Crash Sriwijaya dan Duka Kita Semua

Tim Okezone, Okezone · Selasa 12 Januari 2021 09:40 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 12 65 2342907 crash-sriwijaya-dan-duka-kita-semua-KeWUjgg2UR.jpg Suhendra Atmaja, Dosen STIKOM Inter Studi Jakarta

HATI kita pilu, sedih dan histeris saat mendapatkan informasi jatuhnya pesawat SJY 182, semua orang berduka dan terus memantau update jatuhnya pesawat yang sempat terpantau radar di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, Sabtu, (9/1/2021).

Simulasi proses jatuhnya pesawat yang beredar di media sosial membuat kita beristigfar, berfikir keras dan mengerutkan kening, apa yang sebenarnya terjadi atas jatuhnya pesawat dan dengan penerbangan kita ? Tanpa mencari kambing hitam tapi perlu solusi yang konstruktif untuk perbaikan penerbangan nasional.

Duka 62 keluarga korban adalah duka kita semua dan duka rakyat Indonesia, semua orang bersimpati atas tragedi ini, semua hanyut dalam kebersamaan doa, bermunajat agar semua korban husnul khotimah.

50 penumpang dan 12 Crew pesawat yang meninggal atas crash ini adalah guncangan duka yang hebat tidak hanya keluarga korban tapi juga dirasakan seluruh rakyat Indonesia, ditengah pendemi Covid-19 yang belum tuntas.

Tanggap, cepat, kerja keras dan tanpa kenal lelah, patut diberikan apresiasi bagi semua elemen yang terlibat dalam pencarian pesawat Sriwijaya air tanpa mengenal perbedaan strata sosial atau perbedaan politik apalagi perbedaan agama, semua bahu membahu mencari serpihan pesawat.

Respon nelayan dan warga kepulauan seribu yang memberikan informasi pertama kali dan membantu pencarian, menguatkan kita bahwa ini adalah empati dan simpati tanpa melihat strata sosial.

Berkat itu, tugas Basarnas yang terdiri atas angkatan laut, udara, kepolisian, semua elemen dan warga sekitar lebih mudah mencari titik jatuhnya pesawat dan benar saja, tak kurang satu hari, (10/1) tim pencari akhirnya menemukan serpihan SJY 182 dan posisi titik blackbox pesawat.

Doa tak henti-henti terus dipanjatkan, hingga kini. Empati dan simpati bagi keluarga korban terus mengalir.

Penulis sempat berbincang dengan seorang mantan penerbang senior di kawasan Jati waringin, yang kini memasuki masa pensiun. Menurutnya kecelakaan Pesawat atau crash bisa terjadi karena tiga (3) yaitu manusia, cuaca dan faktor teknis.

Tanpa terlalu dini menilai karena masih menunggu penyelidikan KNKT, mantan penerbang fighter yang juga rekan senior pilot Sriwijaya air (alm) Capt Afwan ini mengatakan bisa saja faktor teknis menjadi salah satu penyebab crash. Namun menurutnya pesawat komersil seharusnya secara rutin melakukan maintenance yang sudah terjadwal. "Pesawat tidak boleh terbang jika tidak layak dan hal ini harus mendapat rekomendasi dari Departemen perhubungan dan berdasarkan limitation,” katanya menjelaskan.

Menurutnya faktor pesawat tua dan tahun muda bukan menjadi faktor utama kecelakaan pesawat. "Pesawat tuapun jika dilakukan maintenace secara periodik, bisa diuprade. Pesawat lion air yang jatuh di Karawang itu pesawat baru," dia mengisahkan.

Yang terpenting dari pesawat terbang komersil, dalam faktor tehnis menurutnya adalah Sistim kendali kontrol_dan Electric session yang dipastian berfungsi dengan baik. "Lost contact itu karena sistim kelistrikan pesawat tidak berfungsi dengan benar," katanya.

Sebelum mengakhir pembicaraan, mantan penerbang pesawat tempur ini mengatakan, KNKT harus menjalankan tugasnya dengan baik dan mengungkap kebenaran penyebab crash SJY 182 dengan mengungkapnya lewat penemuan blackbox. Barulah darisana diharapkan diketahui secara terang benderang penyebab kecelakaan.

Duka Sriwijaya air adalah duka Rakyat Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan harus bekerjasama dengan Maskapai Sriwijaya dan pihak Asuransi agar penyelesaian tanggung jawab material bisa diselesaikan secara elegan tanpa menimbulkan kekisruhan atau masalah baru bagi keluarga korban, apalagi berlarut-larut.

Pihak keluarga diberi akses sebaik mungkin, sehingga penyelesaian dilakukan penuh tanggung jawab dan rasa empati dan simpati.

Sebagai masyarakat biasa, tentu kita tetap berdoa agar keluarga korban diberikan ketabahan dan kekuatan dan berharap tidak ada lagi penerbangan Indonesia yang mengalami Crash, aamiin. (*)

Penulis

Suhendra Atmaja

Dosen STIKOM InterStudi Jakarta

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini