8 Mahasiswa ITS Buat Alat Olah Biji Kemiri, Petani Langsung Jualan Online

Vitrianda Hilba Siregar, · Rabu 13 Januari 2021 15:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 13 65 2343763 8-mahasiswa-its-buat-alat-olah-biji-kemiri-petani-langsung-jualan-online-wVDedriMuv.jpg Alat pengelolah biji kemiri buatan mahasiswa ITS. (Foto:ITS)

JAKARTA - Desa Pakuan, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, memiliki sumber daya alam berupa tanaman kemiri yang berlimpah. Namun sayangnya belum termanfaatkan secara optimal.

Para petani menjual kemiri dengan harga Rp10.000 sampai dengan Rp20.000 per kilo. Padahal, jika diolah lebih lanjut bisa menghasilkan produk yang bernilai.

Untuk memanfaatkan kekayaan alam tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) dan tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Departemen Teknik Mesin Industri, Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membantu merancang alat pengolah biji kemiri menjadi minyak kemiri.

Teknologi Tepat Guna ini dirancang oleh tim Abmas dan KKN yang terdiri dari delapan mahasiswa dibimbing oleh Dedy Zulhidayat Noor ST MT PhD dan diterapkan di Desa Pakuan, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Delapan mahasiswa tersebut adalah Fitra Bagus Hendi Prabowo, Ngurah Gatot Saguna Wijaya, Mohamad Tedi Prasetiyo, Aditya Yoga Eka Nugraha, Diego Surya Dewangga, Wahyu Dwi Putranto, Rahmad Rahardian Dias Affandi, dan Amirah Cetta Elysia.

Baca Juga: SNMPTN 2021, Cara Registrasi dan Verifikasi Akun di LTMPT

“Jika dibandingkan dengan kemiri yang sudah diolah terpisah dari cangkang dan juga menjual minyak kemiri, maka para petani akan lebih mendapatkan keuntungan yang besar dengan memanfaatkan kekayaan alam secara optimal,” ujar Aditya Yoga Eka Nugraha, salah satu tim Abmas, seperti dilansir dari laman ITS, Rabu (13/1/2021).

Lebih lanjut, mahasiswa yang akrab disapa Yoga ini menyampaikan bahwa alat pengolah biji kemiri menjadi minyak kemiri dibuat dengan konsep proses manufaktur. Keunggulan alat tersebut, yaitu dapat memecah biji kemiri dengan jumlah banyak sekaligus dengan hasil yang bisa langsung diolah menjadi minyak kemiri.

“Alat ini sudah melalui pengujian terlebih dahulu sebelum dilakukan pengiriman ke Desa Pakuan,” jelasnya.

Kegiatan pengembangan alat yang telah dibuat selama empat bulan ini dilanjutkan dengan sosialisasi pengarahan penggunaan. Setelah alat tersebut sampai di Desa Pakuan, para petani langsung memanfaatkannya. “Bahkan beberapa telah menerima pesanan sejak produk ditawarkan, penjualan pun sudah masuk pasar online,” tutur pemuda yang juga anggota tim Nogogeni ITS ini.

Menurut Yoga, masyarakat Desa Pakuan sangat menyambut kehadiran alat pemecah biji kemiri ini. Mereka berharap dapat meningkatkan penghasilan desa dan juga mengembangkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) para petani biji kemiri di Desa Pakuan. Para petani juga menyampaikan bahwa mereka mengharapkan alat ini segera dikomersialkan dengan kuantitas lebih. Tim KKN dan Abmas Mahasiswa Teknik Mesin Industri Fakultas Vokasi ITS

“Semoga alat ini dapat menjadi jalan dalam membantu meningkatkan taraf hidup dan perekonomian petani melalui pengolahan komoditas unggul,” pungkasnya penuh harap

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini