Bupati Sleman: Awan Panas Merapi Tidak Menganggu Aktivitas Masyarakat

Antara, · Kamis 07 Januari 2021 15:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 07 510 2340532 bupati-sleman-awan-panas-merapi-tidak-menganggu-aktivitas-masyarakat-vlreitVJuy.jpg Awan panas Gunung Merapi. (Foto: BPPTKG)

SLEMAN - Bupati Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Purnomo menyebutkan bahwa kejadian luncuran awan panas dari Gunung Merapi, pada Kamis (7/1/2021), pukul 08.02 WIB, tidak mengakibatkan terganggunya aktivitas masyarakat di daerah itu.

"Luncuran awan panas Merapi tadi pagi tidak sampai mengganggu aktivitas masyarakat, jarak luncuran hanya sekitar 200 meter," kata Sri Purnomo di Sleman, Kamis.

Menurut dia, meski telah terjadi luncuran awan panas dan lava pijar, Pemkab Sleman sampai saat ini masih berpegang pada rekomendasi dari BPPTKG Yogyakarta, yakni status Siaga atau Level III.

"Rekomendasi BPPTKG untuk radius aman masih berjarak tiga kilometer dari puncak Merapi. Untuk Sleman yang masuk radius tersebut sudah dilakukan pengungsi terhadap warga kelompok rentan," katanya.

Ia mengatakan, saat ini jumlah pengungsi di Barak Glagaharjo, Cangkringan yang merupakan warga kelompok rentan dari Dusun Kalitengah Lor ada 350 jiwa. "Total warga Kalitengah Lor sekitar 500 jiwa, telah mengungsi merupakan warga kelompok rentan," katanya.

Sri Purnomo mengatakan pihaknya saat ini juga sudah siap jika status aktivitas Gunung Merapi dinaikkan menjadi Awas.

"Kami sudah siap jika ada sinyal aktivitas Merapi naik, saat ini sudah disiapkan 12 barak pengungsian mulai dari Kecamatan Cangkringan, Pakem hingga Turi," katanya.

Ia mengatakan, masing-masing barak yang telah disiapkan tersebut, memiliki kapasitas 100 jiwa, sehingga total mampu menampung 1.200 pengungsi.

"Semua barak sudah didesain sesuai protokol kesehatan Covid-19, ada sekat-sekat atau bilik di tiap barak pengungsian. Semua sudah sesuai protokol kesehatan," ujar dia.

Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta pada Kamis pagi mengeluarkan awan panas guguran pertama dengan tinggi kolom asap 200 meter dari puncak.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida mengatakan awan panas guguran yang terekam di seismogram pada pukul 08.02 WIB itu memiliki durasi 154 detik dengan amplitudo maksimum 28 mm.

"Karena cuma 154 detik dan amplitudonya 28 mm, jadi ini awan panas pertama kecil yang terjadi," kata Hanik.

Baca juga: Gunung Merapi Terus Luncurkan Awan Panas

Karena tertutup kabut, menurut dia, jarak luncur awan panas guguran tidak teramati. Namun, mengacu durasinya, ia memperkirakan jarak luncur masih kurang dari satu kilometer dari puncak.

"Karena itu kan tertutup kabut, dari atas kelihatan di pucuknya saja. Kalau melihat durasinya ini jaraknya pendek, ya kurang dari satu kilometer," kata dia.

Hanik memperkirakan munculnya awan panas itu berasal dari gundukan yang beberapa waktu lalu terpantau di puncak Gunung Merapi.

Ia belum memperoleh laporan adanya hujan abu akibat guguran itu. Karena volume awan panas belum dalam skala besar, ia menilai potensi munculnya hujan abu masih kecil.

Hingga saat ini, BPPTKG masih mempertahankan status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga. Potensi bahaya akibat erupsi Merapi diperkirakan maksimal dalam radius lima kilometer dari puncak.

"Potensinya belum sampai lebih dari lima kilometer," ujarnya.

Hanik mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Merapi meningkatkan kewaspadaan mengingat awan panas guguran pertama sudah muncul sejak status Siaga ditetapkan.

"Nanti perkembangannya kita terus pantau, masyarakat tetap ikuti informasi dan arahan dari pemerintah daerah," imbuh Hanik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini