pandemi cepat selesai.

"Maka wajar rata-rata dari berbagai hasil tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan pada masa ini relatif rendah. Itu berimplikasi pada pilkada, banyak calon-calon yang tidak bisa menjawab ekspektasi masyarakat itu kemudian kalah," katanya.

Harusnya, kata dia, masa kampanye yang singkat lebih menguntungkan petahana. Pasalnya, dari segi kesiapan lebih panjang karena telah menjabat.

Namun, Mochtar tak memungkiri ada sejumlah faktor lain yang membuat kemenangan calon bukan petahana. Di Kabupaten Mojokerto contohnya, sosok KH Asep Saifuddin Chalim yang juga dikenal dekat dengan Gubernur Khofifah Indar Parawansa memberikan efek elektoral pada pasangan calon Ikfina-Barra.

Selain figur Ikfina yang mengingatkan masyarakat pada suaminya saja. "Meski mantan Bupati Mojokerto MKP (Mustofa Kemal Pasa) tersandung kasus di KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tetapi masyarakat melihatnya sebagai sosok yang memberikan efek pembangunan yang besar bagi masyarakat, seperti jalan dan sektor pariwisata," katanya.

Berikut hasil rekapitulasi di tingkat KPU di sepuluh kabupaten/kota menurut data KPU Jatim.

Jember

Faida-dwi Arya Nugraha oktavianto 31,27 persen

Hendy siswanto-KH Muh Barya Firjaun Barlaman 46,6 persen

Abdus Salam-Ifan Ariatna Wijaya 22,13 persen

Gresik

Qosim-Askuchul Alif 49,02 persen

Fandi Ahmad Yani-Aminatun Habibah 50,98 persen

Ponorogo

Sugiri Sancoko-Lisdyarita 61,75 persen

Ipong Muchlissoni-Bambang Tri Wahono 38,25 persen

Pacitan

Indrata Nur Bayu Aji-Gagarin 74,88 persen

Yudi Sambogo-Isyah Ansori 25,12 persen

Kota Pasuruan

Saifullah Yusuf-Adi Wibowo 67,93 persen

Raharto Reno Prasetyo-Mochammad Hasjim Asjari 32,07 persen

Kab Blitar

Rijanto-Marheinis 41,16 persen

Rini Syarifah-Santoso 58,84 persen

Situbondo

Karna Suswandi-Khoirani 52,98 persen

Yoyok Mulyadi-Abu Bakar Abdi 47,02 persen

Kab Mojokerto

Ikfina Fahmawati-Muhammad Albarraa 65,23 persen

Yoko Priyono-Choirun Nisa 15,37 persen

Pungkasiadi-Titik Masuda 19,39 persen

Lamongan

Suhandoyo-Astiti Suwarni 37,55 persen

Yuhronur Efendi-Abdul Rouf 42,54 persen

Kartika Hidayati-Saim 19,91 persen

Banyuwangi

Yusuf Widyatmoko-Muhammad Riza Azizi 47,57 persen

Ipul Fiestiandani Azwar Anas-Sugirah 52,43 persen

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini